Showing posts with label Foto Bencana. Show all posts
Showing posts with label Foto Bencana. Show all posts

Monday, October 10, 2016

Paus yang Meledak di Jalanan Taiwan


Waktu: 26 Januari 2004
Tempat: Tainan (Taiwan)
Fotografer: Tidak diketahui

Peristiwa ini terjadi pada pada tanggal 26 Januari 2004 di Taiwan. Seekor makhluk air raksasa dari jenis paus sperma sepanjang 17 meter dengan berat sekitar 50 ton mati terdampar di pantai yang terletak di barat-daya Yunlin, Taiwan. Paus dengan ukuran terbesar yang pernah ditemukan di negara tersebut itu pada awalnya dibawa dengan menggunakan truk trailer ke Universitas Nasional Cheng Kung di Tainan atas perintah dari Ahli Biologi Kelautan Profesor Wang Chien-Ping untuk diteliti oleh dia dan para koleganya. Karena pihak institusi universitas ternyata menolak memberikan izin, maka si paus lalu dibawa ke Wilayah Reservasi Sutsao (Shi-Tsao). BTW, karena ukurannya yang luar biasa besar, dibutuhkan waktu selama 13 jam serta tiga mesin derek dan 50 orang pekerja  hanya untuk memindahkannya dari pantai ke truk trailer!

Dalam perjalanan ke Sutsao, perut paus tersebut tiba-tiba meledak sehingga mengakibatkan tumpahnya ceceran darah yang menggenangi jalan dan membasahi mobil di dekatnya, serta ditambah lagi dengan gumpalan organ-organ perut yang berserakan dimana-mana. Seorang warga setempat menggambarkan bahwa kejadian tersebut "layaknya film horor, dimana darah dan organ dalam yang keluar dari perut paus tersebut begitu menjijikkan dan mengeluarkan bau yang benar-benar busuk".

Profesor Wang Chien-Ping dari Universitas Nasional Cheng Kung memperkirakan bahwa ledakan ini terjadi akibat gas yang timbul dari proses pembusukan yang terjadi secara alami setelah paus tersebut mati. Selama satu tahun selanjutnya, Wang melakukan penelitian terhadap bangkau paus sperma yang kematiannya - serta proses peledakannya - menimbulkan kehebohan besar di Taiwan tersebut. Beberapa bagian darinya kini dipamerkan di Musium Purba Taijiang. 






Sumber :
http://1001pintu.blogspot.co.id/2011/03/seekor-ikan-paus-raksasa-meledak-di.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Exploding_whale
https://id.crowdvoice.com/posts/perut-paus-meledak-di-tengah-jalan-raya-23gA
http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/3437455.stm

Sunday, February 28, 2016

Petugas Pemadam Kebakaran yang Memberi Minum Koala


Waktu: 1 Februari 2009
Tempat: Victoria (Australia)
Fotografer: Mark Pardew

Seorang sukarelawan petugas pemadam kebakaran Australia menerima penghargaan sebagai seorang pahlawan dari organisasi aktivis penyelamatan satwa PETA. David Tree dinilai berjasa karena menyelamatkan seekor Koala yang kehausan dan menderita akibat kebakaran hebat yang melanda hutan di negara bagian Victoria, yang dinamakan sebagai "Black Friday" (Jum'at Hitam).

Sam, nama dari si koala, menjadi terkenal setelah foto yang memperlihatkan dia minum dari botol minuman milik Tree. Tree menemukan Sam - yang sebagian kuku kakinya telah mengelupas akibat terbakar - di rumpun eucaliptus saat terjadi kebakaran di Mirboo North, timur-laut Melbourne, tanggal 1 Februari 2009. Demikian yang ditulis oleh AFP (Agence France-Presse) edisi hari Sabtu tanggal 14 Februari 2009.

