Showing posts with label Foto Terkenal. Show all posts
Showing posts with label Foto Terkenal. Show all posts

Saturday, February 27, 2016

Petugas Pemadam Kebakaran dengan Bayi yang Terluka


Waktu: 19 April 1995
Tempat: Oklahoma City (Amerika Serikat)
Fotografer: Charles H. Porter IV

Pada tanggal 19 April 1995, Charles Porter sedang bekerja di bagian peminjaman Bank Liberty yang terletak di dekat pusat kota Oklahoma, Amerika Serikat. Tiba-tiba, "terdengar ledakan, ledakan yang sangat besar... suara menggelegar, seperti dentuman meriam super raksasa. Seluruh bangunan bergetar, sementara kaca jendela pecah dimana-mana. Kami segera melihat keluar jendela dan tampaklah debu dan puing-puing bertebaran di angkasa, diiringi oleh awan coklat raksasa yang membumbung tinggi."

Pikiran Porter langsung mengatakan bahwa sebuah bangunan telah meledak di sekitarnya. Dia - yang merupakan seorang fotografer amatir - segera pergi ke mobilnya dan mengambil kamera sebelum kemudian berlari menuju ke lokasi ledakan. "Terdapat banyak pecahan kaca yang berserakan di jalanan. Aku juga melihat beberapa tubuh telah tergeletak, dengan sebagiannya tak bernyawa. Seorang pria melintas tanpa memakai pakaian sementara darah mengalir dari kepalanya."

Ketika Porter berhasil mencapai bangunan pemerintahan Alfred P. Murrah yang menjadi lokasi ledakan, "seakan-akan seseorang telah mencukur habis bagian depannya dan kemudian mencongkel bagian tengahnya dengan sendok es krim. Kamu bisa melihat jelas melaluinya."

Porter langsung menjepretkan kameranya berkali-kali: gereja terdekat yang kaca berornamennya telah pecah berserakan, dan para penyelamat yang sibuk membawa orang yang terluka keluar dari lokasi ledakan. Kemudian, "aku lihat seseorang berlari di sudut mataku. Aku langsung berbalik dengan kameraku: terlihat seorang anggota kepolisian yang membawa sesuatu, lalu menyerahkannya ke petugas pemadam kebakaran. Si petugas berbalik, dan tampak dia sedang menggendong seorang bayi yang terluka parah. Dia memegangnya sambil melihatnya selama beberapa detik, dan saat itulah aku menjepretkan fotoku."

Hari itu tercatat sebagai salah satu serangan teroris terburuk dalam sejarah Amerika. Seorang veteran Perang Teluk bernama Timothy McVeigh meledakkan bom berkekuatan 4800 lbs. Sehingga meluluhlantakkan Gedung Pemerintah Federal Alfred P. Murrah. Ledakan itu telah melukai lebih dari 500 orang dan juga menewaskan 168 lainnya. Bayi yang berada dalam foto Porter tersebut adalah salah satu yang kehilangan nyawanya di hari itu. Baylee Almon yang baru berusia satu tahun.

Foto hasil Jepretan Porter kemudian memenangkan penghargaan Pulitzer tahun 1996 untuk kategori "Winner in Spot Photography".


Sumber :
http://www.newseum.org/2015/03/31/pulitzer-prize-photography-the-oklahoma-city-bombing/

Saturday, February 20, 2016

Manusia Penghadang Tank di Cina (1989)


Waktu: 5 Juni 1989
Tempat: Lapangan Tiananmen, Beijing (Cina)
Fotografer: Jeff Widener

"Tank Man", atau "Unknown Rebel", adalah sebuah julukan yang diberikan kepada seorang pengunjuk rasa di lapangan Tiananmen pada tanggal 5 Juni 1989. Orang yang hingga saat ini tidak diketahui namanya itu menjadi terkenal ketika aksi protesnya direkam, dipotret, dan dipublikasikan ke seluruh dunia. Dalam peristiwa tersebut, sang pengunjuk rasa berdiri menentang barisan tank Tipe 59 Tiongkok dan menghentikan lajunya.

Potret paling terkenal yang menggambarkan peristiwa ini adalah foto karya Jeff Widener (Associated Press) yang di ambil dari lantai ke-6 Beijing Hotel dengan lensa 400 mm. Versi terkenal lainnya adalah foto yang diambil oleh fotografer Stuart Franklin dari Magnum Photos. Foto karyanya memiliki jangkauan pandang yang lebih luas dari foto karya Widener dan memperlihatkan lebih banyak tank di depan sang Tank Man. Franklin juga berhasil memenangkan penghargaan World Press untuk foto itu. Foto tersebut juga termasuk ke dalam "100 Photos that Changed the World" (seratus foto yang mengubah dunia) versi majalah LIFE pada tahun 2003. Selain itu, peristiwa ini juga direkam dalam videotape oleh CNN dan BBC, dan telah disiarkan di seluruh dunia.

