Saturday, February 27, 2016

Pasukan Soviet di Desa yang Dibebaskan


Waktu: Desember 1941
Tempat: Pinggiran Moskow (Uni Soviet)
Fotografer: Ivan Shagin

Dalam kancah Perang Dunia II antara Jerman dan Uni Soviet, pasukan Hitler hampir saja menguasai Moskow sebelum dipukul mundur pada bulan Desember 1941. Foto ini memperlihatkan seorang ibu dari desa di pinggiran ibukota yang memeluk tentara Soviet yang baru saja membebaskan desanya dari pendudukan pasukan Nazi. Foto ini merupakan hasil jepretan dari Ivan Shagin dan berjudul "In the Liberated Village" (Di Desa yang Dibebaskan).

Pada awal bulan Desember 1941 itu, pasukan Jerman telah menyeberangi kanal Moskow-Volga dan unit terdepannya berada hanya 20 kilometer dari Kremlin. Tapi inilah jarak terdekat yang bisa ditempuh oleh Wehrmacht dengan ibukota Soviet, karena pada tanggal 5 Desember pasukan Stalin melancarkan serangan balik besar-besaran yang memporakporandakan posisi pasukan penyerbu.

Unit-unit Soviet - banyak diantaranya baru tiba di Moskow dari markas mereka di Siberia - menyerang tentara-tentara Jerman yang sudah berada di ambang batas ketahanan mereka. Pertempuran jarak dekat berlangsung dengan sengitnya dari satu lubang pertahanan ke lubang pertahanan lainnya, dan hanya yang terkuatlah yang berhasil selamat sementara yang lebih lemah musnah.

Pasukan Jerman tidak hanya kelelahan - mereka juga kurang persiapan menghadapi musim dingin ganas yang melanda Rusia. Para pimpinan Nazi meyakini bahwa perang akan berakhir di musim gugur tahun 1941, jadi mengapa juga harus repot-repot mempersiapkan pasukan mereka untuk bertempur di musim dingin? "Saat temperatur jatuh menjadi minus 30 derajat Celcius, mesin-mesin perang kami menjadi tidak berfungsi," kata Walter Schaefer-Kehnert, seorang perwira Jerman yang bertempur di Moskow. Tidak hanya itu, tentara Jerman juga menderita banyak korban yang terkena frostbite - jari-jari mereka membeku begitu parahnya sehingga banyak yang harus diamputasi!
 
Akhirnya wilayah-wilayah di sekeliling Moskow berhasil diduduki kembali oleh pasukan Soviet yang lebih mempunyai persiapan menghadapi musim dingin, dan di salah satu desa yang dibebaskan itu lah foto ini dibuat.


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/soviet-soldier-liberated-village/

Saturday, February 20, 2016

Manusia Penghadang Tank di Cina (1989)


Waktu: 5 Juni 1989
Tempat: Lapangan Tiananmen, Beijing (Cina)
Fotografer: Jeff Widener

"Tank Man", atau "Unknown Rebel", adalah sebuah julukan yang diberikan kepada seorang pengunjuk rasa di lapangan Tiananmen pada tanggal 5 Juni 1989. Orang yang hingga saat ini tidak diketahui namanya itu menjadi terkenal ketika aksi protesnya direkam, dipotret, dan dipublikasikan ke seluruh dunia. Dalam peristiwa tersebut, sang pengunjuk rasa berdiri menentang barisan tank Tipe 59 Tiongkok dan menghentikan lajunya.

Potret paling terkenal yang menggambarkan peristiwa ini adalah foto karya Jeff Widener (Associated Press) yang di ambil dari lantai ke-6 Beijing Hotel dengan lensa 400 mm. Versi terkenal lainnya adalah foto yang diambil oleh fotografer Stuart Franklin dari Magnum Photos. Foto karyanya memiliki jangkauan pandang yang lebih luas dari foto karya Widener dan memperlihatkan lebih banyak tank di depan sang Tank Man. Franklin juga berhasil memenangkan penghargaan World Press untuk foto itu. Foto tersebut juga termasuk ke dalam "100 Photos that Changed the World" (seratus foto yang mengubah dunia) versi majalah LIFE pada tahun 2003. Selain itu, peristiwa ini juga direkam dalam videotape oleh CNN dan BBC, dan telah disiarkan di seluruh dunia.