"Kakinya terlihat sekali bermasalah sehingga membuat dia sulit untuk bergerak, jadi aku hentikan truk pemadam kebakaran kami. Saat aku dekati, dia diam saja dan tak bereaksi seakan-akan ingin mengatakan 'aku sudah pasrah'. Aku lalu menyodorkan minuman dari botol air, dan bagian yang paling menakjubkan adalah ketika dia merengkuh tanganku. Aku tak akan pernah melupakan hal tersebut."

"Kasih sayang yang ditunjukan David Tree saat menyelamatkan Sam adalah inspirasi untuk seluruh komunitas ini," ujar Direktur PETA Jason Baker.

Sam sendiri kemudian pelan-pelan mulai sembuh setelah menderita beberapa luka bakar pada tubuhnya. Dan di tempat perawatan hewan, Sam kini punya pacar baru bernama Bob. Sesama Koala tentunya.

Kebakaran semak di Australia digolongkan ke dalam bencana besar. Bagaimana tidak, akibat kombinasi antara udara panas, angin kencang yang arahnya bisa berubah-ubah setiap saat serta jangkauan hamparan yang luas, dalam waktu singkat kebakaran semak ini dapat menghabiskan ribuan hektar yang di dalamnya termasuk kawasan konservasi hutan, satwa liar, peternakan dan rumah-rumah. Kebakaran yang terjadi di bagian tenggara negara bagian Victoria, Australia tersebut telah menewaskan 81 orang, menghancurkan 1.800 rumah dan menghanguskan 450.000 hektar.

 
Sumber :
http://news.detik.com/berita/1085019/selamatkan-koala-petugas-pemadam-kebakaran-jadi-pahlawan

Saturday, February 27, 2016

Petugas Pemadam Kebakaran dengan Bayi yang Terluka


Waktu: 19 April 1995
Tempat: Oklahoma City (Amerika Serikat)
Fotografer: Charles H. Porter IV

Pada tanggal 19 April 1995, Charles Porter sedang bekerja di bagian peminjaman Bank Liberty yang terletak di dekat pusat kota Oklahoma, Amerika Serikat. Tiba-tiba, "terdengar ledakan, ledakan yang sangat besar... suara menggelegar, seperti dentuman meriam super raksasa. Seluruh bangunan bergetar, sementara kaca jendela pecah dimana-mana. Kami segera melihat keluar jendela dan tampaklah debu dan puing-puing bertebaran di angkasa, diiringi oleh awan coklat raksasa yang membumbung tinggi."

Pikiran Porter langsung mengatakan bahwa sebuah bangunan telah meledak di sekitarnya. Dia - yang merupakan seorang fotografer amatir - segera pergi ke mobilnya dan mengambil kamera sebelum kemudian berlari menuju ke lokasi ledakan. "Terdapat banyak pecahan kaca yang berserakan di jalanan. Aku juga melihat beberapa tubuh telah tergeletak, dengan sebagiannya tak bernyawa. Seorang pria melintas tanpa memakai pakaian sementara darah mengalir dari kepalanya."

Ketika Porter berhasil mencapai bangunan pemerintahan Alfred P. Murrah yang menjadi lokasi ledakan, "seakan-akan seseorang telah mencukur habis bagian depannya dan kemudian mencongkel bagian tengahnya dengan sendok es krim. Kamu bisa melihat jelas melaluinya."

Porter langsung menjepretkan kameranya berkali-kali: gereja terdekat yang kaca berornamennya telah pecah berserakan, dan para penyelamat yang sibuk membawa orang yang terluka keluar dari lokasi ledakan. Kemudian, "aku lihat seseorang berlari di sudut mataku. Aku langsung berbalik dengan kameraku: terlihat seorang anggota kepolisian yang membawa sesuatu, lalu menyerahkannya ke petugas pemadam kebakaran. Si petugas berbalik, dan tampak dia sedang menggendong seorang bayi yang terluka parah. Dia memegangnya sambil melihatnya selama beberapa detik, dan saat itulah aku menjepretkan fotoku."