Baik foto maupun film tentang aksi sang Tank Man yang berdiri menentang barisan tank mendapat perhatian masyarakat seluruh dunia. Peristiwa tersebut menjadi berita utama di ratusan koran dan majalah dan siaran berita besar di seluruh dunia. Pada bulan April 1998, majalah TIME dari Amerika Serikat memasukan sang Tank Man sebagai 100 orang yang paling berpengaruh pada abad ke-20.

Peristiwa itu sendiri terjadi didekat Chang'an Avenue, yang membentang timur-barat sepanjang ujung selatan Kota Terlarang di Beijing, satu hari setelah tentara Cina melakukan kekerasan pada pengunjuk rasa di Lapangan Tiananmen. Pria itu berjalan di jalur kendaraan lapis baja. Dia memegang tas belanja di kedua tangannya.

Pria itu menunjuk ke tank yang mendekat, namun tak ditanggapi. Lama kelamaan keduanya saling mendekat. Orang-orang disekitar sudah menghalaunya untuk pergi, namun dia tak bergeming. Tanpa diduga, justru pasukan tank lah yang berhenti setelah berjarak sekitar 2 meter dari tempat pria itu berdiri.

Setelah berhenti, pria tersebut nampak melompat ke atas tank dan berbicara dengan awak di dalamnya. Percakapan pun selesai, dia melompat dan tank meneruskan jalannya. Tiba-tiba dua orang berseragam biru membawa pria itu dan menghilang di balik kerumunan. Banyak polemik mengenai hal ini, apakah dia dibawa oleh intel atau sipil. Hanya sedikit informasi mengenai pria itu. tabloid Inggris Sunday Express menulisnya sebagai Wang Weilin, seorang mahasiswa, 19 tahun yang kemudian dituduh sebagai perusuh oleh Partai Komunis Cina yang coba menumbangkan Tentara Pembebasan Rakyat. Namun hal ini dibantah oleh partai Komunis Cina lewat dokumen pribadi. Mereka malah tidak bisa menemukan pria tersebut. "Kami hanya tahu namanya dari wartawan. Setelah dicari identitasnya tetap tak ketemu. Apakah dia sudah mati atau dipenjara," tutur salah seorang anggota Partai Komunis China.

Keberadaan "The Tank Man" menjadi rumor yang hingga kini masih diperdebatkan. Ada yang bilang, dia dieksekusi 14 hari setelah peristiwa itu. Ada pula yang bilang dia masih hidup dan bersembunyi di dataran Cina. Siapapun dia, telah menjadi simbol peristiwa Tiananmen dan ikon abad 20.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Tank_Man
http://www.merdeka.com/dunia/rahasia-tersimpan-si-manusia-tank-di-tiananmen.html

Foto Paling Terkenal dalam Sejarah Olahraga (1965)


Waktu: 25 Mei 1965
Tempat: Lewiston, Maine (Amerika Serikat)
Fotografer: Neil Leifer

Pada tanggal 25 Mei 1965 Muhammad Ali meng-KO Sonny Liston dalam ronde pertama pertarungan ulang tinju kelas berat mereka - dan pada saat itulah fotografer Neil Leifer mengambil gambar yang kemudian tercatat sebagai "foto paling terkenal dalam sejarah olahraga".

Kelihatannya sesederhana itu, tapi pada kenyataannya tidaklah seperti yang terlihat, karena foto tersebut tak akan tercipta kalaulah tidak didahului oleh kejadian yang tidak menguntungkan bagi fotografernya.

Mungkin salah satu hal yang paling memberikan kontribusi - dan juga yang paling lucu - adalah bahwa posisi duduk Leifer saat mengabadikan momen tersebut semata didapatnya karena seorang fotografer yang lebih senior memerintahkannya (saat itu Leifer baru berusia 22 tahun) untuk pindah tempat duduk ke sisi ring, sementara posisi duduknya semula di dekat meja juri diklaim oleh sang fotografer senior yang bernama Herb Scharfman (dari Sports Illustrated) sebagai lokasi "langganannya". Tidak mau berdebat lebih lanjut, Leifer mengalah.

Ironisnya, ketika Liston terjatuh, satu-satunya yang bisa dilihat oleh Scharfman adalah punggung Ali (dalam foto Leifer terlihat jelas dia berada diantara kaki sang juara)!