Baik foto maupun film tentang aksi sang Tank Man yang berdiri menentang barisan tank mendapat perhatian masyarakat seluruh dunia. Peristiwa tersebut menjadi berita utama di ratusan koran dan majalah dan siaran berita besar di seluruh dunia. Pada bulan April 1998, majalah TIME dari Amerika Serikat memasukan sang Tank Man sebagai 100 orang yang paling berpengaruh pada abad ke-20.

Peristiwa itu sendiri terjadi didekat Chang'an Avenue, yang membentang timur-barat sepanjang ujung selatan Kota Terlarang di Beijing, satu hari setelah tentara Cina melakukan kekerasan pada pengunjuk rasa di Lapangan Tiananmen. Pria itu berjalan di jalur kendaraan lapis baja. Dia memegang tas belanja di kedua tangannya.

Pria itu menunjuk ke tank yang mendekat, namun tak ditanggapi. Lama kelamaan keduanya saling mendekat. Orang-orang disekitar sudah menghalaunya untuk pergi, namun dia tak bergeming. Tanpa diduga, justru pasukan tank lah yang berhenti setelah berjarak sekitar 2 meter dari tempat pria itu berdiri.

Setelah berhenti, pria tersebut nampak melompat ke atas tank dan berbicara dengan awak di dalamnya. Percakapan pun selesai, dia melompat dan tank meneruskan jalannya. Tiba-tiba dua orang berseragam biru membawa pria itu dan menghilang di balik kerumunan. Banyak polemik mengenai hal ini, apakah dia dibawa oleh intel atau sipil. Hanya sedikit informasi mengenai pria itu. tabloid Inggris Sunday Express menulisnya sebagai Wang Weilin, seorang mahasiswa, 19 tahun yang kemudian dituduh sebagai perusuh oleh Partai Komunis Cina yang coba menumbangkan Tentara Pembebasan Rakyat. Namun hal ini dibantah oleh partai Komunis Cina lewat dokumen pribadi. Mereka malah tidak bisa menemukan pria tersebut. "Kami hanya tahu namanya dari wartawan. Setelah dicari identitasnya tetap tak ketemu. Apakah dia sudah mati atau dipenjara," tutur salah seorang anggota Partai Komunis China.

Keberadaan "The Tank Man" menjadi rumor yang hingga kini masih diperdebatkan. Ada yang bilang, dia dieksekusi 14 hari setelah peristiwa itu. Ada pula yang bilang dia masih hidup dan bersembunyi di dataran Cina. Siapapun dia, telah menjadi simbol peristiwa Tiananmen dan ikon abad 20.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Tank_Man
http://www.merdeka.com/dunia/rahasia-tersimpan-si-manusia-tank-di-tiananmen.html

Foto Paling Terkenal dalam Sejarah Olahraga (1965)


Waktu: 25 Mei 1965
Tempat: Lewiston, Maine (Amerika Serikat)
Fotografer: Neil Leifer

Pada tanggal 25 Mei 1965 Muhammad Ali meng-KO Sonny Liston dalam ronde pertama pertarungan ulang tinju kelas berat mereka - dan pada saat itulah fotografer Neil Leifer mengambil gambar yang kemudian tercatat sebagai "foto paling terkenal dalam sejarah olahraga".

Kelihatannya sesederhana itu, tapi pada kenyataannya tidaklah seperti yang terlihat, karena foto tersebut tak akan tercipta kalaulah tidak didahului oleh kejadian yang tidak menguntungkan bagi fotografernya.

Mungkin salah satu hal yang paling memberikan kontribusi - dan juga yang paling lucu - adalah bahwa posisi duduk Leifer saat mengabadikan momen tersebut semata didapatnya karena seorang fotografer yang lebih senior memerintahkannya (saat itu Leifer baru berusia 22 tahun) untuk pindah tempat duduk ke sisi ring, sementara posisi duduknya semula di dekat meja juri diklaim oleh sang fotografer senior yang bernama Herb Scharfman (dari Sports Illustrated) sebagai lokasi "langganannya". Tidak mau berdebat lebih lanjut, Leifer mengalah.

Ironisnya, ketika Liston terjatuh, satu-satunya yang bisa dilihat oleh Scharfman adalah punggung Ali (dalam foto Leifer terlihat jelas dia berada diantara kaki sang juara)!