Hari itu tercatat sebagai salah satu serangan teroris terburuk dalam sejarah Amerika. Seorang veteran Perang Teluk bernama Timothy McVeigh meledakkan bom berkekuatan 4800 lbs. Sehingga meluluhlantakkan Gedung Pemerintah Federal Alfred P. Murrah. Ledakan itu telah melukai lebih dari 500 orang dan juga menewaskan 168 lainnya. Bayi yang berada dalam foto Porter tersebut adalah salah satu yang kehilangan nyawanya di hari itu. Baylee Almon yang baru berusia satu tahun.

Foto hasil Jepretan Porter kemudian memenangkan penghargaan Pulitzer tahun 1996 untuk kategori "Winner in Spot Photography".


Sumber :
http://www.newseum.org/2015/03/31/pulitzer-prize-photography-the-oklahoma-city-bombing/

Friday, February 19, 2016

Bayi Menangis di Stasiun Kereta Api Shanghai (1937)


Waktu: 14 Agustus 1937
Tempat: Shanghai (Cina)
Fotografer: H.S. Wong

"Bloody Saturday" (Sabtu Berdarah) adalah nama dari sebuah foto hitam-putih yang dipublikasikan secara luas pada bulan September-Oktober 1937 dan dalam waktu kurang dari satu bulan telah dilihat oleh lebih dari 136 juta pembaca! Foto ini memperlihatkan seorang bayi Cina yang menangis diantara puing-puing Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan, dan menjelma menjadi sebuah perlambang keganasan tentara Jepang di Cina. Diambil hanya beberapa menit setelah sebuah serangan udara Jepang yang mentargetkan warga sipil di Shanghai, fotografer H.S. "Newsreel" Wong dari Hearst Corporation (juga dikenal dengan nama Wong Hai-Sheng atau Wang Xiaoting) mengklaim bahwa dia tidak mengenali siapa si bocah yang terluka tersebut (atau bahkan jenis kelaminnya), hanya bahwa dia menangis di dekat tubuh ibunya yang telah tak bernyawa. Foto ini menjadi salah satu foto perang paling terkenal dalam sejarah, dan juga berhasil menggiring kebencian warga Barat pada pihak Jepang yang saat itu menginvasi negara Cina. Jurnalis Harold Isaacs bahkan menjuluki foto tersebut sebagai "salah satu bahan propaganda paling sukses sepanjang masa"!

Wong mengambil gambar Stasiun Selatan yang telah luluh lantak akibat dibombardir menggunakan kamera bergerak Eyemo, sementara untuk fotonya dia menggunakan kamera Leica. Foto yang sangat terkenal ini - yang diambil dari kamera Leica-nya - seringkali dirujuk bukan pada namanya, melainkan gambaran visual yang tercipta olehnya. Selain dari "Bloody Saturday", foto ini juga kerapkali diberi judul "Motherless Chinese Baby" (bayi Cina tak beribu), "Chinese Baby" (bayi Cina), atau "The Baby in the Shanghai Railroad Station" (bayi di Stasiun Kereta Api Shanghai). Pihak nasionalis Jepang sendiri murka atas tersebar luasnya foto tersebut dan menuduhnya sebagai sebuah foto sandiwara yang sengaja dirancang untuk mendiskreditkan negara mereka dan mengucilkannya dari pergaulan dunia internasional. Mereka bahkan membuka sayembara bagi siapa saja yang bisa membunuh sang fotografer maka akan diberikan uang sejumlah $50.000 (senilai dengan $820.000 di tahun 2016!).


