Showing posts with label Foto Kematian. Show all posts
Showing posts with label Foto Kematian. Show all posts

Saturday, February 13, 2016

Hukuman Mati Ruth Snyder


Waktu: 12 Januari 1928
Tempat: Penjara Sing Sing, New York (Amerika Serikat)
Fotografer: Tom Howard

Anda penasaran mengapa foto eksekusi hukuman mati sulit dilihat di media massa? Foto berikut inilah penyebabnya.

Pelaksanaan hukuman mati di era modern nyaris tidak pernah didokumentasikan. Indonesia misalnya, melarang wartawan atau warga umum menonton proses eksekusi regu tembak. Dari seluruh arsip hukuman mati, foto-foto yang beredar kebanyakan berupa ilustrasi atau situasi penjara sebelum dan sesudah eksekusi. Tapi di Amerika Serikat, seorang fotografer pemula berhasil mengabadikan saat-saat terakhir terpidana meregang nyawa di kursi listrik.

Foto itu, menurut Majalah TIME edisi 10 April 2014, merupakan satu-satunya rekaman gambar paling detail dan dramatis dari sebuah hukuman mati sepanjang sejarah!

Pesakitan yang sedang dijemput ajal melalui kursi listrik dalam foto itu bernama Ruth Snyder. Dia adalah ibu rumah tangga asal Kota New York, yang pada tahun 1927 dinyatakan bersalah karena melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya sendiri, Albert Snyder. Dalam aksi busuk untuk merebut harta suaminya tersebut, dia dibantu selingkuhan bernama Judd Gray, yang juga dihukum mati.

Kasus pembunuhan ini pada masanya menggemparkan publik Amerika Serikat. Saban sidang selalu ramai diliput media. Oleh sebab itu, pengadilan memerintahkan eksekusi mati Ruth pada 12 Januari 1928 di dalam Penjara Sing-Sing tertutup untuk pers.

Surat kabar New York Daily News rupanya tak kehilangan akal. Tahu semua wartawan mereka sudah dihafal mukanya oleh polisi, koran ini menyewa jasa Tom Howard, seorang fotografer muda asal Kota Chicago. Pria itu berhasil mengelabui petugas penjara dengan cara menyelipkan kamera di pergelangan kakinya. Kabel khusus dia hubungkan ke tombol di paha. Dengan demikian, sambil duduk menyaksikan proses eksekusi kursi listrik, Tom tetap bisa mengambil gambar dalam detik-detik akhir Ruth sedang meregang nyawa, saat badannya menggelepar karena menerima sengatan listrik yang mematikan (sehingga gambar menjadi sedikit buram).


Sumber :
http://www.merdeka.com/dunia/ini-foto-hukuman-mati-paling-dramatis-sepanjang-sejarah.html

Wednesday, February 10, 2016

Pembunuhan Gorila di Kongo


Waktu: Juli 2007
Tempat: Mikeno, Kongo
Fotografer: Brent Stirton

 Pada tanggal 22 Juli 2007 sekelompok pemburu tak dikenal membunuh satu keluarga gorila di kaki gunung volkano Mikeno yang terletak di bagian timur Republik Demokrasi Kongo. Dengan bersenjatakan senjata otomatis, para pembunuh kejam ini menghabisi nyawa 12 ekor gorila anggota keluarga Rugendo yang terkenal diantara turis-turis yang datang berkunjung dan juga dicintai oleh para penjaga Taman Nasional Virunga tempat mereka tinggal. Keluarga kera raksasa terkemuka ini dipimpin oleh seekor gorila berpunggung putih dengan berat 226 kg bernama Senkwekwe. Dia dan anggota kelompoknya mungkin saja mengetahui kedatangan para pemburu yang akan mencabut nyawa mereka, tapi karena selama ini mereka sudah biasa melihat manusia yang lalu-lalang di sekitar habitatnya, kemungkinan besar mereka tidak menjadi waspada karenanya (begitu dekatnya habitat keluarga Rugendo dengan pemukiman manusia sehingga kadang-kadang salah satu anggotanya keluar dari hutan untuk 'berpiknik' di kebun jagung di wilayah perbatasan sehingga membuat marah petani lokal!).