Namun foto Leifer sendiri belum menceritakan semuanya. Kita melihat Ali menang. Namun Ali frustrasi dan malah meminta Liston bangkit lagi! Dia pikir Liston pura-pura jatuh dan menyerah kalah. Mungkin saja memang begitu. Kalaupun ada pukulan yang menjatuhkan Liston, tak ada yang melihatnya secara pasti. Yang jelas, Hingga detik ini belum jelas apakah Liston dengan sengaja menjatuhkan diri. Liston sendiri mengklaim bahwa ia terlalu takut dengan organisasi Nation of Islam (dimana Ali menjadi anggotanya), sehingga menyebabkan dia ingin pertarungan berakhir secepat mungkin walaupun dia adalah pecundangnya.

Sumber :
http://www.news.com.au/sport/sports-life/the-story-behind-the-greatest-photograph-in-sports-history/news-story/781e32670a84a2bfadcfb494eb0a924d

Friday, February 19, 2016

Bayi Menangis di Stasiun Kereta Api Shanghai (1937)


Waktu: 14 Agustus 1937
Tempat: Shanghai (Cina)
Fotografer: H.S. Wong

"Bloody Saturday" (Sabtu Berdarah) adalah nama dari sebuah foto hitam-putih yang dipublikasikan secara luas pada bulan September-Oktober 1937 dan dalam waktu kurang dari satu bulan telah dilihat oleh lebih dari 136 juta pembaca! Foto ini memperlihatkan seorang bayi Cina yang menangis diantara puing-puing Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan, dan menjelma menjadi sebuah perlambang keganasan tentara Jepang di Cina. Diambil hanya beberapa menit setelah sebuah serangan udara Jepang yang mentargetkan warga sipil di Shanghai, fotografer H.S. "Newsreel" Wong dari Hearst Corporation (juga dikenal dengan nama Wong Hai-Sheng atau Wang Xiaoting) mengklaim bahwa dia tidak mengenali siapa si bocah yang terluka tersebut (atau bahkan jenis kelaminnya), hanya bahwa dia menangis di dekat tubuh ibunya yang telah tak bernyawa. Foto ini menjadi salah satu foto perang paling terkenal dalam sejarah, dan juga berhasil menggiring kebencian warga Barat pada pihak Jepang yang saat itu menginvasi negara Cina. Jurnalis Harold Isaacs bahkan menjuluki foto tersebut sebagai "salah satu bahan propaganda paling sukses sepanjang masa"!

Wong mengambil gambar Stasiun Selatan yang telah luluh lantak akibat dibombardir menggunakan kamera bergerak Eyemo, sementara untuk fotonya dia menggunakan kamera Leica. Foto yang sangat terkenal ini - yang diambil dari kamera Leica-nya - seringkali dirujuk bukan pada namanya, melainkan gambaran visual yang tercipta olehnya. Selain dari "Bloody Saturday", foto ini juga kerapkali diberi judul "Motherless Chinese Baby" (bayi Cina tak beribu), "Chinese Baby" (bayi Cina), atau "The Baby in the Shanghai Railroad Station" (bayi di Stasiun Kereta Api Shanghai). Pihak nasionalis Jepang sendiri murka atas tersebar luasnya foto tersebut dan menuduhnya sebagai sebuah foto sandiwara yang sengaja dirancang untuk mendiskreditkan negara mereka dan mengucilkannya dari pergaulan dunia internasional. Mereka bahkan membuka sayembara bagi siapa saja yang bisa membunuh sang fotografer maka akan diberikan uang sejumlah $50.000 (senilai dengan $820.000 di tahun 2016!).


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Bloody_Saturday_%28photograph%29

Tragedi Terbakarnya Balon Udara Hindenburg (1937)


Waktu: 6 Mei 1937
Tempat: Stasiun Angkatan Udara Lakehurst, New Jersey (Amerika Serikat)
Fotografer: Sam Shere