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Bloody_Saturday_%28photograph%29

Tragedi Terbakarnya Balon Udara Hindenburg (1937)


Waktu: 6 Mei 1937
Tempat: Stasiun Angkatan Udara Lakehurst, New Jersey (Amerika Serikat)
Fotografer: Sam Shere

Pada tanggal 6 Mei 1937, pukul 19:25 balon gas raksasa Jerman dari jenis Zeppelin bernama Hindenburg musnah terbakar dalam tempo beberapa menit saja ketika sedang mencoba untuk berlabuh dengan tiang pengikat di Stasiun Angkatan Udara Lakehurst di New Jersey, Amerika Serikat. Dalam kejadian yang terkenal itu, dari keseluruhan 97 penumpang yang menaiki Hindenburg, sebanyak 35 jiwa diantaranya tewas.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg merupakan pesawat terbesar yang pernah dibangun pada saat itu. Pesawat itu dinamakan menurut Presiden Jerman Paul von Hindenburg, sebagaimana kebiasaan untuk menamakan semua kapal udara Jerman dengan nama lelaki. Kapal udara LZ-129 Hindenburg menggunakan rancangan terkini dengan menggunakan aluminium, berukuran sepanjang 245 meter, diameter 41 meter, dan mengandung 211.890 meter persegi gas hidrogen dalam 16 kampit atau sel. Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai daya angkut 112 ton, mempunyai empat mesin diesel berkekuatan 1100 tenaga kuda dengan kecepatan 135 kilometer per jam. Hindenburg mampu membawa 72 orang (50 orang jika menyeberangi Samudra Atlantik) dengan 61 awak kapal.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai bentuk yang licin dan menarik. Untuk mempertahankan bentuk yang aerodinamis, bagian penumpang terletak di dalam kantong udara dan bukan di luar. Hindenburg dilapisi dengan kain kapas yang disapu dengan campuran varnis selulus dan aluminium. Hindenburg dibangun oleh Luftschiffbau Zeppelin pada tahun 1935 dengan nilai £500.000. Kapal udara ini tercatat terbang untuk pertama kalinya pada Maret 1936 dan mencapai catatan menyeberangi Samudra Atlantik sebanyak dua kali dalam masa lima hari, 19 jam, dan 51 menit pada bulan Juli 1936. Hindenburg seharusnya diisi dengan gas helium tetapi embargo militer Amerika Serikat terhadap helium memaksa Jerman menggunakan gas hidrogen yang mudah terbakar sebagai gas pengapung.

Sebab utama kebakaran itu tidak diketahui dengan tepat. Salah satu sumber ledakan mungkin disebabkan oleh percikan listrik statis yang terkumpul dari gesekan dengan udara. Akibatnya, lapisan aluminium yang rentan akan api menjadi terbakar, dan memicu terlepasnya gas hidrogen yang mudah terbakar. Hidrogen terbakar tanpa warna, karenanya api yang menjulang mungkin menunjukkan api tersebut bukan disebabkan oleh hidrogen. Selain itu gas hidrogen di dalam Hindenburg pun telah dicampurkan dengan bau bawang putih agar dapat memberi tahukan bila terjadi kebocoran. Tidak ada siapapun yang selamat melaporkan bau bawang putih ketika penerbangan atau ketika percobaan pendaratan sebelum malapetaka tersebut. Sekiranya Amerika Serikat tidak mengenakan embargo militer kepada ekspor gas helium, api mungkin akan dapat dipadamkan lebih awal dan hanya menyebabkan kebocoran.

Terdapat beberapa kejadian kecelakaan kapal udara sebelum Hindenburg (semuanya tidak melibatkan Zeppelin) yang kebanyakan disebabkan oleh cuaca buruk. Bagaimanapun Zeppelin mempunyai catatan keselamatan yang menakjubkan. Sebagai contoh Graf Zeppelin telah terbang dengan selamat sejauh 1,6 juta km termasuk mengelilingi dunia. Pihak Jerman mengetahui dengan baik bahaya hidrogen dan telah mengamalkan langkah-langkah keselamatan yang ketat sepanjang penerbangan dengan kapal udara Zeppelin, termasuk menyimpan semua pemantik dan larangan merokok kecuali di dalam ruangan khusus. Perusahaan Zeppelin sangat bangga dengan fakta bahwa tidak ada seorang penumpang pun yang pernah terluka atau tercedera ketika terbang dengan kapal udara mereka. Zeppelin pun dianggap aman.