Para Ranger (penjaga Taman Nasional) di barak Bukima yang terletak berdekatan bersaksi bahwa mereka mendengar beberapa kali letusan senjata di tengah malam. Saat melakukan patroli jalan-kaki keesokan paginya, mereka menemukan tiga gorila betina - Mburanumwe, Neza, dan Safari - telah tergeletak tak bernyawa, sementara bayi Safari yang masih hidup merangkak di sebelah ibunya. Keesokan harinya Senkwekwe ditemukan telah mati pula akibat dari luka tembakan di bagian dada. Tiga minggu kemudian bangkai anggota keluarga Rugendo lainnya, gorila betina Macibri, ikut ditemukan bersama dengan bayinya yang juga telah tak bernyawa.

Hanya sebulan sebelumnya, dua ekor betina serta seekor bayi dari grup gorila lainnya telah mendapat serangan dari pemburu tak dikenal. Para Ranger menemukan salah satu betinanya ditembak dari arah belakang dari jarak dekat layaknya eksekusi, sementara bayinya yang dibiarkan hidup tetap berada di pelukan ibunya. Gorila betina yang lainnya tidak pernah ditemukan.

Secara total, tujuh ekor gorila dari pegunungan Virunga telah terbunuh hanya dalam waktu kurang dari dua bulan, dan sampai saat ini orang yang bertanggung jawab melakukannya tidak pernah diketahui. Foto hasil jepretan dari wartawan National Geography Brent Stirton mengabadikan saat-saat pemimpin gorila Senkwekwe, yang sudah tak bernyawa, dibawa menggunakan tandu bagaikan anggota keluarga kerajaan oleh para penduduk desa yang menangisi kepergiannya. Foto ini kemudian menjadi terkenal dan dimuat di berbagai suratkabar dan majalah luar negeri. Pembunuhan semena-mena binatang tak berdosa ini memicu kemarahan dunia internasional yang mendesak pemerintah negara Kongo untuk segera menyelidikinya.


Sumber :
http://ngm.nationalgeographic.com/2008/07/virunga/jenkins-text

Friday, January 29, 2016

Aksi Bakar Diri Biarawan Buddha di Saigon


Waktu: 11 Juni 1963
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Malcolm Browne

Selasa siang, 11 Juni 1963. Lalu-lintas di Kota Saigon, ibukota Vietnam Selatan, sedang ramai-ramainya. Pada perempatan Jalan Phan Dinh Phung dan Le Van Duyet, ratusan biksu berjajar di sekitar perempatan. Sebuah mobil sedan biru mendadak berhenti. Dari dalam mobil seorang biksu melangkah keluar menuju tengah perempatan, diikuti oleh dua orang biksu lainnya. Salah seorang biksu pengikut meletakkan bantalan di tengah perempatan sedang yang satunya lagi mengeluarkan lima jerigen dari dalam bagasi mobil.

Sesampainya di tengah perempatan, biksu yang pertama, belakangan diketahui bernama Thich Quang Duc, duduk dengan mengambil posisi lotus tradisional, posisi bersila dalam bertapa. Dua biksu pengikut menuangkan isi jerigen yang ternyata adalah bensin ke sekujur tubuh biksu yang duduk tersebut.

“Nam Mo A Di Da Phat…,” terdengar biksu tersebut sejenak berdoa. Berikutnya, dengan tenang dia menggoreskan korek api dan membakar tubuhnya.

Api seketika membakar sekujur tubuh biksu tersebut. Luar biasa, sedikitpun tubuhnya tak bergerak dan sama sekali tak terdengar suara mengerang apalagi menjerit kesakitan! Sungguh bertolak belakang dengan keadaan di sekelilingnya yang hiruk pikuk oleh kegaduhan dan suara ratapan orang-orang yang menyaksikannya. 

Polisi yang berada di sekitar lokasi mencoba mengendalikan situasi, namun gagal karena blokade lingkaran yang dibuat oleh ratusan biksu lainnya. Salah seorang biksu terus-menerus berteriak: “Seorang Biksu Buddhis membakar diri. Seorang biksu Buddhis menjadi martir!!!”

