Showing posts with label Foto Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Foto Sejarah. Show all posts

Sunday, January 26, 2020

Empat Orang Perwira Australia di Malaya tahun 1956

Foto yang cukup menarik ini memperlihatkan empat orang perwira Angkatan Darat Australia yang mengenakan kombinasi pakaian yang tidak umum, yang hanya berlaku di negara tersebut: perpaduan celana pendek tropis dengan sabuk Sam Browne. Foto ini sendiri diambil di Kuala Kangsar, Malaya, pada tahun 1956. Mereka adalah para perwira dari C Company / 2nd Battalion / Royal Australian Regiment (2 RAR), dari kiri ke kanan: Lieutenant Brian William McFarlane (Komandan Peleton ke-7 Royal Australian Infantry), Lieutenant Harry Arthur Smith (Komandan Peleton ke-9 Royal Australian Infantry), Major Laurence Creswell Chambers (Komandan Kompi C Royal Australian Army Service Corps), dan Lieutenant Michael Warren Meredith (Komandan Peleton ke-8 Royal Australian Corps of Signals). Sepuluh tahun setelah foto ini diambil, di Vietnam Selatan tanggal 18 Agustus 1966, Major Smith - yang telah menjadi Komandan Kompi D / 6 RAR - memimpin pasukan Australia dalam Pertempuran Long Tan. Major McFarlane, Komandan Kompi C / 6 RAR, berada di lokasi yang tidak jauh darinya, dimana kompinya bertugas untuk mempertahankan markas batalyon selama berlangsungnya pertempuran yang berlangsung sengit dan brutal, untuk kemudian mengejar musuh yang mundur keesokan paginya. Major Smith dianugerahi medali Military Cross atas aksi heroiknya saat bertahan mati-matian menghadapi musuh yang berkekuatan berkali-kali lipat di Long Tan.


Sumber :
http://www.diggerhistory.info/pages-army-today/rar-sasr/2_rar.htm

Saturday, February 27, 2016

Pasukan Soviet di Desa yang Dibebaskan


Waktu: Desember 1941
Tempat: Pinggiran Moskow (Uni Soviet)
Fotografer: Ivan Shagin

Dalam kancah Perang Dunia II antara Jerman dan Uni Soviet, pasukan Hitler hampir saja menguasai Moskow sebelum dipukul mundur pada bulan Desember 1941. Foto ini memperlihatkan seorang ibu dari desa di pinggiran ibukota yang memeluk tentara Soviet yang baru saja membebaskan desanya dari pendudukan pasukan Nazi. Foto ini merupakan hasil jepretan dari Ivan Shagin dan berjudul "In the Liberated Village" (Di Desa yang Dibebaskan).

Pada awal bulan Desember 1941 itu, pasukan Jerman telah menyeberangi kanal Moskow-Volga dan unit terdepannya berada hanya 20 kilometer dari Kremlin. Tapi inilah jarak terdekat yang bisa ditempuh oleh Wehrmacht dengan ibukota Soviet, karena pada tanggal 5 Desember pasukan Stalin melancarkan serangan balik besar-besaran yang memporakporandakan posisi pasukan penyerbu.

Unit-unit Soviet - banyak diantaranya baru tiba di Moskow dari markas mereka di Siberia - menyerang tentara-tentara Jerman yang sudah berada di ambang batas ketahanan mereka. Pertempuran jarak dekat berlangsung dengan sengitnya dari satu lubang pertahanan ke lubang pertahanan lainnya, dan hanya yang terkuatlah yang berhasil selamat sementara yang lebih lemah musnah.

Pasukan Jerman tidak hanya kelelahan - mereka juga kurang persiapan menghadapi musim dingin ganas yang melanda Rusia. Para pimpinan Nazi meyakini bahwa perang akan berakhir di musim gugur tahun 1941, jadi mengapa juga harus repot-repot mempersiapkan pasukan mereka untuk bertempur di musim dingin? "Saat temperatur jatuh menjadi minus 30 derajat Celcius, mesin-mesin perang kami menjadi tidak berfungsi," kata Walter Schaefer-Kehnert, seorang perwira Jerman yang bertempur di Moskow. Tidak hanya itu, tentara Jerman juga menderita banyak korban yang terkena frostbite - jari-jari mereka membeku begitu parahnya sehingga banyak yang harus diamputasi!
 
Akhirnya wilayah-wilayah di sekeliling Moskow berhasil diduduki kembali oleh pasukan Soviet yang lebih mempunyai persiapan menghadapi musim dingin, dan di salah satu desa yang dibebaskan itu lah foto ini dibuat.


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/soviet-soldier-liberated-village/

Saturday, February 20, 2016

Manusia Penghadang Tank di Cina (1989)


Waktu: 5 Juni 1989
Tempat: Lapangan Tiananmen, Beijing (Cina)
Fotografer: Jeff Widener

"Tank Man", atau "Unknown Rebel", adalah sebuah julukan yang diberikan kepada seorang pengunjuk rasa di lapangan Tiananmen pada tanggal 5 Juni 1989. Orang yang hingga saat ini tidak diketahui namanya itu menjadi terkenal ketika aksi protesnya direkam, dipotret, dan dipublikasikan ke seluruh dunia. Dalam peristiwa tersebut, sang pengunjuk rasa berdiri menentang barisan tank Tipe 59 Tiongkok dan menghentikan lajunya.

Potret paling terkenal yang menggambarkan peristiwa ini adalah foto karya Jeff Widener (Associated Press) yang di ambil dari lantai ke-6 Beijing Hotel dengan lensa 400 mm. Versi terkenal lainnya adalah foto yang diambil oleh fotografer Stuart Franklin dari Magnum Photos. Foto karyanya memiliki jangkauan pandang yang lebih luas dari foto karya Widener dan memperlihatkan lebih banyak tank di depan sang Tank Man. Franklin juga berhasil memenangkan penghargaan World Press untuk foto itu. Foto tersebut juga termasuk ke dalam "100 Photos that Changed the World" (seratus foto yang mengubah dunia) versi majalah LIFE pada tahun 2003. Selain itu, peristiwa ini juga direkam dalam videotape oleh CNN dan BBC, dan telah disiarkan di seluruh dunia.