Pada tanggal 6 Mei 1937, pukul 19:25 balon gas raksasa Jerman dari jenis Zeppelin bernama Hindenburg musnah terbakar dalam tempo beberapa menit saja ketika sedang mencoba untuk berlabuh dengan tiang pengikat di Stasiun Angkatan Udara Lakehurst di New Jersey, Amerika Serikat. Dalam kejadian yang terkenal itu, dari keseluruhan 97 penumpang yang menaiki Hindenburg, sebanyak 35 jiwa diantaranya tewas.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg merupakan pesawat terbesar yang pernah dibangun pada saat itu. Pesawat itu dinamakan menurut Presiden Jerman Paul von Hindenburg, sebagaimana kebiasaan untuk menamakan semua kapal udara Jerman dengan nama lelaki. Kapal udara LZ-129 Hindenburg menggunakan rancangan terkini dengan menggunakan aluminium, berukuran sepanjang 245 meter, diameter 41 meter, dan mengandung 211.890 meter persegi gas hidrogen dalam 16 kampit atau sel. Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai daya angkut 112 ton, mempunyai empat mesin diesel berkekuatan 1100 tenaga kuda dengan kecepatan 135 kilometer per jam. Hindenburg mampu membawa 72 orang (50 orang jika menyeberangi Samudra Atlantik) dengan 61 awak kapal.

Kapal udara LZ-129 Hindenburg mempunyai bentuk yang licin dan menarik. Untuk mempertahankan bentuk yang aerodinamis, bagian penumpang terletak di dalam kantong udara dan bukan di luar. Hindenburg dilapisi dengan kain kapas yang disapu dengan campuran varnis selulus dan aluminium. Hindenburg dibangun oleh Luftschiffbau Zeppelin pada tahun 1935 dengan nilai £500.000. Kapal udara ini tercatat terbang untuk pertama kalinya pada Maret 1936 dan mencapai catatan menyeberangi Samudra Atlantik sebanyak dua kali dalam masa lima hari, 19 jam, dan 51 menit pada bulan Juli 1936. Hindenburg seharusnya diisi dengan gas helium tetapi embargo militer Amerika Serikat terhadap helium memaksa Jerman menggunakan gas hidrogen yang mudah terbakar sebagai gas pengapung.

Sebab utama kebakaran itu tidak diketahui dengan tepat. Salah satu sumber ledakan mungkin disebabkan oleh percikan listrik statis yang terkumpul dari gesekan dengan udara. Akibatnya, lapisan aluminium yang rentan akan api menjadi terbakar, dan memicu terlepasnya gas hidrogen yang mudah terbakar. Hidrogen terbakar tanpa warna, karenanya api yang menjulang mungkin menunjukkan api tersebut bukan disebabkan oleh hidrogen. Selain itu gas hidrogen di dalam Hindenburg pun telah dicampurkan dengan bau bawang putih agar dapat memberi tahukan bila terjadi kebocoran. Tidak ada siapapun yang selamat melaporkan bau bawang putih ketika penerbangan atau ketika percobaan pendaratan sebelum malapetaka tersebut. Sekiranya Amerika Serikat tidak mengenakan embargo militer kepada ekspor gas helium, api mungkin akan dapat dipadamkan lebih awal dan hanya menyebabkan kebocoran.

Terdapat beberapa kejadian kecelakaan kapal udara sebelum Hindenburg (semuanya tidak melibatkan Zeppelin) yang kebanyakan disebabkan oleh cuaca buruk. Bagaimanapun Zeppelin mempunyai catatan keselamatan yang menakjubkan. Sebagai contoh Graf Zeppelin telah terbang dengan selamat sejauh 1,6 juta km termasuk mengelilingi dunia. Pihak Jerman mengetahui dengan baik bahaya hidrogen dan telah mengamalkan langkah-langkah keselamatan yang ketat sepanjang penerbangan dengan kapal udara Zeppelin, termasuk menyimpan semua pemantik dan larangan merokok kecuali di dalam ruangan khusus. Perusahaan Zeppelin sangat bangga dengan fakta bahwa tidak ada seorang penumpang pun yang pernah terluka atau tercedera ketika terbang dengan kapal udara mereka. Zeppelin pun dianggap aman.

Musibah Hindenburg ini telah mengubah segalanya. Kepercayaan publik hilang sepenuhnya ketika mereka dihadapkan pada gambaran mengerikan dari televisi yang begitu jelas dan mengejutkan serta diiringi dengan rekaman bunyi secara langsung. Pengaruh pemberitaan yang sangat masif membuat pengangkutan Zeppelin terhenti. Peristiwa ini mengakhiri era kapal udara raksasa pembawa penumpang yang kaku .