Musibah Hindenburg ini telah mengubah segalanya. Kepercayaan publik hilang sepenuhnya ketika mereka dihadapkan pada gambaran mengerikan dari televisi yang begitu jelas dan mengejutkan serta diiringi dengan rekaman bunyi secara langsung. Pengaruh pemberitaan yang sangat masif membuat pengangkutan Zeppelin terhenti. Peristiwa ini mengakhiri era kapal udara raksasa pembawa penumpang yang kaku .

Musibah ini diingat karena laporan berita televisi, gambar, dan rekaman radio Herbert Morrison mengenai laporan saksi mata langsung di lapangan pendaratan. Ulasan Morrison baru disiarkan pada keesokan harinya. Sebagian dari laporannya kemudian dimasukkan ke dalam tayangan berita (sehingga memberikan gambaran yang salah kepada mereka yang terbiasa melihat laporan langsung televisi pada masa kini bahwa laporan Morisson dan gambar diambil secara serentak).


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Musibah_Hindenburg

Tuesday, February 16, 2016

Tergulingnya Truk Pembawa Bonek (1995)


Waktu: 17 Mei 1995
Tempat: Surabaya (Indonesia)
Fotografer: Sholihuddin

Setiap pengunjung yang singgah ke redaksi Jawa Pos di Graha Pena, Surabaya, mesti pernah melihat foto ini. Ini adalah karya wartawan Jawa Pos Sholihuddin yang terpilih sebagai foto terbaik World Press Photo 1995 kategori spot news. Penghargaan tersebut sangat membanggakan bagi Jawa Pos. Sebab, itu adalah penghargaan paling bergengsi bagi wartawan foto sedunia. Ada kisah menarik di balik foto yang diambil pada 17 Mei 1995 tersebut. Terutama soal lokasi pemotretan.

Apabila salah tempat membidik, fotografer bisa dijadikan objek Bonek. Kamera ditarik-tarik atau dimintai uang. Ketika sedang memotret, bisa saja saku digerayangi suporter. Dan pengalaman seperti itu biasa dialami sang wartawan. Karena itulah, sosok yang akrab disapa Sho tersebut memilih tempat aman, yakni di depan Mapolsekta Genteng, Jalan Ambengan. Lokasi yang strategis. Berjarak 300 meter dari Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari, tempat tersebut pasti dilewati arus suporter yang pulang.

Kebetulan, saat itu Kodam V/Brawijaya dan Polda Jatim mengerahkan truk untuk mengangkut Bonek agar lekas pulang. Biasanya mereka berlama-lama nongkrong di jalan sehingga menimbulkan kemacetan. Diberi tumpangan gratis, tentu saja mereka langsung menyerbu dan berebut naik truk. Truk pertama berangkat. Giliran truk kedua. Truk milik kodam itu dinaiki lebih banyak orang, bahkan sampai desak-desakan. ”Istilah Jawa-nya sampai munjung,” kata Sholihuddin.

Ya, namanya juga suporter, dengan kondisi itu, mereka malah bersorak-sorai. Dengan berani, mereka merobek terpal truk milik tentara hingga penumpang meluber ke atas. Suporter yang di atas malah loncat-loncat kegirangan. Mereka tidak berhenti menyanyikan yel-yel Persebaya. Maklum, kala itu Persebaya menang atas PSIS Semarang 2-0. Tingkah suporter itu membuat laju truk bagaikan orang mabuk, oleng ke kanan dan ke kiri. Untung, si sopir, Prada Munib, sadar diri. Truk dijalankannya dengan pelan. Tahu mau jatuh, para suporter malah semakin bersorak dan tertawa.