Baik foto maupun film tentang aksi sang Tank Man yang berdiri menentang barisan tank mendapat perhatian masyarakat seluruh dunia. Peristiwa tersebut menjadi berita utama di ratusan koran dan majalah dan siaran berita besar di seluruh dunia. Pada bulan April 1998, majalah TIME dari Amerika Serikat memasukan sang Tank Man sebagai 100 orang yang paling berpengaruh pada abad ke-20.

Peristiwa itu sendiri terjadi didekat Chang'an Avenue, yang membentang timur-barat sepanjang ujung selatan Kota Terlarang di Beijing, satu hari setelah tentara Cina melakukan kekerasan pada pengunjuk rasa di Lapangan Tiananmen. Pria itu berjalan di jalur kendaraan lapis baja. Dia memegang tas belanja di kedua tangannya.

Pria itu menunjuk ke tank yang mendekat, namun tak ditanggapi. Lama kelamaan keduanya saling mendekat. Orang-orang disekitar sudah menghalaunya untuk pergi, namun dia tak bergeming. Tanpa diduga, justru pasukan tank lah yang berhenti setelah berjarak sekitar 2 meter dari tempat pria itu berdiri.

Setelah berhenti, pria tersebut nampak melompat ke atas tank dan berbicara dengan awak di dalamnya. Percakapan pun selesai, dia melompat dan tank meneruskan jalannya. Tiba-tiba dua orang berseragam biru membawa pria itu dan menghilang di balik kerumunan. Banyak polemik mengenai hal ini, apakah dia dibawa oleh intel atau sipil. Hanya sedikit informasi mengenai pria itu. tabloid Inggris Sunday Express menulisnya sebagai Wang Weilin, seorang mahasiswa, 19 tahun yang kemudian dituduh sebagai perusuh oleh Partai Komunis Cina yang coba menumbangkan Tentara Pembebasan Rakyat. Namun hal ini dibantah oleh partai Komunis Cina lewat dokumen pribadi. Mereka malah tidak bisa menemukan pria tersebut. "Kami hanya tahu namanya dari wartawan. Setelah dicari identitasnya tetap tak ketemu. Apakah dia sudah mati atau dipenjara," tutur salah seorang anggota Partai Komunis China.

Keberadaan "The Tank Man" menjadi rumor yang hingga kini masih diperdebatkan. Ada yang bilang, dia dieksekusi 14 hari setelah peristiwa itu. Ada pula yang bilang dia masih hidup dan bersembunyi di dataran Cina. Siapapun dia, telah menjadi simbol peristiwa Tiananmen dan ikon abad 20.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Tank_Man
http://www.merdeka.com/dunia/rahasia-tersimpan-si-manusia-tank-di-tiananmen.html

Friday, February 19, 2016

Bayi Menangis di Stasiun Kereta Api Shanghai (1937)


Waktu: 14 Agustus 1937
Tempat: Shanghai (Cina)
Fotografer: H.S. Wong

"Bloody Saturday" (Sabtu Berdarah) adalah nama dari sebuah foto hitam-putih yang dipublikasikan secara luas pada bulan September-Oktober 1937 dan dalam waktu kurang dari satu bulan telah dilihat oleh lebih dari 136 juta pembaca! Foto ini memperlihatkan seorang bayi Cina yang menangis diantara puing-puing Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan, dan menjelma menjadi sebuah perlambang keganasan tentara Jepang di Cina. Diambil hanya beberapa menit setelah sebuah serangan udara Jepang yang mentargetkan warga sipil di Shanghai, fotografer H.S. "Newsreel" Wong dari Hearst Corporation (juga dikenal dengan nama Wong Hai-Sheng atau Wang Xiaoting) mengklaim bahwa dia tidak mengenali siapa si bocah yang terluka tersebut (atau bahkan jenis kelaminnya), hanya bahwa dia menangis di dekat tubuh ibunya yang telah tak bernyawa. Foto ini menjadi salah satu foto perang paling terkenal dalam sejarah, dan juga berhasil menggiring kebencian warga Barat pada pihak Jepang yang saat itu menginvasi negara Cina. Jurnalis Harold Isaacs bahkan menjuluki foto tersebut sebagai "salah satu bahan propaganda paling sukses sepanjang masa"!

Wong mengambil gambar Stasiun Selatan yang telah luluh lantak akibat dibombardir menggunakan kamera bergerak Eyemo, sementara untuk fotonya dia menggunakan kamera Leica. Foto yang sangat terkenal ini - yang diambil dari kamera Leica-nya - seringkali dirujuk bukan pada namanya, melainkan gambaran visual yang tercipta olehnya. Selain dari "Bloody Saturday", foto ini juga kerapkali diberi judul "Motherless Chinese Baby" (bayi Cina tak beribu), "Chinese Baby" (bayi Cina), atau "The Baby in the Shanghai Railroad Station" (bayi di Stasiun Kereta Api Shanghai). Pihak nasionalis Jepang sendiri murka atas tersebar luasnya foto tersebut dan menuduhnya sebagai sebuah foto sandiwara yang sengaja dirancang untuk mendiskreditkan negara mereka dan mengucilkannya dari pergaulan dunia internasional. Mereka bahkan membuka sayembara bagi siapa saja yang bisa membunuh sang fotografer maka akan diberikan uang sejumlah $50.000 (senilai dengan $820.000 di tahun 2016!).


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Bloody_Saturday_%28photograph%29

Tragedi Terbakarnya Balon Udara Hindenburg (1937)


Waktu: 6 Mei 1937
Tempat: Stasiun Angkatan Udara Lakehurst, New Jersey (Amerika Serikat)
Fotografer: Sam Shere

