Showing posts with label Foto Perang. Show all posts
Showing posts with label Foto Perang. Show all posts

Sunday, January 26, 2020

Empat Orang Perwira Australia di Malaya tahun 1956

Foto yang cukup menarik ini memperlihatkan empat orang perwira Angkatan Darat Australia yang mengenakan kombinasi pakaian yang tidak umum, yang hanya berlaku di negara tersebut: perpaduan celana pendek tropis dengan sabuk Sam Browne. Foto ini sendiri diambil di Kuala Kangsar, Malaya, pada tahun 1956. Mereka adalah para perwira dari C Company / 2nd Battalion / Royal Australian Regiment (2 RAR), dari kiri ke kanan: Lieutenant Brian William McFarlane (Komandan Peleton ke-7 Royal Australian Infantry), Lieutenant Harry Arthur Smith (Komandan Peleton ke-9 Royal Australian Infantry), Major Laurence Creswell Chambers (Komandan Kompi C Royal Australian Army Service Corps), dan Lieutenant Michael Warren Meredith (Komandan Peleton ke-8 Royal Australian Corps of Signals). Sepuluh tahun setelah foto ini diambil, di Vietnam Selatan tanggal 18 Agustus 1966, Major Smith - yang telah menjadi Komandan Kompi D / 6 RAR - memimpin pasukan Australia dalam Pertempuran Long Tan. Major McFarlane, Komandan Kompi C / 6 RAR, berada di lokasi yang tidak jauh darinya, dimana kompinya bertugas untuk mempertahankan markas batalyon selama berlangsungnya pertempuran yang berlangsung sengit dan brutal, untuk kemudian mengejar musuh yang mundur keesokan paginya. Major Smith dianugerahi medali Military Cross atas aksi heroiknya saat bertahan mati-matian menghadapi musuh yang berkekuatan berkali-kali lipat di Long Tan.


Sumber :
http://www.diggerhistory.info/pages-army-today/rar-sasr/2_rar.htm

Saturday, February 27, 2016

Pasukan Soviet di Desa yang Dibebaskan


Waktu: Desember 1941
Tempat: Pinggiran Moskow (Uni Soviet)
Fotografer: Ivan Shagin

Dalam kancah Perang Dunia II antara Jerman dan Uni Soviet, pasukan Hitler hampir saja menguasai Moskow sebelum dipukul mundur pada bulan Desember 1941. Foto ini memperlihatkan seorang ibu dari desa di pinggiran ibukota yang memeluk tentara Soviet yang baru saja membebaskan desanya dari pendudukan pasukan Nazi. Foto ini merupakan hasil jepretan dari Ivan Shagin dan berjudul "In the Liberated Village" (Di Desa yang Dibebaskan).

Pada awal bulan Desember 1941 itu, pasukan Jerman telah menyeberangi kanal Moskow-Volga dan unit terdepannya berada hanya 20 kilometer dari Kremlin. Tapi inilah jarak terdekat yang bisa ditempuh oleh Wehrmacht dengan ibukota Soviet, karena pada tanggal 5 Desember pasukan Stalin melancarkan serangan balik besar-besaran yang memporakporandakan posisi pasukan penyerbu.

Unit-unit Soviet - banyak diantaranya baru tiba di Moskow dari markas mereka di Siberia - menyerang tentara-tentara Jerman yang sudah berada di ambang batas ketahanan mereka. Pertempuran jarak dekat berlangsung dengan sengitnya dari satu lubang pertahanan ke lubang pertahanan lainnya, dan hanya yang terkuatlah yang berhasil selamat sementara yang lebih lemah musnah.

Pasukan Jerman tidak hanya kelelahan - mereka juga kurang persiapan menghadapi musim dingin ganas yang melanda Rusia. Para pimpinan Nazi meyakini bahwa perang akan berakhir di musim gugur tahun 1941, jadi mengapa juga harus repot-repot mempersiapkan pasukan mereka untuk bertempur di musim dingin? "Saat temperatur jatuh menjadi minus 30 derajat Celcius, mesin-mesin perang kami menjadi tidak berfungsi," kata Walter Schaefer-Kehnert, seorang perwira Jerman yang bertempur di Moskow. Tidak hanya itu, tentara Jerman juga menderita banyak korban yang terkena frostbite - jari-jari mereka membeku begitu parahnya sehingga banyak yang harus diamputasi!
 
Akhirnya wilayah-wilayah di sekeliling Moskow berhasil diduduki kembali oleh pasukan Soviet yang lebih mempunyai persiapan menghadapi musim dingin, dan di salah satu desa yang dibebaskan itu lah foto ini dibuat.