Musibah ini diingat karena laporan berita televisi, gambar, dan rekaman radio Herbert Morrison mengenai laporan saksi mata langsung di lapangan pendaratan. Ulasan Morrison baru disiarkan pada keesokan harinya. Sebagian dari laporannya kemudian dimasukkan ke dalam tayangan berita (sehingga memberikan gambaran yang salah kepada mereka yang terbiasa melihat laporan langsung televisi pada masa kini bahwa laporan Morisson dan gambar diambil secara serentak).


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Musibah_Hindenburg

Tuesday, February 16, 2016

Tergulingnya Truk Pembawa Bonek (1995)


Waktu: 17 Mei 1995
Tempat: Surabaya (Indonesia)
Fotografer: Sholihuddin

Setiap pengunjung yang singgah ke redaksi Jawa Pos di Graha Pena, Surabaya, mesti pernah melihat foto ini. Ini adalah karya wartawan Jawa Pos Sholihuddin yang terpilih sebagai foto terbaik World Press Photo 1995 kategori spot news. Penghargaan tersebut sangat membanggakan bagi Jawa Pos. Sebab, itu adalah penghargaan paling bergengsi bagi wartawan foto sedunia. Ada kisah menarik di balik foto yang diambil pada 17 Mei 1995 tersebut. Terutama soal lokasi pemotretan.

Apabila salah tempat membidik, fotografer bisa dijadikan objek Bonek. Kamera ditarik-tarik atau dimintai uang. Ketika sedang memotret, bisa saja saku digerayangi suporter. Dan pengalaman seperti itu biasa dialami sang wartawan. Karena itulah, sosok yang akrab disapa Sho tersebut memilih tempat aman, yakni di depan Mapolsekta Genteng, Jalan Ambengan. Lokasi yang strategis. Berjarak 300 meter dari Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari, tempat tersebut pasti dilewati arus suporter yang pulang.

Kebetulan, saat itu Kodam V/Brawijaya dan Polda Jatim mengerahkan truk untuk mengangkut Bonek agar lekas pulang. Biasanya mereka berlama-lama nongkrong di jalan sehingga menimbulkan kemacetan. Diberi tumpangan gratis, tentu saja mereka langsung menyerbu dan berebut naik truk. Truk pertama berangkat. Giliran truk kedua. Truk milik kodam itu dinaiki lebih banyak orang, bahkan sampai desak-desakan. ”Istilah Jawa-nya sampai munjung,” kata Sholihuddin.

Ya, namanya juga suporter, dengan kondisi itu, mereka malah bersorak-sorai. Dengan berani, mereka merobek terpal truk milik tentara hingga penumpang meluber ke atas. Suporter yang di atas malah loncat-loncat kegirangan. Mereka tidak berhenti menyanyikan yel-yel Persebaya. Maklum, kala itu Persebaya menang atas PSIS Semarang 2-0. Tingkah suporter itu membuat laju truk bagaikan orang mabuk, oleng ke kanan dan ke kiri. Untung, si sopir, Prada Munib, sadar diri. Truk dijalankannya dengan pelan. Tahu mau jatuh, para suporter malah semakin bersorak dan tertawa.

Alhasil, truk pun oleng ke kanan. Sudut kemiringan pun lama-lama mengecil. Ban di sebelah kiri terangkat. Bak bagaikan sedang freestyle. Truk kemudian maju dengan hanya ban di sebelah kanan saja. Eeeh... eeeh... byuarrr!!! Truk pun terguling. Puluhan suporter yang di atas truk semburat meloncat menyelamatkan diri.

Sholihuddin sudah memprediksi momen itu. Temaram senja yang semakin gelap membuatnya memutuskan untuk memakai blitz. Beberapa detik sebelum truk ambruk, pret, dengan sekali jepretan, foto pun didapat.

”Saat memotret itu, saya terjengkang ditabrak suporter yang loncat. Posisi saya dekat dengan truk. Hanya 10 meter. Polisi yang bersiaga langsung membantu menyelamatkan suporter yang terjepit,” ucapnya.

Ketika dicetak di kantor, alangkah kagetnya Sholihuddin dengan hasil foto yang menakjubkan! Pemimpin Redaksi Jawa Pos Solihin Hidayat memintanya memasang di halaman satu. Suatu hal yang berbahaya, mengingat truk itu adalah milik TNI-AD. Pada era Orde Baru, terlalu sensitif apabila menjelek-jelekkan tentara. ”Setelah foto itu dimuat, saya sempat diteror agar foto tersebut tidak disebarkan. Hehehe...,” katanya, lantas terkekeh.