Pada tanggal 6 Mei 1937, pukul 19:25 balon gas raksasa Jerman dari jenis Zeppelin bernama Hindenburg musnah terbakar dalam tempo beberapa menit saja ketika sedang mencoba untuk berlabuh dengan tiang pengikat di Stasiun Angkatan Udara Lakehurst di New Jersey, Amerika Serikat. Dalam kejadian yang terkenal itu, dari keseluruhan 97 penumpang yang menaiki Hindenburg, sebanyak 35 jiwa diantaranya tewas.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg merupakan pesawat terbesar yang pernah dibangun pada saat itu. Pesawat itu dinamakan menurut Presiden Jerman Paul von Hindenburg, sebagaimana kebiasaan untuk menamakan semua kapal udara Jerman dengan nama lelaki. Kapal udara LZ-129 Hindenburg menggunakan rancangan terkini dengan menggunakan aluminium, berukuran sepanjang 245 meter, diameter 41 meter, dan mengandung 211.890 meter persegi gas hidrogen dalam 16 kampit atau sel. Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai daya angkut 112 ton, mempunyai empat mesin diesel berkekuatan 1100 tenaga kuda dengan kecepatan 135 kilometer per jam. Hindenburg mampu membawa 72 orang (50 orang jika menyeberangi Samudra Atlantik) dengan 61 awak kapal.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai bentuk yang licin dan menarik. Untuk mempertahankan bentuk yang aerodinamis, bagian penumpang terletak di dalam kantong udara dan bukan di luar. Hindenburg dilapisi dengan kain kapas yang disapu dengan campuran varnis selulus dan aluminium. Hindenburg dibangun oleh Luftschiffbau Zeppelin pada tahun 1935 dengan nilai £500.000. Kapal udara ini tercatat terbang untuk pertama kalinya pada Maret 1936 dan mencapai catatan menyeberangi Samudra Atlantik sebanyak dua kali dalam masa lima hari, 19 jam, dan 51 menit pada bulan Juli 1936. Hindenburg seharusnya diisi dengan gas helium tetapi embargo militer Amerika Serikat terhadap helium memaksa Jerman menggunakan gas hidrogen yang mudah terbakar sebagai gas pengapung.

Sebab utama kebakaran itu tidak diketahui dengan tepat. Salah satu sumber ledakan mungkin disebabkan oleh percikan listrik statis yang terkumpul dari gesekan dengan udara. Akibatnya, lapisan aluminium yang rentan akan api menjadi terbakar, dan memicu terlepasnya gas hidrogen yang mudah terbakar. Hidrogen terbakar tanpa warna, karenanya api yang menjulang mungkin menunjukkan api tersebut bukan disebabkan oleh hidrogen. Selain itu gas hidrogen di dalam Hindenburg pun telah dicampurkan dengan bau bawang putih agar dapat memberi tahukan bila terjadi kebocoran. Tidak ada siapapun yang selamat melaporkan bau bawang putih ketika penerbangan atau ketika percobaan pendaratan sebelum malapetaka tersebut. Sekiranya Amerika Serikat tidak mengenakan embargo militer kepada ekspor gas helium, api mungkin akan dapat dipadamkan lebih awal dan hanya menyebabkan kebocoran.

Terdapat beberapa kejadian kecelakaan kapal udara sebelum Hindenburg (semuanya tidak melibatkan Zeppelin) yang kebanyakan disebabkan oleh cuaca buruk. Bagaimanapun Zeppelin mempunyai catatan keselamatan yang menakjubkan. Sebagai contoh Graf Zeppelin telah terbang dengan selamat sejauh 1,6 juta km termasuk mengelilingi dunia. Pihak Jerman mengetahui dengan baik bahaya hidrogen dan telah mengamalkan langkah-langkah keselamatan yang ketat sepanjang penerbangan dengan kapal udara Zeppelin, termasuk menyimpan semua pemantik dan larangan merokok kecuali di dalam ruangan khusus. Perusahaan Zeppelin sangat bangga dengan fakta bahwa tidak ada seorang penumpang pun yang pernah terluka atau tercedera ketika terbang dengan kapal udara mereka. Zeppelin pun dianggap aman.

Musibah Hindenburg ini telah mengubah segalanya. Kepercayaan publik hilang sepenuhnya ketika mereka dihadapkan pada gambaran mengerikan dari televisi yang begitu jelas dan mengejutkan serta diiringi dengan rekaman bunyi secara langsung. Pengaruh pemberitaan yang sangat masif membuat pengangkutan Zeppelin terhenti. Peristiwa ini mengakhiri era kapal udara raksasa pembawa penumpang yang kaku .

Musibah ini diingat karena laporan berita televisi, gambar, dan rekaman radio Herbert Morrison mengenai laporan saksi mata langsung di lapangan pendaratan. Ulasan Morrison baru disiarkan pada keesokan harinya. Sebagian dari laporannya kemudian dimasukkan ke dalam tayangan berita (sehingga memberikan gambaran yang salah kepada mereka yang terbiasa melihat laporan langsung televisi pada masa kini bahwa laporan Morisson dan gambar diambil secara serentak).


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Musibah_Hindenburg

Saturday, February 13, 2016

Hukuman Mati Ruth Snyder


Waktu: 12 Januari 1928
Tempat: Penjara Sing Sing, New York (Amerika Serikat)
Fotografer: Tom Howard

Anda penasaran mengapa foto eksekusi hukuman mati sulit dilihat di media massa? Foto berikut inilah penyebabnya.

Pelaksanaan hukuman mati di era modern nyaris tidak pernah didokumentasikan. Indonesia misalnya, melarang wartawan atau warga umum menonton proses eksekusi regu tembak. Dari seluruh arsip hukuman mati, foto-foto yang beredar kebanyakan berupa ilustrasi atau situasi penjara sebelum dan sesudah eksekusi. Tapi di Amerika Serikat, seorang fotografer pemula berhasil mengabadikan saat-saat terakhir terpidana meregang nyawa di kursi listrik.

Foto itu, menurut Majalah TIME edisi 10 April 2014, merupakan satu-satunya rekaman gambar paling detail dan dramatis dari sebuah hukuman mati sepanjang sejarah!

Pesakitan yang sedang dijemput ajal melalui kursi listrik dalam foto itu bernama Ruth Snyder. Dia adalah ibu rumah tangga asal Kota New York, yang pada tahun 1927 dinyatakan bersalah karena melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya sendiri, Albert Snyder. Dalam aksi busuk untuk merebut harta suaminya tersebut, dia dibantu selingkuhan bernama Judd Gray, yang juga dihukum mati.

Kasus pembunuhan ini pada masanya menggemparkan publik Amerika Serikat. Saban sidang selalu ramai diliput media. Oleh sebab itu, pengadilan memerintahkan eksekusi mati Ruth pada 12 Januari 1928 di dalam Penjara Sing-Sing tertutup untuk pers.