Namun foto Leifer sendiri belum menceritakan semuanya. Kita melihat Ali menang. Namun Ali frustrasi dan malah meminta Liston bangkit lagi! Dia pikir Liston pura-pura jatuh dan menyerah kalah. Mungkin saja memang begitu. Kalaupun ada pukulan yang menjatuhkan Liston, tak ada yang melihatnya secara pasti. Yang jelas, Hingga detik ini belum jelas apakah Liston dengan sengaja menjatuhkan diri. Liston sendiri mengklaim bahwa ia terlalu takut dengan organisasi Nation of Islam (dimana Ali menjadi anggotanya), sehingga menyebabkan dia ingin pertarungan berakhir secepat mungkin walaupun dia adalah pecundangnya.

Sumber :
http://www.news.com.au/sport/sports-life/the-story-behind-the-greatest-photograph-in-sports-history/news-story/781e32670a84a2bfadcfb494eb0a924d

Friday, February 19, 2016

Bayi Menangis di Stasiun Kereta Api Shanghai (1937)


Waktu: 14 Agustus 1937
Tempat: Shanghai (Cina)
Fotografer: H.S. Wong

"Bloody Saturday" (Sabtu Berdarah) adalah nama dari sebuah foto hitam-putih yang dipublikasikan secara luas pada bulan September-Oktober 1937 dan dalam waktu kurang dari satu bulan telah dilihat oleh lebih dari 136 juta pembaca! Foto ini memperlihatkan seorang bayi Cina yang menangis diantara puing-puing Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan, dan menjelma menjadi sebuah perlambang keganasan tentara Jepang di Cina. Diambil hanya beberapa menit setelah sebuah serangan udara Jepang yang mentargetkan warga sipil di Shanghai, fotografer H.S. "Newsreel" Wong dari Hearst Corporation (juga dikenal dengan nama Wong Hai-Sheng atau Wang Xiaoting) mengklaim bahwa dia tidak mengenali siapa si bocah yang terluka tersebut (atau bahkan jenis kelaminnya), hanya bahwa dia menangis di dekat tubuh ibunya yang telah tak bernyawa. Foto ini menjadi salah satu foto perang paling terkenal dalam sejarah, dan juga berhasil menggiring kebencian warga Barat pada pihak Jepang yang saat itu menginvasi negara Cina. Jurnalis Harold Isaacs bahkan menjuluki foto tersebut sebagai "salah satu bahan propaganda paling sukses sepanjang masa"!

Wong mengambil gambar Stasiun Selatan yang telah luluh lantak akibat dibombardir menggunakan kamera bergerak Eyemo, sementara untuk fotonya dia menggunakan kamera Leica. Foto yang sangat terkenal ini - yang diambil dari kamera Leica-nya - seringkali dirujuk bukan pada namanya, melainkan gambaran visual yang tercipta olehnya. Selain dari "Bloody Saturday", foto ini juga kerapkali diberi judul "Motherless Chinese Baby" (bayi Cina tak beribu), "Chinese Baby" (bayi Cina), atau "The Baby in the Shanghai Railroad Station" (bayi di Stasiun Kereta Api Shanghai). Pihak nasionalis Jepang sendiri murka atas tersebar luasnya foto tersebut dan menuduhnya sebagai sebuah foto sandiwara yang sengaja dirancang untuk mendiskreditkan negara mereka dan mengucilkannya dari pergaulan dunia internasional. Mereka bahkan membuka sayembara bagi siapa saja yang bisa membunuh sang fotografer maka akan diberikan uang sejumlah $50.000 (senilai dengan $820.000 di tahun 2016!).


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Bloody_Saturday_%28photograph%29

Tragedi Terbakarnya Balon Udara Hindenburg (1937)


Waktu: 6 Mei 1937
Tempat: Stasiun Angkatan Udara Lakehurst, New Jersey (Amerika Serikat)
Fotografer: Sam Shere

Pada tanggal 6 Mei 1937, pukul 19:25 balon gas raksasa Jerman dari jenis Zeppelin bernama Hindenburg musnah terbakar dalam tempo beberapa menit saja ketika sedang mencoba untuk berlabuh dengan tiang pengikat di Stasiun Angkatan Udara Lakehurst di New Jersey, Amerika Serikat. Dalam kejadian yang terkenal itu, dari keseluruhan 97 penumpang yang menaiki Hindenburg, sebanyak 35 jiwa diantaranya tewas.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg merupakan pesawat terbesar yang pernah dibangun pada saat itu. Pesawat itu dinamakan menurut Presiden Jerman Paul von Hindenburg, sebagaimana kebiasaan untuk menamakan semua kapal udara Jerman dengan nama lelaki. Kapal udara LZ-129 Hindenburg menggunakan rancangan terkini dengan menggunakan aluminium, berukuran sepanjang 245 meter, diameter 41 meter, dan mengandung 211.890 meter persegi gas hidrogen dalam 16 kampit atau sel. Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai daya angkut 112 ton, mempunyai empat mesin diesel berkekuatan 1100 tenaga kuda dengan kecepatan 135 kilometer per jam. Hindenburg mampu membawa 72 orang (50 orang jika menyeberangi Samudra Atlantik) dengan 61 awak kapal.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai bentuk yang licin dan menarik. Untuk mempertahankan bentuk yang aerodinamis, bagian penumpang terletak di dalam kantong udara dan bukan di luar. Hindenburg dilapisi dengan kain kapas yang disapu dengan campuran varnis selulus dan aluminium. Hindenburg dibangun oleh Luftschiffbau Zeppelin pada tahun 1935 dengan nilai £500.000. Kapal udara ini tercatat terbang untuk pertama kalinya pada Maret 1936 dan mencapai catatan menyeberangi Samudra Atlantik sebanyak dua kali dalam masa lima hari, 19 jam, dan 51 menit pada bulan Juli 1936. Hindenburg seharusnya diisi dengan gas helium tetapi embargo militer Amerika Serikat terhadap helium memaksa Jerman menggunakan gas hidrogen yang mudah terbakar sebagai gas pengapung.

