Waktu: 22 April 2000 Tempat: Miami (Amerika Serikat) Fotografer: Alan Diaz
Alan Diaz dari Associated Press memenangkan Hadiah Pulitzer untuk kategory "Breaking News Photography" untuk fotonya yang diambil pada waktu subuh tanggal 22 April 2000 dan memperlihatkan operasi penyelamatan Elian Gonzalez. Dalam foto ini, Elian - yang baru berumur 6 tahun - berada dalam pelukan Donato Dalrymple, sementara pasukan federal Amerika menyerbu masuk ke rumah yang mereka tinggali untuk merebut Elian dari tangan pengasuhnya.
Ketika berusia 5 tahun, Elian ditemukan terapung-apung di lepas pantai Florida pada sebuah ban dalam mobil setelah ibunya dan orang-orang Kuba lainnya tenggelam saat mencoba mencapai wilayah Amerika. Ayah Elian, yang berpisah dengan ibunya, tetap tinggal di Kuba. Para pejabat imigrasi Amerika Serikat menetapkan bocah itu harus kembali ke Kuba walau ada keberatan dari kerabat-kerabat Elian di Miami dan para pengungsi Kuba lainnya. Hal ini menciptakan sebuah kehebohan nasional yang menyebabkan kandidat presiden George W. Bush dan Al Gore ikut memberikan pendapat.
Kerabatnya menolak untuk menyerahkan Elian. Agen-agen federal menggerebek rumah paman Elian di Little Havana, Miami, dengan senjata terkokang dan menangkap bocah itu dari sebuah lemari pakaian untuk dikembalikan kepada ayahnya. Elian disambut bagai pahlawan di Kuba ketika dia kembali dan ayahnya—Juan Miguel Gonzalez, seorang karyawan restoran—terpilih menjadi anggota parlemen, kursi yang masih didudukinya hingga setidaknya tahun 2010.
Kuba biasanya memperingati hari ulang tahun Elian setiap 7 Desember dengan pawai-pawai dan acara-acara lokal, tetapi acara semacam itu tidak terbuka bagi wartawan asing. Elian secara resmi kemudian bergabung dengan Persatuan Pemuda Komunis tahun 2008, dan menjadi berita utama di seluruh Kuba.
Waktu: 19 April 1995 Tempat: Oklahoma City (Amerika Serikat) Fotografer: Charles H. Porter IV
Pada tanggal 19 April 1995, Charles Porter sedang bekerja di bagian peminjaman Bank Liberty yang terletak di dekat pusat kota Oklahoma, Amerika Serikat. Tiba-tiba, "terdengar ledakan, ledakan yang sangat besar... suara menggelegar, seperti dentuman meriam super raksasa. Seluruh bangunan bergetar, sementara kaca jendela pecah dimana-mana. Kami segera melihat keluar jendela dan tampaklah debu dan puing-puing bertebaran di angkasa, diiringi oleh awan coklat raksasa yang membumbung tinggi."
Pikiran Porter langsung mengatakan bahwa sebuah bangunan telah meledak di sekitarnya. Dia - yang merupakan seorang fotografer amatir - segera pergi ke mobilnya dan mengambil kamera sebelum kemudian berlari menuju ke lokasi ledakan. "Terdapat banyak pecahan kaca yang berserakan di jalanan. Aku juga melihat beberapa tubuh telah tergeletak, dengan sebagiannya tak bernyawa. Seorang pria melintas tanpa memakai pakaian sementara darah mengalir dari kepalanya."
Ketika Porter berhasil mencapai bangunan pemerintahan Alfred P. Murrah yang menjadi lokasi ledakan, "seakan-akan seseorang telah mencukur habis bagian depannya dan kemudian mencongkel bagian tengahnya dengan sendok es krim. Kamu bisa melihat jelas melaluinya."
Porter langsung menjepretkan kameranya berkali-kali: gereja terdekat yang kaca berornamennya telah pecah berserakan, dan para penyelamat yang sibuk membawa orang yang terluka keluar dari lokasi ledakan. Kemudian, "aku lihat seseorang berlari di sudut mataku. Aku langsung berbalik dengan kameraku: terlihat seorang anggota kepolisian yang membawa sesuatu, lalu menyerahkannya ke petugas pemadam kebakaran. Si petugas berbalik, dan tampak dia sedang menggendong seorang bayi yang terluka parah. Dia memegangnya sambil melihatnya selama beberapa detik, dan saat itulah aku menjepretkan fotoku."