Surat kabar New York Daily News rupanya tak kehilangan akal. Tahu semua wartawan mereka sudah dihafal mukanya oleh polisi, koran ini menyewa jasa Tom Howard, seorang fotografer muda asal Kota Chicago. Pria itu berhasil mengelabui petugas penjara dengan cara menyelipkan kamera di pergelangan kakinya. Kabel khusus dia hubungkan ke tombol di paha. Dengan demikian, sambil duduk menyaksikan proses eksekusi kursi listrik, Tom tetap bisa mengambil gambar dalam detik-detik akhir Ruth sedang meregang nyawa, saat badannya menggelepar karena menerima sengatan listrik yang mematikan (sehingga gambar menjadi sedikit buram).


Sumber :
http://www.merdeka.com/dunia/ini-foto-hukuman-mati-paling-dramatis-sepanjang-sejarah.html

Prajurit Soviet Memberi Susu Pada Beruang Kutub


Waktu: 1950
Tempat: Semenanjung Chukchi, Siberia (Uni Soviet)
Fotografer: Tidak diketahui

Prajurit dari unit pasukan tank Soviet ini memberi susu kental manis dalam kaleng yang sudah dibuka pada induk beruang kutub yang mendekati tank mereka saat melakukan ekspedisi militer menembus wilayah bersalju di Semenanjung Chukchi, Siberia. Beruang yang ingin tahu tersebut langsung menjilati kaleng susu yang diberikan sebelum memberikannya pada anak-anaknya. Kaleng susu kental manis (di Rusia dinamakan sgushchennoye moloko) berwarna biru dan putih itu sendiri merupakan salah satu jatah ransum musim dingin yang diterima oleh prajurit Tentara Merah, juga anak-anak Rusia pada masa itu.

Tidak diketahui apakah di Sememanjung Chukchi sendiri lebih banyak dihuni beruang kutub ataukah manusia. Yang jelas cuacanya sangat ekstrim, dimana suhu di musim dingin dapat mencapai -40°, sehingga bahkan bagi ukuran beruang kutub pun cuaca sedingin ini bisa membunuh mereka. Para prajurit baik hati ini, yang bertugas di Distrik Angkatan Darat Semenanjung Chukchi, memutuskan untuk tidak kabur manakala melihat kedatangan beruang-beruang malang yang kedinginan dan kelaparan tersebut. Mereka malah mulai memberinya makan dengan sedikit persediaan daging dan susu yang mereka miliki.






Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/feeding-polar-bears-tank-1950/

Wednesday, February 10, 2016

Bocah Austria yang Gembira Mendapatkan Sepatu Baru


Waktu: Desember 1946
Tempat: Wina, Austria
Fotografer: Gerald Waller

Seorang bocah yatim dari Austria bernama Werfel begitu gembira saat mendapatkan sepatu baru pemberian dari Junior Red Cross Amerika sehingga dia memeluk sepatunya tersebut sambil memperlihatkan rona kebahagiaan yang kentara di wajahnya. Momen istimewa ini diabadikan oleh fotografer Gerald Waller pada tahun 1946, satu tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II yang memporakporandakan Eropa, di depan rumah yatim-piatu Am Himmel tempat Werfel dipelihara. Foto ini sendiri dipublikasikan untuk pertama kalinya oleh majalah LIFE terbitan 30 Desember 1946 (halaman 22), dan menjadi begitu terkenal sehingga dimunculkan kembali untuk kedua kalinya oleh majalah yang sama pada tanggal 24 September 1951 (halaman 180).

Caption yang menyertai publikasi pertamanya pada tahun 1946:

"ANAK-ANAK EROPA - Natal yang membawa kebahagiaan dan juga kesedihan. Bagi banyak anak-anak Eropa, Sinterklas seakan menjelma menjadi nyata pada Natal tahun ini. Saat sebuah kotak besar dari Palang Merah Amerika tiba di rumah yatim-piatu Am Himmel di Wina, sepatu dan juga jaket hangat serta pakaian baru menyeruak keluar dari dalamnya. Bagi anak-anak yang sebagian besarnya tak pernah mendapatkan pakaian baru selama berlangsungnya perang (seperti bocah di atas), pemberian ini membuat mereka merasa seakan terbang tinggi di surga. Tapi bagi ribuan anak Eropa lainnya yang menderita pasca-perang, Sinterklas tak datang menyambangi mereka..."

Band punk Bad Religion nantinya menjadikan foto hasil karya Gerald Waller ini sebagai sampul album Natal mereka yang dirilis pada tanggal 29 Oktober 2013.


Sumber :
http://blog.burnedshoes.com/post/34117773241/geraldwaller

Thursday, February 4, 2016

Foto Pertama Machu Picchu Setelah "Penemuannya" oleh Hiram Bingham Tahun 1912


Waktu: Tahun 1912
Tempat: Machu Picchu, Peru
Fotografer: Hiram Bingham

Foto dari Machu Picchu yang diambil oleh Hiram Bingham III pada tahun 1912 setelah pengerjaan ekskavasi besar-besaran mulai dilakukan. Bingham telah menemukan kembali lokasi bersejarah tersebut pada tahun 1911. Foto ini memperlihatkan sebagian dari kota itu yang terlihat. Di sebelah kiri adalah teras pertanian barat, sementara persis di atasnya adalah Alun-Alun Suci dengan Kuil Utama dan kuil berjendela tiga di sebelah kanannya. Di atasnya lagi dan dihubungkan ke tempat tersebut melalui tangga terindah di Machu Picchu adalah Bukit Suci, dimana tersimpan Intihuatana yang merupakan batu penanda matahari. Di bagian tengah foto paling depannya adalah bongkahan batu-batu kasar dimana ditemukan sebagian besar artefak serta pin-pin perunggu yang ada di Machu Picchu. Di atasnya adalah taman berundak serta sebuah tenda jerami yang dibuat oleh orang Indian modern.