Sebab utama kebakaran itu tidak diketahui dengan tepat. Salah satu sumber ledakan mungkin disebabkan oleh percikan listrik statis yang terkumpul dari gesekan dengan udara. Akibatnya, lapisan aluminium yang rentan akan api menjadi terbakar, dan memicu terlepasnya gas hidrogen yang mudah terbakar. Hidrogen terbakar tanpa warna, karenanya api yang menjulang mungkin menunjukkan api tersebut bukan disebabkan oleh hidrogen. Selain itu gas hidrogen di dalam Hindenburg pun telah dicampurkan dengan bau bawang putih agar dapat memberi tahukan bila terjadi kebocoran. Tidak ada siapapun yang selamat melaporkan bau bawang putih ketika penerbangan atau ketika percobaan pendaratan sebelum malapetaka tersebut. Sekiranya Amerika Serikat tidak mengenakan embargo militer kepada ekspor gas helium, api mungkin akan dapat dipadamkan lebih awal dan hanya menyebabkan kebocoran.

Terdapat beberapa kejadian kecelakaan kapal udara sebelum Hindenburg (semuanya tidak melibatkan Zeppelin) yang kebanyakan disebabkan oleh cuaca buruk. Bagaimanapun Zeppelin mempunyai catatan keselamatan yang menakjubkan. Sebagai contoh Graf Zeppelin telah terbang dengan selamat sejauh 1,6 juta km termasuk mengelilingi dunia. Pihak Jerman mengetahui dengan baik bahaya hidrogen dan telah mengamalkan langkah-langkah keselamatan yang ketat sepanjang penerbangan dengan kapal udara Zeppelin, termasuk menyimpan semua pemantik dan larangan merokok kecuali di dalam ruangan khusus. Perusahaan Zeppelin sangat bangga dengan fakta bahwa tidak ada seorang penumpang pun yang pernah terluka atau tercedera ketika terbang dengan kapal udara mereka. Zeppelin pun dianggap aman.

Musibah Hindenburg ini telah mengubah segalanya. Kepercayaan publik hilang sepenuhnya ketika mereka dihadapkan pada gambaran mengerikan dari televisi yang begitu jelas dan mengejutkan serta diiringi dengan rekaman bunyi secara langsung. Pengaruh pemberitaan yang sangat masif membuat pengangkutan Zeppelin terhenti. Peristiwa ini mengakhiri era kapal udara raksasa pembawa penumpang yang kaku .

Musibah ini diingat karena laporan berita televisi, gambar, dan rekaman radio Herbert Morrison mengenai laporan saksi mata langsung di lapangan pendaratan. Ulasan Morrison baru disiarkan pada keesokan harinya. Sebagian dari laporannya kemudian dimasukkan ke dalam tayangan berita (sehingga memberikan gambaran yang salah kepada mereka yang terbiasa melihat laporan langsung televisi pada masa kini bahwa laporan Morisson dan gambar diambil secara serentak).


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Musibah_Hindenburg

Tuesday, February 16, 2016

Evakuasi Paksa Pemukim Yahudi di Amona (2006)


Waktu: 1 Februari 2006
Tempat: Amona, Mateh Binyamin, Tepi Barat (Palestina)
Fotografer: Oded Balilty

Ynet Nili, murid kelas 11 dari Yerusalem berusia 16 tahun, difoto berdiri sendirian melawan puluhan polisi Israel berpakaian hitam selama evakuasi Amona di Tepi Barat tanggal 1 Februari 2006. Meskipun foto yang diabadikan oleh fotografer Oded Balilty tersebut kemudian mendapatkan World Press Photo Award tahun 2007 untuk kategori 'People in the News', Nili mengatakan bahwa "tidak ada yang bisa dibanggakan dari hal tersebut".

