Showing posts with label Negara Vietnam. Show all posts
Showing posts with label Negara Vietnam. Show all posts

Wednesday, February 3, 2016

Gadis Napalm Perang Vietnam


Waktu: 8 Juni 1972
Tempat: Desa Trang Bang, Vietnam Selatan
Fotografer: Nick Ut

Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun berlari, telanjang sambil menangis. Di belakang gadis itu, terlihat bumbungan asap pekat ke angkasa menggetarkan jalanan. Di sekitar dia, terlihat pula empat bocah lainnya serta ada empat orang tentara bersenjata. Tubuh gadis kecil ini terbakar hebat. Ia menjerit kesakitan meminta pertolongan untuk meredakan sakitnya.

Phan Thị Kim Phúc adalah warga sebuah desa di Trang Bang, Vietnam. Pada tanggal 8 Juni 1972, pesawat Vietnam Selatan menjatuhkan bom napalm (bom bakar) di Trang Bang yang saat itu diduduki oleh pasukan Viet Cong (gerilyawan komunis Vietnam Utara). Dia bergabung dengan sejumlah warga biasa lainnya serta beberapa tentara Vietnam Selatan untuk kabur dari biara Cao Dai yang terletak di desa mereka dan bergegas menuju tempat perlindungan yang terletak tidak berapa jauh. Seorang pilot Vietnam Selatan salah mengira kelompok ini sebagai kelompok musuh dan memutuskan untuk membombardir mereka dengan bom napalm.

Fotografer Nick Ut mengambil gambar tersebut, dan ia kemudian memperoleh hadiah Pulitzer untuk fotografi atas gambar yang diambilnya. Gambar Kim Phúc berlarian tanpa berpakaian dengan latar belakang yang mengerikan menjadi sebuah simbol yang paling diingat atas Perang Vietnam. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian, Kim Phúc ingat pada saat itu dia sedang berteriak "panas, panas!" dalam foto tersebut.

Setelah mengambil gambarnya, Ut dengan segera membawa Kim Phúc dan anak-anak lainnya menuju sebuah rumah sakit di Saigon dimana dia dinyatakan tidak dapat bertahan hidup dengan luka bakar yang sedemikian parah. Walaupun demikian, setelah 14 bulan perawatan di rumah sakit dan 17 kali operasi, dia diizinkan untuk pulang kembali ke rumah.

Setelah dewasa, Kim Phúc dijadikan simbol anti perang oleh Pemerintah Vietnam. Pada tahun 1986, Phúc diberi izin oleh pemerintahnya untuk melanjutkan studi ke Kuba.

Setelah menerima izin, dia kemudian menuju Kuba dan bertemu Bui Huy Tuan. Pada tahun 1989, Ut menuju Kuba untuk bertemu dia dan tunangannya. Kim Phúc dan Bui Huy Tuan menikah dan pada tahun 1992 mereka pergi berbulan madu. Selama pengisian bahan bakar pesawat di Newfoundland, Kanada, mereka turun dari pesawat dan meminta perlindungan politik di negara tersebut. Sekarang mereka tinggal di Ontario dan memiliki dua orang anak.

Pada tahun 1996, dia bertemu kembali dengan dokter bedah yang telah menyelamatkan jiwanya berpuluh-puluh tahun sebelumnya.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Phan_Th%E1%BB%8B_Kim_Ph%C3%BAc
http://jogja.tribunnews.com/2015/10/27/kisah-phuc-gadis-napalm-perang-vietnam

Friday, January 29, 2016

Aksi Bakar Diri Biarawan Buddha di Saigon


Waktu: 11 Juni 1963
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Malcolm Browne

Selasa siang, 11 Juni 1963. Lalu-lintas di Kota Saigon, ibukota Vietnam Selatan, sedang ramai-ramainya. Pada perempatan Jalan Phan Dinh Phung dan Le Van Duyet, ratusan biksu berjajar di sekitar perempatan. Sebuah mobil sedan biru mendadak berhenti. Dari dalam mobil seorang biksu melangkah keluar menuju tengah perempatan, diikuti oleh dua orang biksu lainnya. Salah seorang biksu pengikut meletakkan bantalan di tengah perempatan sedang yang satunya lagi mengeluarkan lima jerigen dari dalam bagasi mobil.

Sesampainya di tengah perempatan, biksu yang pertama, belakangan diketahui bernama Thich Quang Duc, duduk dengan mengambil posisi lotus tradisional, posisi bersila dalam bertapa. Dua biksu pengikut menuangkan isi jerigen yang ternyata adalah bensin ke sekujur tubuh biksu yang duduk tersebut.