Machu Picchu ("Gunung Tua" dalam bahasa Quechua: sering juga disebut sebagai "Kota Inka yang hilang") adalah sebuah lokasi reruntuhan Inka pra-Columbus yang terletak di wilayah Pegunungan Andes pada ketinggian sekitar 2.400 meter diatas permukaan laut. Machu Picchu berada di atas lembah Urubamba di Peru, sekitar 70 km barat laut Cusco.
Machu Picchu dibangun dengan gaya Inka kuno dengan batu tembok berpelitur. Bangunan utamanya adalah Intihuatana, Kuil Matahari, dan Ruangan Tiga Jendela. Tempat-tempat ini disebut sebagai Distrik Sakral dari Machu Picchu.
Kerajaan Inka sendiri adalah sebuah kerajaan yang eksis pada tahun 1438 s/d 1533 dan terletak di wilayah yang sekarang menjadi negara Peru. Inka disebut sebagai peradaban "pra-Columbus", artinya sudah ada sejak sebelum kedatangan Christopher Columbus. Selama periode tersebut, Inka menguasai sebagian besar wilayah Amerika Selatan bagian barat yang berpusat di Pegunungan Andes hingga 1533, saat bangsa Spanyol menyerbu negeri itu. Atahualpa yang merupakan raja Inka terakhir, disebut juga dengan istilah Sapa Inca, tewas terbunuh oleh penjelajah Spanyol yang bernama Francisco Pizarro, yang juga menandai awal masa berkuasanya Spanyol di daerah tersebut.
Kerajaan Inka terdiri atas empat suku. Bahasa resmi kerajaan adalah bahasa Quechua, walaupun ada sekitar 700 bahasa lokal yang digunakan. Suku Inka melakukan pemujaan atas dewa-dewa, dengan Inti sebagai dewa matahari yang merupakan dewa terdepan. Ibukotanya ada di Cuzco, atau Qosqo, di selatan Peru.
Kota Inka yang hilang (Machu Picchu) adalah sebuah pusat kota kerajaan Inka yang dibangun pada tahun 1450, lembah Urubamba, pegunungan Peru. Disamping keberadaannya yang menakjubkan, ternyata kota Inka menyimpan 10 fakta menarik:
1. Hiram Bingham mengukir namanya sebagai penemu situs ini, padahal sebelumnya para penduduk lokal memang sudah mengetahui keberadaan tempat ini.
2. Machu Picchu terletak diketinggian 2,400 meter di atas permukaan laut.
3. Machu Picchu dibuat pada pertengahan tahun 1400 dan dijuluki sebagai “The Lost City of the Incas”.
4. Banyak dari batu-batu konstruksi bangunan Machu Picchu memiliki berat lebih dari 50 ton. Karena belum ada semen, mereka hanya memotong dan menumpuk batu tersebut sesuai dengan ukuran dan rancangan bangunan!
5. Luas keseluruhan area mencapai 325.92 Km persegi dan dideklarasikan sebagai “Historical Sanctuary” negara peru di tahun 1981.
6. Machu Picchu memiliki tiga bangunan utama, yaitu Intihuatana, Temple of the Sun (Kuil Matahari), dan Room of the Three Windows (Ruangan Tiga Kaca).
7. Machu Picchu setidaknya memiliki 170 bangunan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda.
8. Machu Picchu awalnya dibangun sebagai sebuah benteng pertahanan, lalu berubah menjadi sebuah ibu kota suku Inca.
9. Hasil penelitian menunjukkan batu Intihuatana dibuat sebagai jam astronomi atau kalendar.
10. Konstruksi dari Machu Picchu tidak pernah selesai seluruhnya. Situs ini diabaikan selama serangan bangsa Spanyol kepada Kerajaan Inka.
Kini kota Machu Picchu ( Kota Inca yang hilang) menjadi tempat beristirahat para Llama.


Sumber :
https://it.wikipedia.org/wiki/File:Machupicchu_hb10.jpg
http://menyerap.blogspot.co.id/2013/04/sejarah-machu-picchu-kota-inka-yang.html
http://rarehistoricalphotos.com/first-photograph-upon-discovery-machu-piccu-1912/

Wednesday, February 3, 2016

Jalan Kayu Darurat di Lokasi Penebangan


Waktu: Awal abad ke-20
Tempat: Washington, Amerika Serikat
Fotografer: Darius Kinsey

Foto ini memperlihatkan sebuah truk Garford yang membawa gelondongan kayu besar melintasi jalan kayu darurat di lokasi penebangan tak dikenal di Washington, Amerika Serikat, awal abad ke-20. Sambil melihat foto di atas, sekarang bayangkan ini: sebuah jembatan panjang yang berdiri beberapa meter di atas tanah dan sepenuhnya terbuat dari gelondongan kayu tanpa tali pengikat atau pagar pelindung di pinggir. Para pekerja di masa itu benar-benar mempunyai nyali yang tinggi!

Foto ini sendiri dibuat oleh Darius Kinsey (1869-1945), seorang fotografer yang aktif di barat negara bagian Washington dari tahun 1890 s/d 1940. Dia terkenal karena foto-foto dalam format besarnya yang menampilkan para penebang hutan serta industri penebangan di masa itu. Dia juga mengabadikan foto-foto kereta api, lansekap, dan (terutama di awal karirnya) foto studio.


Sumber :
http://digitalcollections.lib.washington.edu/cdm/singleitem/collection/clarkkinsey/id/2849/rec/51
https://en.wikipedia.org/wiki/Darius_Kinsey

Gadis Napalm Perang Vietnam


Waktu: 8 Juni 1972
Tempat: Desa Trang Bang, Vietnam Selatan
Fotografer: Nick Ut

Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun berlari, telanjang sambil menangis. Di belakang gadis itu, terlihat bumbungan asap pekat ke angkasa menggetarkan jalanan. Di sekitar dia, terlihat pula empat bocah lainnya serta ada empat orang tentara bersenjata. Tubuh gadis kecil ini terbakar hebat. Ia menjerit kesakitan meminta pertolongan untuk meredakan sakitnya.

Phan Thị Kim Phúc adalah warga sebuah desa di Trang Bang, Vietnam. Pada tanggal 8 Juni 1972, pesawat Vietnam Selatan menjatuhkan bom napalm (bom bakar) di Trang Bang yang saat itu diduduki oleh pasukan Viet Cong (gerilyawan komunis Vietnam Utara). Dia bergabung dengan sejumlah warga biasa lainnya serta beberapa tentara Vietnam Selatan untuk kabur dari biara Cao Dai yang terletak di desa mereka dan bergegas menuju tempat perlindungan yang terletak tidak berapa jauh. Seorang pilot Vietnam Selatan salah mengira kelompok ini sebagai kelompok musuh dan memutuskan untuk membombardir mereka dengan bom napalm.