Alhasil, truk pun oleng ke kanan. Sudut kemiringan pun lama-lama mengecil. Ban di sebelah kiri terangkat. Bak bagaikan sedang freestyle. Truk kemudian maju dengan hanya ban di sebelah kanan saja. Eeeh... eeeh... byuarrr!!! Truk pun terguling. Puluhan suporter yang di atas truk semburat meloncat menyelamatkan diri.

Sholihuddin sudah memprediksi momen itu. Temaram senja yang semakin gelap membuatnya memutuskan untuk memakai blitz. Beberapa detik sebelum truk ambruk, pret, dengan sekali jepretan, foto pun didapat.

”Saat memotret itu, saya terjengkang ditabrak suporter yang loncat. Posisi saya dekat dengan truk. Hanya 10 meter. Polisi yang bersiaga langsung membantu menyelamatkan suporter yang terjepit,” ucapnya.

Ketika dicetak di kantor, alangkah kagetnya Sholihuddin dengan hasil foto yang menakjubkan! Pemimpin Redaksi Jawa Pos Solihin Hidayat memintanya memasang di halaman satu. Suatu hal yang berbahaya, mengingat truk itu adalah milik TNI-AD. Pada era Orde Baru, terlalu sensitif apabila menjelek-jelekkan tentara. ”Setelah foto itu dimuat, saya sempat diteror agar foto tersebut tidak disebarkan. Hehehe...,” katanya, lantas terkekeh.

Lantas, bagaimana kondisi para korban? Pada Jawa Pos edisi 18 Mei 1995, nama dan alamat lengkap 12 korban yang di bawa ke RSUD dr Soetomo dicantumkan. Dari kliping itulah penelusuran oleh Jawa Pos dilakukan 10 tahun kemudian (2015). Di antara 12 orang tersebut, hanya Fauzi, Budi, dan Samsul Hadi yang mencantumkan alamat valid. Bukan hanya jalan, nomor rumah pun disertakan. Jawa Pos berusaha mendatangi rumah Fauzi dan Budi di Jalan Jinten 31, Surabaya. Rumah itu memang betul merupakan rumah mereka. Namun, sang pemilik rumah mengatakan Fauzi dan Budi sudah pergi dari Surabaya. ”Entah pergi ke mana,” kata si pemilik rumah.

Jawa Pos lantas berusaha mendatangi Samsul Hadi di Jalan Gadukan Utara VIIB/26, Gresik. Setelah tanya sana-sini, akhirnya alamat yang dituju berhasil ditemukan. Terletak hampir di ujung Gang VII-B. Perlu keluar masuk gang untuk menuju ke sana. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa lama, sesosok ibu tua keluar dan bertanya. Dia tampak panik saat kami membeberkan identitas sebagai wartawan, ”Ada apa dengan anak saya?” Setelah mendapat penjelasan panjang lebar, dia pun memberikan nomor kontak Samsul. Saat ini Samsul berdomisili di Yogyakarta. ”Ada apa, Mas? Ibu saya telepon saya dan nangis nangis. Jawa Pos datang ke rumah. Nyangka-nya ada apa,” kata Samsul mengawali pembicaraan di telepon.

Setelah Jawa Pos menjelaskan maksud pencarian tersebut, dia pun mengingat kembali memori lama. Ketika truk itu terguling, Samsul berada di kap bagian dalam. ”Memang penuh banget. Ya namanya juga suporter, ndak mau diem,” ungkapnya. Beberapa detik sebelum jatuh, kepala Samsul nongol ke luar jendela truk. Jika saja dia tidak menarik kepalanya, lehernya bisa saja patah. ”Untung banget itu. Untung. Meski begitu, ya tetap saja saya cedera. Tapi, ya nggak begitu parah,” ujarnya.