Dalam percakapannya, Nili yang belajar di sebuah sekolah agama setingkat SMA malah mengatakan: "Foto ini memalukan bagi bangsa Israel. Alih-alih membela rakyat dan tanah Israel, pasukan keamanan menghancurkan rumah-rumah Yahudi. Sebuah gambar seperti ini adalah tanda aib bagi negara Israel dan saya tak perlu bangga karenanya. Foto ini tampak layaknya sebuah karya seni, tapi bukan itu yang terjadi di sana. Apa yang terjadi di Amona benar-benar berbeda."

Foto itu sendiri diambil selama bentrokan yang meletus ketika polisi mengevakuasi rumah-rumah ilegal warga Yahudi di pemukiman Tepi Barat Amona, sebelah barat Ramallah. Pasukan keamanan bertindak untuk mengamankan keputusan pengadilan berwenang yang memerintahkan penghancuran sembilan rumah di pemukiman yang dianggap tidak sesuai undang-undang.

Sekitar 200 orang terluka ketika ratusan pemukim dan pendukung mereka menolak evakuasi secara paksa. Fotografer Balilty dari Associated Press (AP) mengatakan bahwa ia dan sejumlah fotografer lain pada awalnya bersama-sama meliput peristiwa tersebut, tapi kemudian pada titik tertentu mereka memutuskan untuk berpisah demi mencari sudut pandang yang berbeda.

Nili berkata: "Kau lihat aku di photo itu, satu lawan banyak, padahal itu hanyalah ilusi. Dibalik banyak orang itu adalah satu orang yang memimpinnya, Perdana Menteri Ehud Olmert, sementara di belakangku adalah Tuhan dan seluruh rakyat Israel."


Sumber :
http://beritahoaxislamindonesia.blogspot.co.id/2014/03/wanita-palestina-ini-yang-melindungi.html
http://www.worldpressphoto.org/collection/photo/2007

Wednesday, February 10, 2016

Bocah Austria yang Gembira Mendapatkan Sepatu Baru


Waktu: Desember 1946
Tempat: Wina, Austria
Fotografer: Gerald Waller

Seorang bocah yatim dari Austria bernama Werfel begitu gembira saat mendapatkan sepatu baru pemberian dari Junior Red Cross Amerika sehingga dia memeluk sepatunya tersebut sambil memperlihatkan rona kebahagiaan yang kentara di wajahnya. Momen istimewa ini diabadikan oleh fotografer Gerald Waller pada tahun 1946, satu tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II yang memporakporandakan Eropa, di depan rumah yatim-piatu Am Himmel tempat Werfel dipelihara. Foto ini sendiri dipublikasikan untuk pertama kalinya oleh majalah LIFE terbitan 30 Desember 1946 (halaman 22), dan menjadi begitu terkenal sehingga dimunculkan kembali untuk kedua kalinya oleh majalah yang sama pada tanggal 24 September 1951 (halaman 180).

Caption yang menyertai publikasi pertamanya pada tahun 1946:

"ANAK-ANAK EROPA - Natal yang membawa kebahagiaan dan juga kesedihan. Bagi banyak anak-anak Eropa, Sinterklas seakan menjelma menjadi nyata pada Natal tahun ini. Saat sebuah kotak besar dari Palang Merah Amerika tiba di rumah yatim-piatu Am Himmel di Wina, sepatu dan juga jaket hangat serta pakaian baru menyeruak keluar dari dalamnya. Bagi anak-anak yang sebagian besarnya tak pernah mendapatkan pakaian baru selama berlangsungnya perang (seperti bocah di atas), pemberian ini membuat mereka merasa seakan terbang tinggi di surga. Tapi bagi ribuan anak Eropa lainnya yang menderita pasca-perang, Sinterklas tak datang menyambangi mereka..."

Band punk Bad Religion nantinya menjadikan foto hasil karya Gerald Waller ini sebagai sampul album Natal mereka yang dirilis pada tanggal 29 Oktober 2013.


Sumber :
http://blog.burnedshoes.com/post/34117773241/geraldwaller

Tuesday, February 9, 2016

Tangan Bocah Afrika dan Misionaris Kulit Putih di Uganda


Waktu: April 1980
Tempat: Distrik Karamoja, Uganda
Fotografer: Mike Wells

Foto ini diambil di distrik Karamoja, Uganda, bulan April 1980, dan memperlihatkan perbedaan yang kontras antara tangan bocah Afrika yang kelaparan dengan tangan misionaris kulit putih yang memegangnya. Lebih dari setiap berita internasional yang muncul serta pidato dari banyak pemimpin dunia yang disampaikan, foto ini memberikan gambaran paling jelas dari bencana kelaparan hebat yang melanda Uganda pada saat itu. Wilayah Karamoja mempunyai iklim yang paling kering di negara tersebut dan sangat rentan dalam menghadapi musim kemarau. Akibat bencana kelaparan yang melanda pada tahun 1980, diperkirakan 21% dari total populasi Uganda (dan 60% dari balitanya) mengalami kematian, sehingga menjadikannya sebagai salah satu bencana kelaparan paling parah dalam sejarah (peringkat pertama diduduki oleh Bencana Kelaparan Finn Akbar pada tahun 1696 dimana sepertiga populasi dunia pada saat itu menjadi korban)!