Thich Quang Duc adalah seorang biksu Buddha Ramayana. Apa yang dilakukannya adalah ritual Self-Immolation atau pengorbanan diri sendiri. Itu dilakukannya sebagai protes terhadap rezim Ngo Dinh Diem yang kerap membantai dan menyiksa biksu-biksu

Dalam pesan terakhirnya, yang disampaikan melalui sebuah surat, Thich Quang Duc berujar: “Sebelum aku menutup mata dan mendekatkan diriku kepada Buddha, dengan penuh rasa hormat aku meminta kepada Ngo Dinh Diem untuk menunjukkan sedikit rasa belas kasih kepada rakyatmu dan memberlakukan kesamaan agama untuk mempertahankan kesatuan negeri ini. Aku juga memanggil saudara-saudara dalam se-dhamma untuk melakukan pengorbanan dalam rangka melindungi Buddhisme."

Apa yang dilakukan oleh Thich Quang Duc bukanlah kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah tindakan yang telah direncanakan sebelumnya. Terbukti, sehari sebelum aksi tersebut juru bicara umat Buddha di kota itu telah menyampaikan pesan kepada koresponden-koresponden Amerika yang banyak terdapat di sana (catatan: pada waktu itu tengah berlangsung invasi Amerika Serikat ke Vietnam sehingga banyak wartawan negara adidaya tersebut yang berada di Vietnam untuk meliput jalannya perang). Isinya mengatakan bahwa akan terjadi “sesuatu yang penting” esok hari di jalan di depan Kedubes Kamboja. Namun, karena persoalan umat Buddha sudah menjadi krisis sejak beberapa bulan sebelumnya, tak banyak wartawan yang menanggapi pesan tersebut.

Meskipun aksi tersebut telah merenggut nyawa Thich Quang Duc, namun Presiden Ngo Dinh Diem, sebagai sasaran aksi protes, menanggapi dengan dingin aksi tersebut. Dia bahkan mengeluarkan pernyataan yang menyebut Thich Quang Duc dalam keadaan mabuk obat-obatan sebelum dipaksa melakukan aksi bakar diri! Komentar lebih sinis datang dari adik ipar Dinh Diem - yang saat itu dianggap sebagai Lady First karena Dinh Diem adalah bujangan. Wanita tersebut berkomentar: “clap hands at seeing another monk barbecue show" (mari bertepuk tangan untuk acara memanggang biarawan lainnya).

Namun, pada saat kejadian, dua orang reporter New York Times yaitu Malcolm Browne dan David Halberstam datang ke lokasi untuk meliput kejadian. Publikasi besar-besaran terhadap peristiwa tersebut menarik perhatian dunia internasional. Dilengkapi dengan foto Malcolm Browne yang mengabadikan momen saat tubuh Thich Quang Duc terbakar, David Halberstam antara lain menulis: "Aku mengamati lagi, tetapi sekali saja sudah cukup. Api itu datang dari manusia; tubuhnya perlahan layu dan mengerut ke atas, kepalanya menghitam dan menjadi arang. Di udara tercium bau daging manusia terbakar; seorang manusia secara mengejutkan terbakar dengan cepat. Dibelakangku, aku bisa mendengar isak para warga Vietnam yang sekarang berkumpul. Aku terlalu shock untuk menangis, terlalu bingung untuk mencatat atau mengajukan pertanyaan, dan terlalu bingung untuk berpikir … Ketika ia terbakar, ia tidak pernah bergerak sedikitpun, tidak mengucapkan suara, dilakukan dengan ketenangan luar biasa, menjadi kontras dengan ratapan orang-orang di sekelilingnya."

Simpati terhadap biksu-biksu Buddha dan tekanan terhadap rezim Ngo Dinh Diem pun berdatangan dari segala penjuru dunia, sementara Malcolm Browne dan David Halberstam mendapat Penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggi untuk bidang jurnalisme cetak di AS.




Sumber :
http://www.kaskus.co.id/thread/512f607ddb9248c203000016/rezim-diem-mendiskriminasi-kaum-buddha-biksu-thich-quang-duc-bakar-diri/

Sunday, January 24, 2016

Bocah Afrika yang Kelaparan dan Burung Bangkai


Waktu: Maret 1993
Tempat: Desa Ayod, Sudan
Fotografer: Kevin Carter

Seekor burung bangkai dengan tenang menunggu bocah perempuan Afrika di depannya yang sedang meregang nyawa karena kelaparan. Gambar terkenal ini diambil oleh jurnalis foto asal Afrika Selatan, Kevin Carter, saat dia ditugaskan untuk meliput bencana kelaparan hebat di negara Sudan. Beberapa bulan kemudian sang fotografer mencabut nyawanya sendiri karena depresi atas apa yang telah dilihatnya. 