Sumber :
http://www.koran.padek.co/read/detail/39145

Tuesday, February 9, 2016

Tangan Bocah Afrika dan Misionaris Kulit Putih di Uganda


Waktu: April 1980
Tempat: Distrik Karamoja, Uganda
Fotografer: Mike Wells

Foto ini diambil di distrik Karamoja, Uganda, bulan April 1980, dan memperlihatkan perbedaan yang kontras antara tangan bocah Afrika yang kelaparan dengan tangan misionaris kulit putih yang memegangnya. Lebih dari setiap berita internasional yang muncul serta pidato dari banyak pemimpin dunia yang disampaikan, foto ini memberikan gambaran paling jelas dari bencana kelaparan hebat yang melanda Uganda pada saat itu. Wilayah Karamoja mempunyai iklim yang paling kering di negara tersebut dan sangat rentan dalam menghadapi musim kemarau. Akibat bencana kelaparan yang melanda pada tahun 1980, diperkirakan 21% dari total populasi Uganda (dan 60% dari balitanya) mengalami kematian, sehingga menjadikannya sebagai salah satu bencana kelaparan paling parah dalam sejarah (peringkat pertama diduduki oleh Bencana Kelaparan Finn Akbar pada tahun 1696 dimana sepertiga populasi dunia pada saat itu menjadi korban)!

Fotografer Mike Wells, yang nantinya memenangkan World Press Photo Award atas fotonya tersebut, mengakui bahwa dia merasa malu saat mengambil fotonya karena dia tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu bocah yang kelaparan tersebut dan malah seakan-akan memanfaatkannya untuk menjadi obyek dari fotonya. Pada awalnya, penerbit dimana dia bekerja menolak untuk mempublikasikan foto hasil karya Wells selama lima bulan sebelum memutuskan untuk memasukkannya dalam kompetisi World Press Photo Award. Ketika fotonya dinobatkan sebagai pemenang, Wells malah menolaknya karena dia merasa tidak pernah mendaftarkan fotonya untuk mengikuti kompetisi tersebut, dan juga dia berkeyakinan bahwa sangat tidak layak untuk menang melalui foto dari orang-orang yang sedang sekarat akibat kelaparan.

Kekeringan, kelaparan serta kekerasan antar etnis sampai saat ini masih berlanjut di Karamoja, Uganda. Orang-orang Karamoja sendiri awalnya merupakan suku Nomaden, tapi kemudian kebiasaan mereka secara drastis berubah pada tahun 1970 saat diktator Uganda saat itu, Idi Amin, menggalakkan pengamanan di wilayah perbatasan serta memberi mereka senjata untuk "mempertahankan diri" dari suku lainnya.



Sumber :
https://iconicphotos.wordpress.com/tag/mike-wells/

Saturday, January 23, 2016

Tragedi Kematian Omayra Sanchez


Waktu: November 1985
Tempat: Armero, Kolumbia
Fotografer: Frank Fournier

Berikut ini adalah sebuah kisah tragis tentang kematian seorang gadis belia yang menjadi korban dari bencana gempa dahsyat yang melanda wilayah Armero, Kolumbia, pada tanggal 13 November 1985.

Omayra Sanchez adalah seorang gadis cilik berusia 13 tahun yang tinggal di Armero, sebuah kota kecil di Kolumbia yang berpenduduk sekitar 31.000 orang. Sebelumnya kota tersebut bernama San Lorenzo, tapi kemudian dirubah oleh Presiden Rafael Reyes menjadi Armero pada tahun 1930 untuk mengenang José León Armero yang merupakan pahlawan kemerdekaan Kolumbia.

Pada tanggal 13 November 1985, warga kota Armero yang kecil dan tenang dikejutkan oleh letusan gunung berapi Nevado Del Ruiz. Letusan tersebut menghasilkan guncangan hebat yang meluluhlantakkan ribuan bangunan di Armero, dan masih ditambah lagi dengan muntahan lahar panas yang mengalir ke kaki gunung, membakar habis wilayah yang tertimpa oleh aliran panasnya - termasuk kota Armero.