Fotografer Mike Wells, yang nantinya memenangkan World Press Photo Award atas fotonya tersebut, mengakui bahwa dia merasa malu saat mengambil fotonya karena dia tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu bocah yang kelaparan tersebut dan malah seakan-akan memanfaatkannya untuk menjadi obyek dari fotonya. Pada awalnya, penerbit dimana dia bekerja menolak untuk mempublikasikan foto hasil karya Wells selama lima bulan sebelum memutuskan untuk memasukkannya dalam kompetisi World Press Photo Award. Ketika fotonya dinobatkan sebagai pemenang, Wells malah menolaknya karena dia merasa tidak pernah mendaftarkan fotonya untuk mengikuti kompetisi tersebut, dan juga dia berkeyakinan bahwa sangat tidak layak untuk menang melalui foto dari orang-orang yang sedang sekarat akibat kelaparan.

Kekeringan, kelaparan serta kekerasan antar etnis sampai saat ini masih berlanjut di Karamoja, Uganda. Orang-orang Karamoja sendiri awalnya merupakan suku Nomaden, tapi kemudian kebiasaan mereka secara drastis berubah pada tahun 1970 saat diktator Uganda saat itu, Idi Amin, menggalakkan pengamanan di wilayah perbatasan serta memberi mereka senjata untuk "mempertahankan diri" dari suku lainnya.



Sumber :
https://iconicphotos.wordpress.com/tag/mike-wells/

Wednesday, February 3, 2016

Gadis Napalm Perang Vietnam


Waktu: 8 Juni 1972
Tempat: Desa Trang Bang, Vietnam Selatan
Fotografer: Nick Ut

Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun berlari, telanjang sambil menangis. Di belakang gadis itu, terlihat bumbungan asap pekat ke angkasa menggetarkan jalanan. Di sekitar dia, terlihat pula empat bocah lainnya serta ada empat orang tentara bersenjata. Tubuh gadis kecil ini terbakar hebat. Ia menjerit kesakitan meminta pertolongan untuk meredakan sakitnya.

Phan Thị Kim Phúc adalah warga sebuah desa di Trang Bang, Vietnam. Pada tanggal 8 Juni 1972, pesawat Vietnam Selatan menjatuhkan bom napalm (bom bakar) di Trang Bang yang saat itu diduduki oleh pasukan Viet Cong (gerilyawan komunis Vietnam Utara). Dia bergabung dengan sejumlah warga biasa lainnya serta beberapa tentara Vietnam Selatan untuk kabur dari biara Cao Dai yang terletak di desa mereka dan bergegas menuju tempat perlindungan yang terletak tidak berapa jauh. Seorang pilot Vietnam Selatan salah mengira kelompok ini sebagai kelompok musuh dan memutuskan untuk membombardir mereka dengan bom napalm.

Fotografer Nick Ut mengambil gambar tersebut, dan ia kemudian memperoleh hadiah Pulitzer untuk fotografi atas gambar yang diambilnya. Gambar Kim Phúc berlarian tanpa berpakaian dengan latar belakang yang mengerikan menjadi sebuah simbol yang paling diingat atas Perang Vietnam. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian, Kim Phúc ingat pada saat itu dia sedang berteriak "panas, panas!" dalam foto tersebut.

Setelah mengambil gambarnya, Ut dengan segera membawa Kim Phúc dan anak-anak lainnya menuju sebuah rumah sakit di Saigon dimana dia dinyatakan tidak dapat bertahan hidup dengan luka bakar yang sedemikian parah. Walaupun demikian, setelah 14 bulan perawatan di rumah sakit dan 17 kali operasi, dia diizinkan untuk pulang kembali ke rumah.

Setelah dewasa, Kim Phúc dijadikan simbol anti perang oleh Pemerintah Vietnam. Pada tahun 1986, Phúc diberi izin oleh pemerintahnya untuk melanjutkan studi ke Kuba.

Setelah menerima izin, dia kemudian menuju Kuba dan bertemu Bui Huy Tuan. Pada tahun 1989, Ut menuju Kuba untuk bertemu dia dan tunangannya. Kim Phúc dan Bui Huy Tuan menikah dan pada tahun 1992 mereka pergi berbulan madu. Selama pengisian bahan bakar pesawat di Newfoundland, Kanada, mereka turun dari pesawat dan meminta perlindungan politik di negara tersebut. Sekarang mereka tinggal di Ontario dan memiliki dua orang anak.