Lantas, bagaimana kondisi para korban? Pada Jawa Pos edisi 18 Mei 1995, nama dan alamat lengkap 12 korban yang di bawa ke RSUD dr Soetomo dicantumkan. Dari kliping itulah penelusuran oleh Jawa Pos dilakukan 10 tahun kemudian (2015). Di antara 12 orang tersebut, hanya Fauzi, Budi, dan Samsul Hadi yang mencantumkan alamat valid. Bukan hanya jalan, nomor rumah pun disertakan. Jawa Pos berusaha mendatangi rumah Fauzi dan Budi di Jalan Jinten 31, Surabaya. Rumah itu memang betul merupakan rumah mereka. Namun, sang pemilik rumah mengatakan Fauzi dan Budi sudah pergi dari Surabaya. ”Entah pergi ke mana,” kata si pemilik rumah.

Jawa Pos lantas berusaha mendatangi Samsul Hadi di Jalan Gadukan Utara VIIB/26, Gresik. Setelah tanya sana-sini, akhirnya alamat yang dituju berhasil ditemukan. Terletak hampir di ujung Gang VII-B. Perlu keluar masuk gang untuk menuju ke sana. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa lama, sesosok ibu tua keluar dan bertanya. Dia tampak panik saat kami membeberkan identitas sebagai wartawan, ”Ada apa dengan anak saya?” Setelah mendapat penjelasan panjang lebar, dia pun memberikan nomor kontak Samsul. Saat ini Samsul berdomisili di Yogyakarta. ”Ada apa, Mas? Ibu saya telepon saya dan nangis nangis. Jawa Pos datang ke rumah. Nyangka-nya ada apa,” kata Samsul mengawali pembicaraan di telepon.

Setelah Jawa Pos menjelaskan maksud pencarian tersebut, dia pun mengingat kembali memori lama. Ketika truk itu terguling, Samsul berada di kap bagian dalam. ”Memang penuh banget. Ya namanya juga suporter, ndak mau diem,” ungkapnya. Beberapa detik sebelum jatuh, kepala Samsul nongol ke luar jendela truk. Jika saja dia tidak menarik kepalanya, lehernya bisa saja patah. ”Untung banget itu. Untung. Meski begitu, ya tetap saja saya cedera. Tapi, ya nggak begitu parah,” ujarnya.


Sumber :
http://www.koran.padek.co/read/detail/39145

Evakuasi Paksa Pemukim Yahudi di Amona (2006)


Waktu: 1 Februari 2006
Tempat: Amona, Mateh Binyamin, Tepi Barat (Palestina)
Fotografer: Oded Balilty

Ynet Nili, murid kelas 11 dari Yerusalem berusia 16 tahun, difoto berdiri sendirian melawan puluhan polisi Israel berpakaian hitam selama evakuasi Amona di Tepi Barat tanggal 1 Februari 2006. Meskipun foto yang diabadikan oleh fotografer Oded Balilty tersebut kemudian mendapatkan World Press Photo Award tahun 2007 untuk kategori 'People in the News', Nili mengatakan bahwa "tidak ada yang bisa dibanggakan dari hal tersebut".

Dalam percakapannya, Nili yang belajar di sebuah sekolah agama setingkat SMA malah mengatakan: "Foto ini memalukan bagi bangsa Israel. Alih-alih membela rakyat dan tanah Israel, pasukan keamanan menghancurkan rumah-rumah Yahudi. Sebuah gambar seperti ini adalah tanda aib bagi negara Israel dan saya tak perlu bangga karenanya. Foto ini tampak layaknya sebuah karya seni, tapi bukan itu yang terjadi di sana. Apa yang terjadi di Amona benar-benar berbeda."

Foto itu sendiri diambil selama bentrokan yang meletus ketika polisi mengevakuasi rumah-rumah ilegal warga Yahudi di pemukiman Tepi Barat Amona, sebelah barat Ramallah. Pasukan keamanan bertindak untuk mengamankan keputusan pengadilan berwenang yang memerintahkan penghancuran sembilan rumah di pemukiman yang dianggap tidak sesuai undang-undang.