Fotografer Nick Ut mengambil gambar tersebut, dan ia kemudian memperoleh hadiah Pulitzer untuk fotografi atas gambar yang diambilnya. Gambar Kim Phúc berlarian tanpa berpakaian dengan latar belakang yang mengerikan menjadi sebuah simbol yang paling diingat atas Perang Vietnam. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian, Kim Phúc ingat pada saat itu dia sedang berteriak "panas, panas!" dalam foto tersebut.

Setelah mengambil gambarnya, Ut dengan segera membawa Kim Phúc dan anak-anak lainnya menuju sebuah rumah sakit di Saigon dimana dia dinyatakan tidak dapat bertahan hidup dengan luka bakar yang sedemikian parah. Walaupun demikian, setelah 14 bulan perawatan di rumah sakit dan 17 kali operasi, dia diizinkan untuk pulang kembali ke rumah.

Setelah dewasa, Kim Phúc dijadikan simbol anti perang oleh Pemerintah Vietnam. Pada tahun 1986, Phúc diberi izin oleh pemerintahnya untuk melanjutkan studi ke Kuba.

Setelah menerima izin, dia kemudian menuju Kuba dan bertemu Bui Huy Tuan. Pada tahun 1989, Ut menuju Kuba untuk bertemu dia dan tunangannya. Kim Phúc dan Bui Huy Tuan menikah dan pada tahun 1992 mereka pergi berbulan madu. Selama pengisian bahan bakar pesawat di Newfoundland, Kanada, mereka turun dari pesawat dan meminta perlindungan politik di negara tersebut. Sekarang mereka tinggal di Ontario dan memiliki dua orang anak.

Pada tahun 1996, dia bertemu kembali dengan dokter bedah yang telah menyelamatkan jiwanya berpuluh-puluh tahun sebelumnya.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Phan_Th%E1%BB%8B_Kim_Ph%C3%BAc
http://jogja.tribunnews.com/2015/10/27/kisah-phuc-gadis-napalm-perang-vietnam

Friday, January 29, 2016

Aksi Bakar Diri Biarawan Buddha di Saigon


Waktu: 11 Juni 1963
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Malcolm Browne

Selasa siang, 11 Juni 1963. Lalu-lintas di Kota Saigon, ibukota Vietnam Selatan, sedang ramai-ramainya. Pada perempatan Jalan Phan Dinh Phung dan Le Van Duyet, ratusan biksu berjajar di sekitar perempatan. Sebuah mobil sedan biru mendadak berhenti. Dari dalam mobil seorang biksu melangkah keluar menuju tengah perempatan, diikuti oleh dua orang biksu lainnya. Salah seorang biksu pengikut meletakkan bantalan di tengah perempatan sedang yang satunya lagi mengeluarkan lima jerigen dari dalam bagasi mobil.

Sesampainya di tengah perempatan, biksu yang pertama, belakangan diketahui bernama Thich Quang Duc, duduk dengan mengambil posisi lotus tradisional, posisi bersila dalam bertapa. Dua biksu pengikut menuangkan isi jerigen yang ternyata adalah bensin ke sekujur tubuh biksu yang duduk tersebut.

“Nam Mo A Di Da Phat…,” terdengar biksu tersebut sejenak berdoa. Berikutnya, dengan tenang dia menggoreskan korek api dan membakar tubuhnya.

Api seketika membakar sekujur tubuh biksu tersebut. Luar biasa, sedikitpun tubuhnya tak bergerak dan sama sekali tak terdengar suara mengerang apalagi menjerit kesakitan! Sungguh bertolak belakang dengan keadaan di sekelilingnya yang hiruk pikuk oleh kegaduhan dan suara ratapan orang-orang yang menyaksikannya. 

Polisi yang berada di sekitar lokasi mencoba mengendalikan situasi, namun gagal karena blokade lingkaran yang dibuat oleh ratusan biksu lainnya. Salah seorang biksu terus-menerus berteriak: “Seorang Biksu Buddhis membakar diri. Seorang biksu Buddhis menjadi martir!!!”

Thich Quang Duc adalah seorang biksu Buddha Ramayana. Apa yang dilakukannya adalah ritual Self-Immolation atau pengorbanan diri sendiri. Itu dilakukannya sebagai protes terhadap rezim Ngo Dinh Diem yang kerap membantai dan menyiksa biksu-biksu

Dalam pesan terakhirnya, yang disampaikan melalui sebuah surat, Thich Quang Duc berujar: “Sebelum aku menutup mata dan mendekatkan diriku kepada Buddha, dengan penuh rasa hormat aku meminta kepada Ngo Dinh Diem untuk menunjukkan sedikit rasa belas kasih kepada rakyatmu dan memberlakukan kesamaan agama untuk mempertahankan kesatuan negeri ini. Aku juga memanggil saudara-saudara dalam se-dhamma untuk melakukan pengorbanan dalam rangka melindungi Buddhisme."

Apa yang dilakukan oleh Thich Quang Duc bukanlah kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah tindakan yang telah direncanakan sebelumnya. Terbukti, sehari sebelum aksi tersebut juru bicara umat Buddha di kota itu telah menyampaikan pesan kepada koresponden-koresponden Amerika yang banyak terdapat di sana (catatan: pada waktu itu tengah berlangsung invasi Amerika Serikat ke Vietnam sehingga banyak wartawan negara adidaya tersebut yang berada di Vietnam untuk meliput jalannya perang). Isinya mengatakan bahwa akan terjadi “sesuatu yang penting” esok hari di jalan di depan Kedubes Kamboja. Namun, karena persoalan umat Buddha sudah menjadi krisis sejak beberapa bulan sebelumnya, tak banyak wartawan yang menanggapi pesan tersebut.

Meskipun aksi tersebut telah merenggut nyawa Thich Quang Duc, namun Presiden Ngo Dinh Diem, sebagai sasaran aksi protes, menanggapi dengan dingin aksi tersebut. Dia bahkan mengeluarkan pernyataan yang menyebut Thich Quang Duc dalam keadaan mabuk obat-obatan sebelum dipaksa melakukan aksi bakar diri! Komentar lebih sinis datang dari adik ipar Dinh Diem - yang saat itu dianggap sebagai Lady First karena Dinh Diem adalah bujangan. Wanita tersebut berkomentar: “clap hands at seeing another monk barbecue show" (mari bertepuk tangan untuk acara memanggang biarawan lainnya).