Pada tahun 1996, dia bertemu kembali dengan dokter bedah yang telah menyelamatkan jiwanya berpuluh-puluh tahun sebelumnya.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Phan_Th%E1%BB%8B_Kim_Ph%C3%BAc
http://jogja.tribunnews.com/2015/10/27/kisah-phuc-gadis-napalm-perang-vietnam

Saturday, January 23, 2016

Tragedi Kematian Omayra Sanchez


Waktu: November 1985
Tempat: Armero, Kolumbia
Fotografer: Frank Fournier

Berikut ini adalah sebuah kisah tragis tentang kematian seorang gadis belia yang menjadi korban dari bencana gempa dahsyat yang melanda wilayah Armero, Kolumbia, pada tanggal 13 November 1985.

Omayra Sanchez adalah seorang gadis cilik berusia 13 tahun yang tinggal di Armero, sebuah kota kecil di Kolumbia yang berpenduduk sekitar 31.000 orang. Sebelumnya kota tersebut bernama San Lorenzo, tapi kemudian dirubah oleh Presiden Rafael Reyes menjadi Armero pada tahun 1930 untuk mengenang José León Armero yang merupakan pahlawan kemerdekaan Kolumbia.

Pada tanggal 13 November 1985, warga kota Armero yang kecil dan tenang dikejutkan oleh letusan gunung berapi Nevado Del Ruiz. Letusan tersebut menghasilkan guncangan hebat yang meluluhlantakkan ribuan bangunan di Armero, dan masih ditambah lagi dengan muntahan lahar panas yang mengalir ke kaki gunung, membakar habis wilayah yang tertimpa oleh aliran panasnya - termasuk kota Armero.

Malam hari saat bencana terjadi, Omayra yang tinggal bersama dengan keluarganya terbangun oleh guncangan dahsyat, dan melalui siaran radio mereka mendengar bahwa lahar panas sedang mengalir menuju ke tempat mereka. Ditengah proses evakuasi menuju ke gunung terdekat, nenek Omayra terjatuh kedalam lubang saluran air. Omayra pun berhenti untuk menolongnya. Malang bagi gadis ini, setelah berhasil mengeluarkan neneknya, kakinya malah terjepit reruntuhan bangunan sehingga tidak dapat bergerak keluar.

Tim penolong yang datang tidak berhasil menariknya keluar, sementara saat itu air mulai mengalir deras dari lubang saluran air. Beberapa puing reruntuhan yang tergeser oleh air makin menghimpit Omayra. Keluarga dan beberapa penduduk lainnya hanya bisa menemani sang gadis kecil sambil menunggu datangnya tim penolong yang akan membawa peralatan yang lebih lengkap.

Tiga hari menunggu, tapi tim penolong tidak kunjung datang. Air kini telah bergerak hingga sebatas leher Omayra, dan selama itu pula - baik siang dan malam - orang-orang disekitarnya berusaha untuk menguatkannya dengan menghiburnya, mengajaknya bernyanyi, dan membantunya mengatasi ketakutannya.

Pada hari ketiga, dengan kondisi masih terjepit reruntuhan dan dalam rendaman air setinggi leher, Omayra mulai berhalusinasi. Ia berkata bahwa ia terlambat untuk berangkat ke sekolah. Tidak berapa lama kemudian ia meminta orang-orang disekitarnya untuk meninggalkannya agar ia dapat berisitirahat. Tak lama setelahnya sang gadis malang meninggal akibat gangren pada luka-lukanya dan juga hipotermia akibat terendam air selama berhari-hari.

Kru televisi yang datang untuk meliput gempa Armero juga menyiarkan liputan mengenai keadaan Omayra ke seluruh dunia. Foto yang anda saksikan diambil beberapa jam sebelum dia meninggal, dan dipublikasikan tak lama setelahnya. Reporter Cristina Echandia menyebutkan bahwa untuk seorang anak seusianya, Omayra cukup tabah dalam menghadapi keadaannya, dan bahkan hingga saat ajal menjemputnya.

Tim penolong datang terlambat akibat adanya serangan dari gerilyawan sayap kiri M-19 ke istana Mahkamah Agung Kolumbia yang berlangsung pada tanggal 6 November 1985 yang berakibat disanderanya 300 orang praktisi hukum terkemuka negara tersebut. Hal ini membuat pemerintah Kolumbia terlambat dalam mengirimkan balabantuan ke Armero karena memprioritaskan pada upaya pembebasan para sandera.

Hanya sepertiga penduduk Armero yang selamat, sementara sekitar 23.000 orang kehilangan nyawanya oleh bencana gempa bumi tersebut. Kota Armero kemudian ditutup untuk selamanya oleh pemerintah Kolumbia, sementara warga yang selamat diungsikan ke kota-kota lainnya. Armero kini hanyalah tinggal kenangan, hilang bersama dengan tragedi kematian Omayra serta ribuan orang lainnya.