Hari itu tercatat sebagai salah satu serangan teroris terburuk dalam sejarah Amerika. Seorang veteran Perang Teluk bernama Timothy McVeigh meledakkan bom berkekuatan 4800 lbs. Sehingga meluluhlantakkan Gedung Pemerintah Federal Alfred P. Murrah. Ledakan itu telah melukai lebih dari 500 orang dan juga menewaskan 168 lainnya. Bayi yang berada dalam foto Porter tersebut adalah salah satu yang kehilangan nyawanya di hari itu. Baylee Almon yang baru berusia satu tahun.
Foto hasil Jepretan Porter kemudian memenangkan penghargaan Pulitzer tahun 1996 untuk kategori "Winner in Spot Photography".
Sumber :
http://www.newseum.org/2015/03/31/pulitzer-prize-photography-the-oklahoma-city-bombing/
Waktu: 8 Juni 1972
Tempat: Desa Trang Bang, Vietnam Selatan
Fotografer: Nick Ut
Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun berlari, telanjang sambil menangis. Di belakang gadis itu, terlihat bumbungan asap pekat ke angkasa menggetarkan jalanan. Di sekitar dia, terlihat pula empat bocah lainnya serta ada empat orang tentara bersenjata. Tubuh gadis kecil ini terbakar hebat. Ia menjerit kesakitan meminta pertolongan untuk meredakan sakitnya.
Phan Thị Kim Phúc adalah warga sebuah desa di Trang Bang, Vietnam. Pada tanggal 8 Juni 1972, pesawat Vietnam Selatan menjatuhkan bom napalm (bom bakar) di Trang Bang yang saat itu diduduki oleh pasukan Viet Cong (gerilyawan komunis Vietnam Utara). Dia bergabung dengan sejumlah warga biasa lainnya serta beberapa tentara Vietnam Selatan untuk kabur dari biara Cao Dai yang terletak di desa mereka dan bergegas menuju tempat perlindungan yang terletak tidak berapa jauh. Seorang pilot Vietnam Selatan salah mengira kelompok ini sebagai kelompok musuh dan memutuskan untuk membombardir mereka dengan bom napalm.
Fotografer Nick Ut mengambil gambar tersebut, dan ia kemudian memperoleh hadiah Pulitzer untuk fotografi atas gambar yang diambilnya. Gambar Kim Phúc berlarian tanpa berpakaian dengan latar belakang yang mengerikan menjadi sebuah simbol yang paling diingat atas Perang Vietnam. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian, Kim Phúc ingat pada saat itu dia sedang berteriak "panas, panas!" dalam foto tersebut.
Setelah mengambil gambarnya, Ut dengan segera membawa Kim Phúc dan anak-anak lainnya menuju sebuah rumah sakit di Saigon dimana dia dinyatakan tidak dapat bertahan hidup dengan luka bakar yang sedemikian parah. Walaupun demikian, setelah 14 bulan perawatan di rumah sakit dan 17 kali operasi, dia diizinkan untuk pulang kembali ke rumah.
Setelah dewasa, Kim Phúc dijadikan simbol anti perang oleh Pemerintah Vietnam. Pada tahun 1986, Phúc diberi izin oleh pemerintahnya untuk melanjutkan studi ke Kuba.
Setelah menerima izin, dia kemudian menuju Kuba dan bertemu Bui Huy Tuan. Pada tahun 1989, Ut menuju Kuba untuk bertemu dia dan tunangannya. Kim Phúc dan Bui Huy Tuan menikah dan pada tahun 1992 mereka pergi berbulan madu. Selama pengisian bahan bakar pesawat di Newfoundland, Kanada, mereka turun dari pesawat dan meminta perlindungan politik di negara tersebut. Sekarang mereka tinggal di Ontario dan memiliki dua orang anak.
Pada tahun 1996, dia bertemu kembali dengan dokter bedah yang telah menyelamatkan jiwanya berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Waktu: 11 Juni 1963
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Malcolm Browne
Selasa siang, 11 Juni 1963. Lalu-lintas di Kota Saigon, ibukota Vietnam Selatan, sedang ramai-ramainya. Pada perempatan Jalan Phan Dinh Phung dan Le Van Duyet, ratusan biksu berjajar di sekitar perempatan. Sebuah mobil sedan biru mendadak berhenti. Dari dalam mobil seorang biksu melangkah keluar menuju tengah perempatan, diikuti oleh dua orang biksu lainnya. Salah seorang biksu pengikut meletakkan bantalan di tengah perempatan sedang yang satunya lagi mengeluarkan lima jerigen dari dalam bagasi mobil.
Sesampainya di tengah perempatan, biksu yang pertama, belakangan diketahui bernama Thich Quang Duc, duduk dengan mengambil posisi lotus tradisional, posisi bersila dalam bertapa. Dua biksu pengikut menuangkan isi jerigen yang ternyata adalah bensin ke sekujur tubuh biksu yang duduk tersebut.