“Nam Mo A Di Da Phat…,” terdengar biksu tersebut sejenak berdoa. Berikutnya, dengan tenang dia menggoreskan korek api dan membakar tubuhnya.

Api seketika membakar sekujur tubuh biksu tersebut. Luar biasa, sedikitpun tubuhnya tak bergerak dan sama sekali tak terdengar suara mengerang apalagi menjerit kesakitan! Sungguh bertolak belakang dengan keadaan di sekelilingnya yang hiruk pikuk oleh kegaduhan dan suara ratapan orang-orang yang menyaksikannya. 

Polisi yang berada di sekitar lokasi mencoba mengendalikan situasi, namun gagal karena blokade lingkaran yang dibuat oleh ratusan biksu lainnya. Salah seorang biksu terus-menerus berteriak: “Seorang Biksu Buddhis membakar diri. Seorang biksu Buddhis menjadi martir!!!”

Thich Quang Duc adalah seorang biksu Buddha Ramayana. Apa yang dilakukannya adalah ritual Self-Immolation atau pengorbanan diri sendiri. Itu dilakukannya sebagai protes terhadap rezim Ngo Dinh Diem yang kerap membantai dan menyiksa biksu-biksu

Dalam pesan terakhirnya, yang disampaikan melalui sebuah surat, Thich Quang Duc berujar: “Sebelum aku menutup mata dan mendekatkan diriku kepada Buddha, dengan penuh rasa hormat aku meminta kepada Ngo Dinh Diem untuk menunjukkan sedikit rasa belas kasih kepada rakyatmu dan memberlakukan kesamaan agama untuk mempertahankan kesatuan negeri ini. Aku juga memanggil saudara-saudara dalam se-dhamma untuk melakukan pengorbanan dalam rangka melindungi Buddhisme."

Apa yang dilakukan oleh Thich Quang Duc bukanlah kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah tindakan yang telah direncanakan sebelumnya. Terbukti, sehari sebelum aksi tersebut juru bicara umat Buddha di kota itu telah menyampaikan pesan kepada koresponden-koresponden Amerika yang banyak terdapat di sana (catatan: pada waktu itu tengah berlangsung invasi Amerika Serikat ke Vietnam sehingga banyak wartawan negara adidaya tersebut yang berada di Vietnam untuk meliput jalannya perang). Isinya mengatakan bahwa akan terjadi “sesuatu yang penting” esok hari di jalan di depan Kedubes Kamboja. Namun, karena persoalan umat Buddha sudah menjadi krisis sejak beberapa bulan sebelumnya, tak banyak wartawan yang menanggapi pesan tersebut.

Meskipun aksi tersebut telah merenggut nyawa Thich Quang Duc, namun Presiden Ngo Dinh Diem, sebagai sasaran aksi protes, menanggapi dengan dingin aksi tersebut. Dia bahkan mengeluarkan pernyataan yang menyebut Thich Quang Duc dalam keadaan mabuk obat-obatan sebelum dipaksa melakukan aksi bakar diri! Komentar lebih sinis datang dari adik ipar Dinh Diem - yang saat itu dianggap sebagai Lady First karena Dinh Diem adalah bujangan. Wanita tersebut berkomentar: “clap hands at seeing another monk barbecue show" (mari bertepuk tangan untuk acara memanggang biarawan lainnya).

Namun, pada saat kejadian, dua orang reporter New York Times yaitu Malcolm Browne dan David Halberstam datang ke lokasi untuk meliput kejadian. Publikasi besar-besaran terhadap peristiwa tersebut menarik perhatian dunia internasional. Dilengkapi dengan foto Malcolm Browne yang mengabadikan momen saat tubuh Thich Quang Duc terbakar, David Halberstam antara lain menulis: "Aku mengamati lagi, tetapi sekali saja sudah cukup. Api itu datang dari manusia; tubuhnya perlahan layu dan mengerut ke atas, kepalanya menghitam dan menjadi arang. Di udara tercium bau daging manusia terbakar; seorang manusia secara mengejutkan terbakar dengan cepat. Dibelakangku, aku bisa mendengar isak para warga Vietnam yang sekarang berkumpul. Aku terlalu shock untuk menangis, terlalu bingung untuk mencatat atau mengajukan pertanyaan, dan terlalu bingung untuk berpikir … Ketika ia terbakar, ia tidak pernah bergerak sedikitpun, tidak mengucapkan suara, dilakukan dengan ketenangan luar biasa, menjadi kontras dengan ratapan orang-orang di sekelilingnya."