Video berikut memperlihatkan rekaman saat Omayra masih hidup dan dalam keadaan terendam air hingga hampir mencapai mulutnya. Anda dapat menyaksikan ia mengucapkan salam bagi ibunya, dan meminta agar turut mendoakannya. Jutaan pemirsa diseluruh dunia menitikkan air mata menyaksikan rekaman video ini.




Sumber :
http://www.astrodigi.com/2009/11/tragedi-kematian-omayra-sanchez.html

Thursday, January 15, 2015

Eksekusi di Saigon oleh Kepala Polisi Vietnam Selatan


Waktu: Kamis, 1 Februari 1968
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Eddie Adams dari Associated Press

Setelah Jenderal Nguyễn Ngọc Loan (Kepala Kepolisian Vietnam Selatan) mengangkat pistolnya dan menembak anggota Vietkong Nguyễn Văn Lém di kepala dengan kepala dingin, dia berjalan ke arah para wartawan dan berkata: "Orang-orang ini telah banyak membunuh rakyat kami, dan saya pikir Budha akan memaafkan tindakan saya." Peristiwa yang tidak terduga tersebut terekam oleh kamera NBC TV dan fotografer AP Eddie Adams, yang langsung menyebarkannya ke seluruh dunia dan menjadi simbol dari kebrutalan Perang Vietnam. Foto hasil jepretan Adams ini terutama menggetarkan karena diambil tepat pada saat malaikat pencabut nyawa beraksi melalui peluru yang menembus kepala si korban, dan ekspresi kesakitan terakhir dari Lém kentara sekali tergambar dari mukanya. Bila dilihat lebih jelas lagi, kita bisa mengetahui bahwa peluru menembus tengkoraknya dan tak lama kemudian darah menyembur dari lubang yang terdapat di kepalanya.

Fotografer AP Eddie Adams pernah menulis bahwa “foto adalah senjata yang paling kuat di dunia," dan perkataan ini dengan tepat sekali direpresentasikan melalui gambar eksekusi Saigon yang dibuatnya sendiri. Foto perwira polisi Vietnam yang menembak tawanannya yang terikat di kepala dalam jarak dekat ini tidak hanya membuatnya mendapatkan Pulitzer Prize di tahun 1969, tapi juga telah "meloncat" lebih jauh menjadi salah satu pendorong utama gerakan anti perang yang merebak di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan tidaklah sehitam-putih seperti yang terlihat. Apa yang tidak diungkapkan oleh foto hasil jepretan Adams tersebut adalah bahwa orang yang menjadi korban (Nguyễn Văn Lém) merupakan kapten dari "Pasukan Pembalas" Vietkong yang sebelumnya telah mengeksekusi selusin warga sipil pada hari yang sama (termasuk beberapa anggota keluarga sang jenderal polisi). Yang kemudian terjadi adalah, sang penarik pelatuk lah (Nguyễn Ngọc Loan) yang mengemuka ke permukaan sebagai penjahatnya!

Sumber Vietnam Selatan mengatakan bahwa Lém menjadi komandan dari sebuah grup pembunuh Vietkong yang di hari itu menargetkan para perwira Polisi Nasional Vietnam Selatan beserta keluarganya. Sumber yang sama mengklaim bahwa Lém juga ditangkap di sebuah lokasi kuburan massal yang berisi 12 orang - dengan tujuh diantaranya merupakan anggota keluarga perwira polisi. Fotografer Adams membenarkan keterangan dari sumber resmi Vietnam Selatan tersebut meskipun dia sendiri tidak hadir pada saat penangkapan Lém tapi hanya pada saat pengeksekusiannya oleh Loan. Setelah ditangkap, Lém dihadapkan pada sang pimpinan polisi, yang kemudian menginterogasinya sebentar sebelum menembaknya menggunakan pistol Smith & Wesson kaliber 38.
Adams mengatakan bahwa dia sangat bersimpati pada sang algojo polisi dan mengharapkan bahwa, kalaulah waktu bisa diulang kembali, dia tak akan pernah mempublikasikan foto tersebut. Memang dari sejak foto jepretan Adams menyebar, Loan menjadi "penjahat kemanusiaan" di mata masyarakat Barat, dan kehidupannya begitu terganggu sehingga dia kemudian dipaksa untuk menutup warung pizza yang dikelolanya di pengasingan di Amerika. Mengenai hal ini, Adams berkata: "Sang jenderal telah membunuh Vietkong dengan pistolnya, sementara aku telah membunuh sang jenderal dengan kameraku."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/saigon-execution-murder-vietcong-saigon-1968/