Orangtua bocah tersebut sedang sibuk mengambil bantuan makanan dari pesawat sehingga mereka meninggalkan anaknya selama beberapa waktu. Pada saat itulah Carter datang ke lokasi, sebuah wilayah yang berdekatan dengan desa Ayod di Sudan. Dia melihat seorang bocah perempuan tak berdaya yang berusaha keras menyeret tubuhnya yang lemah ke lokasi pemberian bantuan makanan. Ketika dia sedang berhenti sebentar untuk beristirahat, tak lama kemudian datang seekor burung bangkai yang mendarat di belakang si bocah. Untuk mendapatkan fokus yang diinginkan dimana kedua obyek ini sama-sama nampak dalam foto, Carter mendekati lokasi dengan sangat berhati-hati karena takut membuat burung bangkai tersebut terbang. Dari jarak sekitar 10 meter dia mengambil foto yang kemudian menjadi fenomenal di seluruh dunia. Carter mengambil beberapa foto lainnya selama sekitar 20 menit sebelum mengusir burung tersebut.

Setahun setelahnya (1994), Kevin Carter mendapatkan penghargaan Pulitzer atas fotonya yang menggetarkan nurani ini. Di tahun yang sama fotografer dari Afrika Selatan tersebut melakukan bunuh diri.

Tanpa fakta-fakta meyakinkan yang menyelubungi kematiannya, orang awam pastilah menganggapnya sebuah sebuah hal yang mengejutkan. Padahal dari sejak tersebarluasnya untuk pertama kali foto bocah Afrika dan burung bangkai tersebut di suratkabar The Now York Times terbitan bulan Maret 1993, banyak orang yang melayangkan kritik pedas kepada Carter. Masyarakat penasaran apa yang terjadi kemudian dengan si bocah tersebut, dan apakah Carter membantunya. The Times kemudian mengeluarkan statemen bahwa si bocah berhasil selamat sampai ke lokasi bantuan makanan, tapi di luar itu tak ada yang mengetahui kabarnya. Karena hal tersebut Carter dibombardir oleh pertanyaan tentang mengapa dia tidak membantu bocah tersebut, dan hanya memanfaatkaannya untuk menjadi obyek fotonya.

Yang jelas, Carter bekerja di masa para fotografer dan wartawan dilarang untuk menyentuh korban kelaparan karena takut tertular oleh penyakit yang mereka idap. Carter sendiri mengatakan bahwa tidak kurang dari 20 orang perhari yang meninggal di lokasi pemberian bantuan makanan, dan bocah malang itupun tidak menjadi pengecualian dalam hal tersebut. Tapi di lain waktu Carter juga sering mengekspresikan penyesalannya bahwa pada saat itu dia tidak melakukan apa-apa untuk membantu bocah Afrika malang yang menjadi obyek fotonya yang paling terkenal, meskipun sebenarnya pada saat itupun tak banyak yang dia bisa lakukan.

Pada tanggal 27 Juli 1994 Kevin Carter mengendarai mobilnya ke Braamfontein, sebuah kawasan dimana kawasan tersebut biasanya digunakan untuk tempat bermain. Disana dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara mengalirkan pipa knalpot mobilnya ke jendela di sisi pengemudi. Dia lalu meninggal karena keracunan karbon monoksida. Carter meninggalkan sebuah catatan yang berisi:

"Aku sungguh, sungguh menyesal. Rasa sakit telah menimpaku hingga bahagia itu takkan ada lagi... tertekan ... tanpa telepon ... uang sewa ... uang untuk hutang ... uang!!! ... Aku dihantui oleh ingatan dari pembunuhan dan mayat dan kemarahan dan kesakitan ... kelaparan atau anak kecil yang terluka, dari orang gila bersenjata, bahkan polisi, dari eksekutor hukum mati ... Aku pergi untuk bergabung dengan Ken (rekan sekerjanya Ken Oosterbroek yang meninggal beberapa minggu sebelumnya), kalau aku seberuntung itu.."



Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kevin_Carter
http://rarehistoricalphotos.com/vulture-little-girl/

Thursday, January 15, 2015

Eksekusi di Saigon oleh Kepala Polisi Vietnam Selatan


Waktu: Kamis, 1 Februari 1968
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Eddie Adams dari Associated Press

Setelah Jenderal Nguyễn Ngọc Loan (Kepala Kepolisian Vietnam Selatan) mengangkat pistolnya dan menembak anggota Vietkong Nguyễn Văn Lém di kepala dengan kepala dingin, dia berjalan ke arah para wartawan dan berkata: "Orang-orang ini telah banyak membunuh rakyat kami, dan saya pikir Budha akan memaafkan tindakan saya." Peristiwa yang tidak terduga tersebut terekam oleh kamera NBC TV dan fotografer AP Eddie Adams, yang langsung menyebarkannya ke seluruh dunia dan menjadi simbol dari kebrutalan Perang Vietnam. Foto hasil jepretan Adams ini terutama menggetarkan karena diambil tepat pada saat malaikat pencabut nyawa beraksi melalui peluru yang menembus kepala si korban, dan ekspresi kesakitan terakhir dari Lém kentara sekali tergambar dari mukanya. Bila dilihat lebih jelas lagi, kita bisa mengetahui bahwa peluru menembus tengkoraknya dan tak lama kemudian darah menyembur dari lubang yang terdapat di kepalanya.

Fotografer AP Eddie Adams pernah menulis bahwa “foto adalah senjata yang paling kuat di dunia," dan perkataan ini dengan tepat sekali direpresentasikan melalui gambar eksekusi Saigon yang dibuatnya sendiri. Foto perwira polisi Vietnam yang menembak tawanannya yang terikat di kepala dalam jarak dekat ini tidak hanya membuatnya mendapatkan Pulitzer Prize di tahun 1969, tapi juga telah "meloncat" lebih jauh menjadi salah satu pendorong utama gerakan anti perang yang merebak di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan tidaklah sehitam-putih seperti yang terlihat. Apa yang tidak diungkapkan oleh foto hasil jepretan Adams tersebut adalah bahwa orang yang menjadi korban (Nguyễn Văn Lém) merupakan kapten dari "Pasukan Pembalas" Vietkong yang sebelumnya telah mengeksekusi selusin warga sipil pada hari yang sama (termasuk beberapa anggota keluarga sang jenderal polisi). Yang kemudian terjadi adalah, sang penarik pelatuk lah (Nguyễn Ngọc Loan) yang mengemuka ke permukaan sebagai penjahatnya!

Sumber Vietnam Selatan mengatakan bahwa Lém menjadi komandan dari sebuah grup pembunuh Vietkong yang di hari itu menargetkan para perwira Polisi Nasional Vietnam Selatan beserta keluarganya. Sumber yang sama mengklaim bahwa Lém juga ditangkap di sebuah lokasi kuburan massal yang berisi 12 orang - dengan tujuh diantaranya merupakan anggota keluarga perwira polisi. Fotografer Adams membenarkan keterangan dari sumber resmi Vietnam Selatan tersebut meskipun dia sendiri tidak hadir pada saat penangkapan Lém tapi hanya pada saat pengeksekusiannya oleh Loan. Setelah ditangkap, Lém dihadapkan pada sang pimpinan polisi, yang kemudian menginterogasinya sebentar sebelum menembaknya menggunakan pistol Smith & Wesson kaliber 38.
Adams mengatakan bahwa dia sangat bersimpati pada sang algojo polisi dan mengharapkan bahwa, kalaulah waktu bisa diulang kembali, dia tak akan pernah mempublikasikan foto tersebut. Memang dari sejak foto jepretan Adams menyebar, Loan menjadi "penjahat kemanusiaan" di mata masyarakat Barat, dan kehidupannya begitu terganggu sehingga dia kemudian dipaksa untuk menutup warung pizza yang dikelolanya di pengasingan di Amerika. Mengenai hal ini, Adams berkata: "Sang jenderal telah membunuh Vietkong dengan pistolnya, sementara aku telah membunuh sang jenderal dengan kameraku."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/saigon-execution-murder-vietcong-saigon-1968/