Malam hari saat bencana terjadi, Omayra yang tinggal bersama dengan keluarganya terbangun oleh guncangan dahsyat, dan melalui siaran radio mereka mendengar bahwa lahar panas sedang mengalir menuju ke tempat mereka. Ditengah proses evakuasi menuju ke gunung terdekat, nenek Omayra terjatuh kedalam lubang saluran air. Omayra pun berhenti untuk menolongnya. Malang bagi gadis ini, setelah berhasil mengeluarkan neneknya, kakinya malah terjepit reruntuhan bangunan sehingga tidak dapat bergerak keluar.

Tim penolong yang datang tidak berhasil menariknya keluar, sementara saat itu air mulai mengalir deras dari lubang saluran air. Beberapa puing reruntuhan yang tergeser oleh air makin menghimpit Omayra. Keluarga dan beberapa penduduk lainnya hanya bisa menemani sang gadis kecil sambil menunggu datangnya tim penolong yang akan membawa peralatan yang lebih lengkap.

Tiga hari menunggu, tapi tim penolong tidak kunjung datang. Air kini telah bergerak hingga sebatas leher Omayra, dan selama itu pula - baik siang dan malam - orang-orang disekitarnya berusaha untuk menguatkannya dengan menghiburnya, mengajaknya bernyanyi, dan membantunya mengatasi ketakutannya.

Pada hari ketiga, dengan kondisi masih terjepit reruntuhan dan dalam rendaman air setinggi leher, Omayra mulai berhalusinasi. Ia berkata bahwa ia terlambat untuk berangkat ke sekolah. Tidak berapa lama kemudian ia meminta orang-orang disekitarnya untuk meninggalkannya agar ia dapat berisitirahat. Tak lama setelahnya sang gadis malang meninggal akibat gangren pada luka-lukanya dan juga hipotermia akibat terendam air selama berhari-hari.

Kru televisi yang datang untuk meliput gempa Armero juga menyiarkan liputan mengenai keadaan Omayra ke seluruh dunia. Foto yang anda saksikan diambil beberapa jam sebelum dia meninggal, dan dipublikasikan tak lama setelahnya. Reporter Cristina Echandia menyebutkan bahwa untuk seorang anak seusianya, Omayra cukup tabah dalam menghadapi keadaannya, dan bahkan hingga saat ajal menjemputnya.

Tim penolong datang terlambat akibat adanya serangan dari gerilyawan sayap kiri M-19 ke istana Mahkamah Agung Kolumbia yang berlangsung pada tanggal 6 November 1985 yang berakibat disanderanya 300 orang praktisi hukum terkemuka negara tersebut. Hal ini membuat pemerintah Kolumbia terlambat dalam mengirimkan balabantuan ke Armero karena memprioritaskan pada upaya pembebasan para sandera.

Hanya sepertiga penduduk Armero yang selamat, sementara sekitar 23.000 orang kehilangan nyawanya oleh bencana gempa bumi tersebut. Kota Armero kemudian ditutup untuk selamanya oleh pemerintah Kolumbia, sementara warga yang selamat diungsikan ke kota-kota lainnya. Armero kini hanyalah tinggal kenangan, hilang bersama dengan tragedi kematian Omayra serta ribuan orang lainnya.

Video berikut memperlihatkan rekaman saat Omayra masih hidup dan dalam keadaan terendam air hingga hampir mencapai mulutnya. Anda dapat menyaksikan ia mengucapkan salam bagi ibunya, dan meminta agar turut mendoakannya. Jutaan pemirsa diseluruh dunia menitikkan air mata menyaksikan rekaman video ini.




Sumber :
http://www.astrodigi.com/2009/11/tragedi-kematian-omayra-sanchez.html