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/soviet-soldier-liberated-village/

Friday, February 19, 2016

Bayi Menangis di Stasiun Kereta Api Shanghai (1937)


Waktu: 14 Agustus 1937
Tempat: Shanghai (Cina)
Fotografer: H.S. Wong

"Bloody Saturday" (Sabtu Berdarah) adalah nama dari sebuah foto hitam-putih yang dipublikasikan secara luas pada bulan September-Oktober 1937 dan dalam waktu kurang dari satu bulan telah dilihat oleh lebih dari 136 juta pembaca! Foto ini memperlihatkan seorang bayi Cina yang menangis diantara puing-puing Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan, dan menjelma menjadi sebuah perlambang keganasan tentara Jepang di Cina. Diambil hanya beberapa menit setelah sebuah serangan udara Jepang yang mentargetkan warga sipil di Shanghai, fotografer H.S. "Newsreel" Wong dari Hearst Corporation (juga dikenal dengan nama Wong Hai-Sheng atau Wang Xiaoting) mengklaim bahwa dia tidak mengenali siapa si bocah yang terluka tersebut (atau bahkan jenis kelaminnya), hanya bahwa dia menangis di dekat tubuh ibunya yang telah tak bernyawa. Foto ini menjadi salah satu foto perang paling terkenal dalam sejarah, dan juga berhasil menggiring kebencian warga Barat pada pihak Jepang yang saat itu menginvasi negara Cina. Jurnalis Harold Isaacs bahkan menjuluki foto tersebut sebagai "salah satu bahan propaganda paling sukses sepanjang masa"!

Wong mengambil gambar Stasiun Selatan yang telah luluh lantak akibat dibombardir menggunakan kamera bergerak Eyemo, sementara untuk fotonya dia menggunakan kamera Leica. Foto yang sangat terkenal ini - yang diambil dari kamera Leica-nya - seringkali dirujuk bukan pada namanya, melainkan gambaran visual yang tercipta olehnya. Selain dari "Bloody Saturday", foto ini juga kerapkali diberi judul "Motherless Chinese Baby" (bayi Cina tak beribu), "Chinese Baby" (bayi Cina), atau "The Baby in the Shanghai Railroad Station" (bayi di Stasiun Kereta Api Shanghai). Pihak nasionalis Jepang sendiri murka atas tersebar luasnya foto tersebut dan menuduhnya sebagai sebuah foto sandiwara yang sengaja dirancang untuk mendiskreditkan negara mereka dan mengucilkannya dari pergaulan dunia internasional. Mereka bahkan membuka sayembara bagi siapa saja yang bisa membunuh sang fotografer maka akan diberikan uang sejumlah $50.000 (senilai dengan $820.000 di tahun 2016!).


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Bloody_Saturday_%28photograph%29

Wednesday, February 3, 2016

Gadis Napalm Perang Vietnam


Waktu: 8 Juni 1972
Tempat: Desa Trang Bang, Vietnam Selatan
Fotografer: Nick Ut

Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun berlari, telanjang sambil menangis. Di belakang gadis itu, terlihat bumbungan asap pekat ke angkasa menggetarkan jalanan. Di sekitar dia, terlihat pula empat bocah lainnya serta ada empat orang tentara bersenjata. Tubuh gadis kecil ini terbakar hebat. Ia menjerit kesakitan meminta pertolongan untuk meredakan sakitnya.

Phan Thị Kim Phúc adalah warga sebuah desa di Trang Bang, Vietnam. Pada tanggal 8 Juni 1972, pesawat Vietnam Selatan menjatuhkan bom napalm (bom bakar) di Trang Bang yang saat itu diduduki oleh pasukan Viet Cong (gerilyawan komunis Vietnam Utara). Dia bergabung dengan sejumlah warga biasa lainnya serta beberapa tentara Vietnam Selatan untuk kabur dari biara Cao Dai yang terletak di desa mereka dan bergegas menuju tempat perlindungan yang terletak tidak berapa jauh. Seorang pilot Vietnam Selatan salah mengira kelompok ini sebagai kelompok musuh dan memutuskan untuk membombardir mereka dengan bom napalm.

Fotografer Nick Ut mengambil gambar tersebut, dan ia kemudian memperoleh hadiah Pulitzer untuk fotografi atas gambar yang diambilnya. Gambar Kim Phúc berlarian tanpa berpakaian dengan latar belakang yang mengerikan menjadi sebuah simbol yang paling diingat atas Perang Vietnam. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian, Kim Phúc ingat pada saat itu dia sedang berteriak "panas, panas!" dalam foto tersebut.

Setelah mengambil gambarnya, Ut dengan segera membawa Kim Phúc dan anak-anak lainnya menuju sebuah rumah sakit di Saigon dimana dia dinyatakan tidak dapat bertahan hidup dengan luka bakar yang sedemikian parah. Walaupun demikian, setelah 14 bulan perawatan di rumah sakit dan 17 kali operasi, dia diizinkan untuk pulang kembali ke rumah.

Setelah dewasa, Kim Phúc dijadikan simbol anti perang oleh Pemerintah Vietnam. Pada tahun 1986, Phúc diberi izin oleh pemerintahnya untuk melanjutkan studi ke Kuba.