Sekitar 200 orang terluka ketika ratusan pemukim dan pendukung mereka menolak evakuasi secara paksa. Fotografer Balilty dari Associated Press (AP) mengatakan bahwa ia dan sejumlah fotografer lain pada awalnya bersama-sama meliput peristiwa tersebut, tapi kemudian pada titik tertentu mereka memutuskan untuk berpisah demi mencari sudut pandang yang berbeda.

Nili berkata: "Kau lihat aku di photo itu, satu lawan banyak, padahal itu hanyalah ilusi. Dibalik banyak orang itu adalah satu orang yang memimpinnya, Perdana Menteri Ehud Olmert, sementara di belakangku adalah Tuhan dan seluruh rakyat Israel."


Sumber :
http://beritahoaxislamindonesia.blogspot.co.id/2014/03/wanita-palestina-ini-yang-melindungi.html
http://www.worldpressphoto.org/collection/photo/2007

Saturday, February 13, 2016

Hukuman Mati Ruth Snyder


Waktu: 12 Januari 1928
Tempat: Penjara Sing Sing, New York (Amerika Serikat)
Fotografer: Tom Howard

Anda penasaran mengapa foto eksekusi hukuman mati sulit dilihat di media massa? Foto berikut inilah penyebabnya.

Pelaksanaan hukuman mati di era modern nyaris tidak pernah didokumentasikan. Indonesia misalnya, melarang wartawan atau warga umum menonton proses eksekusi regu tembak. Dari seluruh arsip hukuman mati, foto-foto yang beredar kebanyakan berupa ilustrasi atau situasi penjara sebelum dan sesudah eksekusi. Tapi di Amerika Serikat, seorang fotografer pemula berhasil mengabadikan saat-saat terakhir terpidana meregang nyawa di kursi listrik.

Foto itu, menurut Majalah TIME edisi 10 April 2014, merupakan satu-satunya rekaman gambar paling detail dan dramatis dari sebuah hukuman mati sepanjang sejarah!

Pesakitan yang sedang dijemput ajal melalui kursi listrik dalam foto itu bernama Ruth Snyder. Dia adalah ibu rumah tangga asal Kota New York, yang pada tahun 1927 dinyatakan bersalah karena melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya sendiri, Albert Snyder. Dalam aksi busuk untuk merebut harta suaminya tersebut, dia dibantu selingkuhan bernama Judd Gray, yang juga dihukum mati.

Kasus pembunuhan ini pada masanya menggemparkan publik Amerika Serikat. Saban sidang selalu ramai diliput media. Oleh sebab itu, pengadilan memerintahkan eksekusi mati Ruth pada 12 Januari 1928 di dalam Penjara Sing-Sing tertutup untuk pers.

Surat kabar New York Daily News rupanya tak kehilangan akal. Tahu semua wartawan mereka sudah dihafal mukanya oleh polisi, koran ini menyewa jasa Tom Howard, seorang fotografer muda asal Kota Chicago. Pria itu berhasil mengelabui petugas penjara dengan cara menyelipkan kamera di pergelangan kakinya. Kabel khusus dia hubungkan ke tombol di paha. Dengan demikian, sambil duduk menyaksikan proses eksekusi kursi listrik, Tom tetap bisa mengambil gambar dalam detik-detik akhir Ruth sedang meregang nyawa, saat badannya menggelepar karena menerima sengatan listrik yang mematikan (sehingga gambar menjadi sedikit buram).


Sumber :
http://www.merdeka.com/dunia/ini-foto-hukuman-mati-paling-dramatis-sepanjang-sejarah.html

Prajurit Soviet Memberi Susu Pada Beruang Kutub


Waktu: 1950
Tempat: Semenanjung Chukchi, Siberia (Uni Soviet)
Fotografer: Tidak diketahui

Prajurit dari unit pasukan tank Soviet ini memberi susu kental manis dalam kaleng yang sudah dibuka pada induk beruang kutub yang mendekati tank mereka saat melakukan ekspedisi militer menembus wilayah bersalju di Semenanjung Chukchi, Siberia. Beruang yang ingin tahu tersebut langsung menjilati kaleng susu yang diberikan sebelum memberikannya pada anak-anaknya. Kaleng susu kental manis (di Rusia dinamakan sgushchennoye moloko) berwarna biru dan putih itu sendiri merupakan salah satu jatah ransum musim dingin yang diterima oleh prajurit Tentara Merah, juga anak-anak Rusia pada masa itu.