Namun, pada saat kejadian, dua orang reporter New York Times yaitu Malcolm Browne dan David Halberstam datang ke lokasi untuk meliput kejadian. Publikasi besar-besaran terhadap peristiwa tersebut menarik perhatian dunia internasional. Dilengkapi dengan foto Malcolm Browne yang mengabadikan momen saat tubuh Thich Quang Duc terbakar, David Halberstam antara lain menulis: "Aku mengamati lagi, tetapi sekali saja sudah cukup. Api itu datang dari manusia; tubuhnya perlahan layu dan mengerut ke atas, kepalanya menghitam dan menjadi arang. Di udara tercium bau daging manusia terbakar; seorang manusia secara mengejutkan terbakar dengan cepat. Dibelakangku, aku bisa mendengar isak para warga Vietnam yang sekarang berkumpul. Aku terlalu shock untuk menangis, terlalu bingung untuk mencatat atau mengajukan pertanyaan, dan terlalu bingung untuk berpikir … Ketika ia terbakar, ia tidak pernah bergerak sedikitpun, tidak mengucapkan suara, dilakukan dengan ketenangan luar biasa, menjadi kontras dengan ratapan orang-orang di sekelilingnya."

Simpati terhadap biksu-biksu Buddha dan tekanan terhadap rezim Ngo Dinh Diem pun berdatangan dari segala penjuru dunia, sementara Malcolm Browne dan David Halberstam mendapat Penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggi untuk bidang jurnalisme cetak di AS.




Sumber :
http://www.kaskus.co.id/thread/512f607ddb9248c203000016/rezim-diem-mendiskriminasi-kaum-buddha-biksu-thich-quang-duc-bakar-diri/

Thursday, January 15, 2015

Eksekusi di Saigon oleh Kepala Polisi Vietnam Selatan


Waktu: Kamis, 1 Februari 1968
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Eddie Adams dari Associated Press

Setelah Jenderal Nguyễn Ngọc Loan (Kepala Kepolisian Vietnam Selatan) mengangkat pistolnya dan menembak anggota Vietkong Nguyễn Văn Lém di kepala dengan kepala dingin, dia berjalan ke arah para wartawan dan berkata: "Orang-orang ini telah banyak membunuh rakyat kami, dan saya pikir Budha akan memaafkan tindakan saya." Peristiwa yang tidak terduga tersebut terekam oleh kamera NBC TV dan fotografer AP Eddie Adams, yang langsung menyebarkannya ke seluruh dunia dan menjadi simbol dari kebrutalan Perang Vietnam. Foto hasil jepretan Adams ini terutama menggetarkan karena diambil tepat pada saat malaikat pencabut nyawa beraksi melalui peluru yang menembus kepala si korban, dan ekspresi kesakitan terakhir dari Lém kentara sekali tergambar dari mukanya. Bila dilihat lebih jelas lagi, kita bisa mengetahui bahwa peluru menembus tengkoraknya dan tak lama kemudian darah menyembur dari lubang yang terdapat di kepalanya.

Fotografer AP Eddie Adams pernah menulis bahwa “foto adalah senjata yang paling kuat di dunia," dan perkataan ini dengan tepat sekali direpresentasikan melalui gambar eksekusi Saigon yang dibuatnya sendiri. Foto perwira polisi Vietnam yang menembak tawanannya yang terikat di kepala dalam jarak dekat ini tidak hanya membuatnya mendapatkan Pulitzer Prize di tahun 1969, tapi juga telah "meloncat" lebih jauh menjadi salah satu pendorong utama gerakan anti perang yang merebak di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan tidaklah sehitam-putih seperti yang terlihat. Apa yang tidak diungkapkan oleh foto hasil jepretan Adams tersebut adalah bahwa orang yang menjadi korban (Nguyễn Văn Lém) merupakan kapten dari "Pasukan Pembalas" Vietkong yang sebelumnya telah mengeksekusi selusin warga sipil pada hari yang sama (termasuk beberapa anggota keluarga sang jenderal polisi). Yang kemudian terjadi adalah, sang penarik pelatuk lah (Nguyễn Ngọc Loan) yang mengemuka ke permukaan sebagai penjahatnya!

Sumber Vietnam Selatan mengatakan bahwa Lém menjadi komandan dari sebuah grup pembunuh Vietkong yang di hari itu menargetkan para perwira Polisi Nasional Vietnam Selatan beserta keluarganya. Sumber yang sama mengklaim bahwa Lém juga ditangkap di sebuah lokasi kuburan massal yang berisi 12 orang - dengan tujuh diantaranya merupakan anggota keluarga perwira polisi. Fotografer Adams membenarkan keterangan dari sumber resmi Vietnam Selatan tersebut meskipun dia sendiri tidak hadir pada saat penangkapan Lém tapi hanya pada saat pengeksekusiannya oleh Loan. Setelah ditangkap, Lém dihadapkan pada sang pimpinan polisi, yang kemudian menginterogasinya sebentar sebelum menembaknya menggunakan pistol Smith & Wesson kaliber 38.
Adams mengatakan bahwa dia sangat bersimpati pada sang algojo polisi dan mengharapkan bahwa, kalaulah waktu bisa diulang kembali, dia tak akan pernah mempublikasikan foto tersebut. Memang dari sejak foto jepretan Adams menyebar, Loan menjadi "penjahat kemanusiaan" di mata masyarakat Barat, dan kehidupannya begitu terganggu sehingga dia kemudian dipaksa untuk menutup warung pizza yang dikelolanya di pengasingan di Amerika. Mengenai hal ini, Adams berkata: "Sang jenderal telah membunuh Vietkong dengan pistolnya, sementara aku telah membunuh sang jenderal dengan kameraku."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/saigon-execution-murder-vietcong-saigon-1968/



Tuesday, December 16, 2014

Albert Einstein di Pantai Tahun 1939


Waktu: Bulan September 1939
Tempat: Long Island, New York, Amerika Serikat
Fotografer: Tidak diketahui

Foto ini diambil pada bulan September 1939 dan memperlihatkan ilmuwan terkenal Albert Einstein sedang bersantai di sebuah pantai di dekat rumah musim panasnya di Long Island, New York. Orang di sebelah kirinya adalah David Rothman yang merupakan teman sekaligus pemilik department store lokal. Rothman mengenang bahwa pada awal Einstein berbelanja disana terjadi peristiwa lucu ketika dia memesan, dengan aksen Jermannya yang kental, sepasang "sundahls" (sandal), yang disangka Rothman sebagai "sundial" (jam matahari)! Sang ilmuwan akhirnya berhasil mengatasi kesalahpahaman bahasa itu dan membeli sandal putihnya seharga $1.35. Setelahnya Einstein tertawa dan menyalahkan "aksen bicara saya yang mengerikan." Kedua orang ini kemudian menjadi sahabat dekat dan malah tinggal dalam satu blok yang sama bersama dua keluarga lainnya.