Setelah menerima izin, dia kemudian menuju Kuba dan bertemu Bui Huy Tuan. Pada tahun 1989, Ut menuju Kuba untuk bertemu dia dan tunangannya. Kim Phúc dan Bui Huy Tuan menikah dan pada tahun 1992 mereka pergi berbulan madu. Selama pengisian bahan bakar pesawat di Newfoundland, Kanada, mereka turun dari pesawat dan meminta perlindungan politik di negara tersebut. Sekarang mereka tinggal di Ontario dan memiliki dua orang anak.

Pada tahun 1996, dia bertemu kembali dengan dokter bedah yang telah menyelamatkan jiwanya berpuluh-puluh tahun sebelumnya.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Phan_Th%E1%BB%8B_Kim_Ph%C3%BAc
http://jogja.tribunnews.com/2015/10/27/kisah-phuc-gadis-napalm-perang-vietnam

Thursday, January 15, 2015

Eksekusi di Saigon oleh Kepala Polisi Vietnam Selatan


Waktu: Kamis, 1 Februari 1968
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Eddie Adams dari Associated Press

Setelah Jenderal Nguyễn Ngọc Loan (Kepala Kepolisian Vietnam Selatan) mengangkat pistolnya dan menembak anggota Vietkong Nguyễn Văn Lém di kepala dengan kepala dingin, dia berjalan ke arah para wartawan dan berkata: "Orang-orang ini telah banyak membunuh rakyat kami, dan saya pikir Budha akan memaafkan tindakan saya." Peristiwa yang tidak terduga tersebut terekam oleh kamera NBC TV dan fotografer AP Eddie Adams, yang langsung menyebarkannya ke seluruh dunia dan menjadi simbol dari kebrutalan Perang Vietnam. Foto hasil jepretan Adams ini terutama menggetarkan karena diambil tepat pada saat malaikat pencabut nyawa beraksi melalui peluru yang menembus kepala si korban, dan ekspresi kesakitan terakhir dari Lém kentara sekali tergambar dari mukanya. Bila dilihat lebih jelas lagi, kita bisa mengetahui bahwa peluru menembus tengkoraknya dan tak lama kemudian darah menyembur dari lubang yang terdapat di kepalanya.

Fotografer AP Eddie Adams pernah menulis bahwa “foto adalah senjata yang paling kuat di dunia," dan perkataan ini dengan tepat sekali direpresentasikan melalui gambar eksekusi Saigon yang dibuatnya sendiri. Foto perwira polisi Vietnam yang menembak tawanannya yang terikat di kepala dalam jarak dekat ini tidak hanya membuatnya mendapatkan Pulitzer Prize di tahun 1969, tapi juga telah "meloncat" lebih jauh menjadi salah satu pendorong utama gerakan anti perang yang merebak di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan tidaklah sehitam-putih seperti yang terlihat. Apa yang tidak diungkapkan oleh foto hasil jepretan Adams tersebut adalah bahwa orang yang menjadi korban (Nguyễn Văn Lém) merupakan kapten dari "Pasukan Pembalas" Vietkong yang sebelumnya telah mengeksekusi selusin warga sipil pada hari yang sama (termasuk beberapa anggota keluarga sang jenderal polisi). Yang kemudian terjadi adalah, sang penarik pelatuk lah (Nguyễn Ngọc Loan) yang mengemuka ke permukaan sebagai penjahatnya!

Sumber Vietnam Selatan mengatakan bahwa Lém menjadi komandan dari sebuah grup pembunuh Vietkong yang di hari itu menargetkan para perwira Polisi Nasional Vietnam Selatan beserta keluarganya. Sumber yang sama mengklaim bahwa Lém juga ditangkap di sebuah lokasi kuburan massal yang berisi 12 orang - dengan tujuh diantaranya merupakan anggota keluarga perwira polisi. Fotografer Adams membenarkan keterangan dari sumber resmi Vietnam Selatan tersebut meskipun dia sendiri tidak hadir pada saat penangkapan Lém tapi hanya pada saat pengeksekusiannya oleh Loan. Setelah ditangkap, Lém dihadapkan pada sang pimpinan polisi, yang kemudian menginterogasinya sebentar sebelum menembaknya menggunakan pistol Smith & Wesson kaliber 38.
Adams mengatakan bahwa dia sangat bersimpati pada sang algojo polisi dan mengharapkan bahwa, kalaulah waktu bisa diulang kembali, dia tak akan pernah mempublikasikan foto tersebut. Memang dari sejak foto jepretan Adams menyebar, Loan menjadi "penjahat kemanusiaan" di mata masyarakat Barat, dan kehidupannya begitu terganggu sehingga dia kemudian dipaksa untuk menutup warung pizza yang dikelolanya di pengasingan di Amerika. Mengenai hal ini, Adams berkata: "Sang jenderal telah membunuh Vietkong dengan pistolnya, sementara aku telah membunuh sang jenderal dengan kameraku."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/saigon-execution-murder-vietcong-saigon-1968/