Simpati terhadap biksu-biksu Buddha dan tekanan terhadap rezim Ngo Dinh Diem pun berdatangan dari segala penjuru dunia, sementara Malcolm Browne dan David Halberstam mendapat Penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggi untuk bidang jurnalisme cetak di AS.




Sumber :
http://www.kaskus.co.id/thread/512f607ddb9248c203000016/rezim-diem-mendiskriminasi-kaum-buddha-biksu-thich-quang-duc-bakar-diri/

Thursday, January 15, 2015

Eksekusi di Saigon oleh Kepala Polisi Vietnam Selatan


Waktu: Kamis, 1 Februari 1968
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Eddie Adams dari Associated Press

Setelah Jenderal Nguyễn Ngọc Loan (Kepala Kepolisian Vietnam Selatan) mengangkat pistolnya dan menembak anggota Vietkong Nguyễn Văn Lém di kepala dengan kepala dingin, dia berjalan ke arah para wartawan dan berkata: "Orang-orang ini telah banyak membunuh rakyat kami, dan saya pikir Budha akan memaafkan tindakan saya." Peristiwa yang tidak terduga tersebut terekam oleh kamera NBC TV dan fotografer AP Eddie Adams, yang langsung menyebarkannya ke seluruh dunia dan menjadi simbol dari kebrutalan Perang Vietnam. Foto hasil jepretan Adams ini terutama menggetarkan karena diambil tepat pada saat malaikat pencabut nyawa beraksi melalui peluru yang menembus kepala si korban, dan ekspresi kesakitan terakhir dari Lém kentara sekali tergambar dari mukanya. Bila dilihat lebih jelas lagi, kita bisa mengetahui bahwa peluru menembus tengkoraknya dan tak lama kemudian darah menyembur dari lubang yang terdapat di kepalanya.

Fotografer AP Eddie Adams pernah menulis bahwa “foto adalah senjata yang paling kuat di dunia," dan perkataan ini dengan tepat sekali direpresentasikan melalui gambar eksekusi Saigon yang dibuatnya sendiri. Foto perwira polisi Vietnam yang menembak tawanannya yang terikat di kepala dalam jarak dekat ini tidak hanya membuatnya mendapatkan Pulitzer Prize di tahun 1969, tapi juga telah "meloncat" lebih jauh menjadi salah satu pendorong utama gerakan anti perang yang merebak di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan tidaklah sehitam-putih seperti yang terlihat. Apa yang tidak diungkapkan oleh foto hasil jepretan Adams tersebut adalah bahwa orang yang menjadi korban (Nguyễn Văn Lém) merupakan kapten dari "Pasukan Pembalas" Vietkong yang sebelumnya telah mengeksekusi selusin warga sipil pada hari yang sama (termasuk beberapa anggota keluarga sang jenderal polisi). Yang kemudian terjadi adalah, sang penarik pelatuk lah (Nguyễn Ngọc Loan) yang mengemuka ke permukaan sebagai penjahatnya!

Sumber Vietnam Selatan mengatakan bahwa Lém menjadi komandan dari sebuah grup pembunuh Vietkong yang di hari itu menargetkan para perwira Polisi Nasional Vietnam Selatan beserta keluarganya. Sumber yang sama mengklaim bahwa Lém juga ditangkap di sebuah lokasi kuburan massal yang berisi 12 orang - dengan tujuh diantaranya merupakan anggota keluarga perwira polisi. Fotografer Adams membenarkan keterangan dari sumber resmi Vietnam Selatan tersebut meskipun dia sendiri tidak hadir pada saat penangkapan Lém tapi hanya pada saat pengeksekusiannya oleh Loan. Setelah ditangkap, Lém dihadapkan pada sang pimpinan polisi, yang kemudian menginterogasinya sebentar sebelum menembaknya menggunakan pistol Smith & Wesson kaliber 38.
Adams mengatakan bahwa dia sangat bersimpati pada sang algojo polisi dan mengharapkan bahwa, kalaulah waktu bisa diulang kembali, dia tak akan pernah mempublikasikan foto tersebut. Memang dari sejak foto jepretan Adams menyebar, Loan menjadi "penjahat kemanusiaan" di mata masyarakat Barat, dan kehidupannya begitu terganggu sehingga dia kemudian dipaksa untuk menutup warung pizza yang dikelolanya di pengasingan di Amerika. Mengenai hal ini, Adams berkata: "Sang jenderal telah membunuh Vietkong dengan pistolnya, sementara aku telah membunuh sang jenderal dengan kameraku."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/saigon-execution-murder-vietcong-saigon-1968/