Pada tahun 1939 Einstein menyewa sebuah cottage di Nassau Point/Cutchogue sehingga dia bisa menambatkan perahu layarnya di Horseshoe Cove. Bagi Einstein, Long Island hanyalah berarti tempat dimana dia bisa bersantai dan beristirahat dari aktivitasnya yang padat. Para tetangganya menyebut bahwa dua aktivitas utama sang ilmuwan disana adalah berlayar dan bermain biola. Einstein, yang tidak pernah belajar berenang, menamakan perahu layar kecilnya - dengan panjang 4,5 meter - sebagai "Tinef", yang berarti "Sampah" dalam bahasa Yahudi.

Sebelum musim panas tahun 1939 tersebut berakhir dia akan menulis surat pada Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt yang memperingatkan bahwa Amerika tidak dapat hanya diam menunggu sementara Nazi Jerman kemungkinan besar sedang dalam proses membuat senjata nuklir.

Einstein sendiri menjadi legenda karena kebiasaannya yang ogah memakai kaos kaki. Dia melakukannya karena mempunyai masalah dengan kakinya di sepanjang hidupnya, dimana dia mempunyai kaki yang datar dan menderita varises. Ketika dia berimigrasi ke Swiss Einstein disuruh untuk menghadap oleh petugas militer untuk melakukan tes kesehatan. Disinilah kakinya "divonis" mempunyai alas yang datar, sering berkeringat dan mempunyai pembuluh darah varises. Karenanya dia digolongkan sebagai "Tidak Lulus A" oleh komite penguji. "A" berarti bahwa dia hanya bisa digunakan untuk "tugas-tugas membantu saja". Meskipun begitu, Angkatan Darat Swiss tidak pernah memerintahkan Einstein untuk melakukan tugas-tugas pelayanan tersebut. Einstein sendiri mempunyai alasan lain tentang kebiasaannya yang hampir tidak pernah memakai kaos kaki: "Ketika saya muda, saya menemukan bahwa jempol kaki saya yang besar selalu membuat kaos kaki saya bolong. Karenanya saya berhenti memakai kaos kaki."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/einstein-at-the-beach-1939/

Friday, December 5, 2014

Patung Liberty dalam Proses Pembuatan


Waktu: Tahun 1885
Tempat: Prancis
Fotografer: Tidak diketahui

Ketika seorang politisi Prancis memberi usulan - dalam sebuah jamuan makan malam di tahun 1865 - bahwa sebuah monumen harus dibangun sebagai penghormatan bagi peringatan 100 tahun kemerdekaan Amerika Serikat , dia mungkin tidak akan membayangkan bahwa hasilnya akan menjadi ikon internasional untuk kemerdekaan yang paling terkenal!

Édouard René de Laboulaye adalah seorang suporter gigih pihak Union (Utara) dalam Perang Saudara Amerika (1861-1865), dan sangat gembira manakala mengetahui bahwa pihak yang didukungnya mampu mengalahkan Konfederasi (Selatan) sekaligus mengakhiri perbudakan di negara tersebut. Dalam sebuah pembicaraan di rumahnya di Paris, Laboulaye mengatakan: "Bila sebuah monumen harus didirikan di Amerika Serikat sebagai peringatan untuk kemerdekaan mereka, maka menurutku adalah sebuah hal yang pantas bila dia dibangun dengan usaha bersama diantara kedua negara, Amerika dan Prancis."

Dia tidak memaksudkan mengartikan komentarnya sebagai proposal, tapi itulah yang kemudian terjadi ketika perkataannya didengar oleh salah seorang tamu yang hadir saat itu, seorang pematung bernama Frédéric Bartholdi yang setuju bahwa proyek tersebut akan dikerjakan oleh Prancis dan Amerika bersama-sama. Tak lama kemudian Bartholdi telah menyelesaikan desain sebuah patung beraliran neoklasik dari dewa kemerdekaan/kebebasan Romawi, Patung Liberty. Tapi karena situasi politik yang memanas di Prancis pada waktu itu membuat pengerjaannya baru bisa dimulai pada tahun 1870-an.

Sang pematung baru saja memulai pengerjaan bagian kepala dan lengan pemegang obor ketika - pada tanggal 3 Maret 1877 - Presiden Amerika Serikat Ulysses S. Grant akhirnya menandatangani resolusi bersama yang mengotorrisasi sang presiden untuk menerima patung tersebut manakala dia dipersembahkan oleh Prancis. Resolusi tersebut menyebutkan pula bahwa Prancis akan menyediakan patungnya sementara Amerika podium tempat berdirinya. Lokasi penyimpanan patung tersebut ditentukan di Bedloe's Island (nantinya menjadi Liberty Island) di luar Manhattan, New York.

Setelah mendapat konfirmasi dari Amerika, Bartholdi segera kembali ke Paris untuk menyelesaikan bagian kepala yang kemudian dipamerkan di Paris World Fair tahun berikutnya (1878). Pada tahun 1885 dia akhirnya dirakit dan dikirimkan ke New York. Sebuah upacara untuk menghormati penyambutannya digelar pada tanggal 28 Oktober 1886 dimana hasil kerja keras Bartholdi (serta Gustave Eiffel, perancang Menara Eiffel yang ikut membantunya) dipamerkan dalam sebuah parade yang ditonton oleh ratusan ribu orang Amerika.



Sumber :
http://www.dailymail.co.uk/news/article-2163131/Bon-voyage-Unearthed-photos-Statue-Liberty-built-Paris-dedicated-American-people.html