“Nam Mo A Di Da Phat…,” terdengar biksu tersebut sejenak berdoa. Berikutnya, dengan tenang dia menggoreskan korek api dan membakar tubuhnya.
Api seketika membakar sekujur tubuh biksu tersebut. Luar biasa, sedikitpun tubuhnya tak bergerak dan sama sekali tak terdengar suara mengerang apalagi menjerit kesakitan! Sungguh bertolak belakang dengan keadaan di sekelilingnya yang hiruk pikuk oleh kegaduhan dan suara ratapan orang-orang yang menyaksikannya.
Polisi yang berada di sekitar lokasi mencoba mengendalikan situasi, namun gagal karena blokade lingkaran yang dibuat oleh ratusan biksu lainnya. Salah seorang biksu terus-menerus berteriak: “Seorang Biksu Buddhis membakar diri. Seorang biksu Buddhis menjadi martir!!!”
Thich Quang Duc adalah seorang biksu Buddha Ramayana. Apa yang dilakukannya adalah ritual Self-Immolation atau pengorbanan diri sendiri. Itu dilakukannya sebagai protes terhadap rezim Ngo Dinh Diem yang kerap membantai dan menyiksa biksu-biksu
Dalam pesan terakhirnya, yang disampaikan melalui sebuah surat, Thich Quang Duc berujar: “Sebelum aku menutup mata dan mendekatkan diriku kepada Buddha, dengan penuh rasa hormat aku meminta kepada Ngo Dinh Diem untuk menunjukkan sedikit rasa belas kasih kepada rakyatmu dan memberlakukan kesamaan agama untuk mempertahankan kesatuan negeri ini. Aku juga memanggil saudara-saudara dalam se-dhamma untuk melakukan pengorbanan dalam rangka melindungi Buddhisme."
Apa yang dilakukan oleh Thich Quang Duc bukanlah kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah tindakan yang telah direncanakan sebelumnya. Terbukti, sehari sebelum aksi tersebut juru bicara umat Buddha di kota itu telah menyampaikan pesan kepada koresponden-koresponden Amerika yang banyak terdapat di sana (catatan: pada waktu itu tengah berlangsung invasi Amerika Serikat ke Vietnam sehingga banyak wartawan negara adidaya tersebut yang berada di Vietnam untuk meliput jalannya perang). Isinya mengatakan bahwa akan terjadi “sesuatu yang penting” esok hari di jalan di depan Kedubes Kamboja. Namun, karena persoalan umat Buddha sudah menjadi krisis sejak beberapa bulan sebelumnya, tak banyak wartawan yang menanggapi pesan tersebut.
Meskipun aksi tersebut telah merenggut nyawa Thich Quang Duc, namun Presiden Ngo Dinh Diem, sebagai sasaran aksi protes, menanggapi dengan dingin aksi tersebut. Dia bahkan mengeluarkan pernyataan yang menyebut Thich Quang Duc dalam keadaan mabuk obat-obatan sebelum dipaksa melakukan aksi bakar diri! Komentar lebih sinis datang dari adik ipar Dinh Diem - yang saat itu dianggap sebagai Lady First karena Dinh Diem adalah bujangan. Wanita tersebut berkomentar: “clap hands at seeing another monk barbecue show" (mari bertepuk tangan untuk acara memanggang biarawan lainnya).
Namun, pada saat kejadian, dua orang reporter New York Times yaitu Malcolm Browne dan David Halberstam datang ke lokasi untuk meliput kejadian. Publikasi besar-besaran terhadap peristiwa tersebut menarik perhatian dunia internasional. Dilengkapi dengan foto Malcolm Browne yang mengabadikan momen saat tubuh Thich Quang Duc terbakar, David Halberstam antara lain menulis: "Aku mengamati lagi, tetapi sekali saja sudah cukup. Api itu datang dari manusia; tubuhnya perlahan layu dan mengerut ke atas, kepalanya menghitam dan menjadi arang. Di udara tercium bau daging manusia terbakar; seorang manusia secara mengejutkan terbakar dengan cepat. Dibelakangku, aku bisa mendengar isak para warga Vietnam yang sekarang berkumpul. Aku terlalu shock untuk menangis, terlalu bingung untuk mencatat atau mengajukan pertanyaan, dan terlalu bingung untuk berpikir … Ketika ia terbakar, ia tidak pernah bergerak sedikitpun, tidak mengucapkan suara, dilakukan dengan ketenangan luar biasa, menjadi kontras dengan ratapan orang-orang di sekelilingnya."
Simpati terhadap biksu-biksu Buddha dan tekanan terhadap rezim Ngo Dinh Diem pun berdatangan dari segala penjuru dunia, sementara Malcolm Browne dan David Halberstam mendapat Penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggi untuk bidang jurnalisme cetak di AS.