Tidak diketahui apakah di Sememanjung Chukchi sendiri lebih banyak dihuni beruang kutub ataukah manusia. Yang jelas cuacanya sangat ekstrim, dimana suhu di musim dingin dapat mencapai -40°, sehingga bahkan bagi ukuran beruang kutub pun cuaca sedingin ini bisa membunuh mereka. Para prajurit baik hati ini, yang bertugas di Distrik Angkatan Darat Semenanjung Chukchi, memutuskan untuk tidak kabur manakala melihat kedatangan beruang-beruang malang yang kedinginan dan kelaparan tersebut. Mereka malah mulai memberinya makan dengan sedikit persediaan daging dan susu yang mereka miliki.






Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/feeding-polar-bears-tank-1950/

Wednesday, February 10, 2016

Pembunuhan Gorila di Kongo


Waktu: Juli 2007
Tempat: Mikeno, Kongo
Fotografer: Brent Stirton

 Pada tanggal 22 Juli 2007 sekelompok pemburu tak dikenal membunuh satu keluarga gorila di kaki gunung volkano Mikeno yang terletak di bagian timur Republik Demokrasi Kongo. Dengan bersenjatakan senjata otomatis, para pembunuh kejam ini menghabisi nyawa 12 ekor gorila anggota keluarga Rugendo yang terkenal diantara turis-turis yang datang berkunjung dan juga dicintai oleh para penjaga Taman Nasional Virunga tempat mereka tinggal. Keluarga kera raksasa terkemuka ini dipimpin oleh seekor gorila berpunggung putih dengan berat 226 kg bernama Senkwekwe. Dia dan anggota kelompoknya mungkin saja mengetahui kedatangan para pemburu yang akan mencabut nyawa mereka, tapi karena selama ini mereka sudah biasa melihat manusia yang lalu-lalang di sekitar habitatnya, kemungkinan besar mereka tidak menjadi waspada karenanya (begitu dekatnya habitat keluarga Rugendo dengan pemukiman manusia sehingga kadang-kadang salah satu anggotanya keluar dari hutan untuk 'berpiknik' di kebun jagung di wilayah perbatasan sehingga membuat marah petani lokal!).

Para Ranger (penjaga Taman Nasional) di barak Bukima yang terletak berdekatan bersaksi bahwa mereka mendengar beberapa kali letusan senjata di tengah malam. Saat melakukan patroli jalan-kaki keesokan paginya, mereka menemukan tiga gorila betina - Mburanumwe, Neza, dan Safari - telah tergeletak tak bernyawa, sementara bayi Safari yang masih hidup merangkak di sebelah ibunya. Keesokan harinya Senkwekwe ditemukan telah mati pula akibat dari luka tembakan di bagian dada. Tiga minggu kemudian bangkai anggota keluarga Rugendo lainnya, gorila betina Macibri, ikut ditemukan bersama dengan bayinya yang juga telah tak bernyawa.

Hanya sebulan sebelumnya, dua ekor betina serta seekor bayi dari grup gorila lainnya telah mendapat serangan dari pemburu tak dikenal. Para Ranger menemukan salah satu betinanya ditembak dari arah belakang dari jarak dekat layaknya eksekusi, sementara bayinya yang dibiarkan hidup tetap berada di pelukan ibunya. Gorila betina yang lainnya tidak pernah ditemukan.

Secara total, tujuh ekor gorila dari pegunungan Virunga telah terbunuh hanya dalam waktu kurang dari dua bulan, dan sampai saat ini orang yang bertanggung jawab melakukannya tidak pernah diketahui. Foto hasil jepretan dari wartawan National Geography Brent Stirton mengabadikan saat-saat pemimpin gorila Senkwekwe, yang sudah tak bernyawa, dibawa menggunakan tandu bagaikan anggota keluarga kerajaan oleh para penduduk desa yang menangisi kepergiannya. Foto ini kemudian menjadi terkenal dan dimuat di berbagai suratkabar dan majalah luar negeri. Pembunuhan semena-mena binatang tak berdosa ini memicu kemarahan dunia internasional yang mendesak pemerintah negara Kongo untuk segera menyelidikinya.


Sumber :
http://ngm.nationalgeographic.com/2008/07/virunga/jenkins-text