Friday, January 29, 2016

Aksi Bakar Diri Biarawan Buddha di Saigon


Waktu: 11 Juni 1963
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Malcolm Browne

Selasa siang, 11 Juni 1963. Lalu-lintas di Kota Saigon, ibukota Vietnam Selatan, sedang ramai-ramainya. Pada perempatan Jalan Phan Dinh Phung dan Le Van Duyet, ratusan biksu berjajar di sekitar perempatan. Sebuah mobil sedan biru mendadak berhenti. Dari dalam mobil seorang biksu melangkah keluar menuju tengah perempatan, diikuti oleh dua orang biksu lainnya. Salah seorang biksu pengikut meletakkan bantalan di tengah perempatan sedang yang satunya lagi mengeluarkan lima jerigen dari dalam bagasi mobil.

Sesampainya di tengah perempatan, biksu yang pertama, belakangan diketahui bernama Thich Quang Duc, duduk dengan mengambil posisi lotus tradisional, posisi bersila dalam bertapa. Dua biksu pengikut menuangkan isi jerigen yang ternyata adalah bensin ke sekujur tubuh biksu yang duduk tersebut.

“Nam Mo A Di Da Phat…,” terdengar biksu tersebut sejenak berdoa. Berikutnya, dengan tenang dia menggoreskan korek api dan membakar tubuhnya.

Api seketika membakar sekujur tubuh biksu tersebut. Luar biasa, sedikitpun tubuhnya tak bergerak dan sama sekali tak terdengar suara mengerang apalagi menjerit kesakitan! Sungguh bertolak belakang dengan keadaan di sekelilingnya yang hiruk pikuk oleh kegaduhan dan suara ratapan orang-orang yang menyaksikannya. 

Polisi yang berada di sekitar lokasi mencoba mengendalikan situasi, namun gagal karena blokade lingkaran yang dibuat oleh ratusan biksu lainnya. Salah seorang biksu terus-menerus berteriak: “Seorang Biksu Buddhis membakar diri. Seorang biksu Buddhis menjadi martir!!!”

Thich Quang Duc adalah seorang biksu Buddha Ramayana. Apa yang dilakukannya adalah ritual Self-Immolation atau pengorbanan diri sendiri. Itu dilakukannya sebagai protes terhadap rezim Ngo Dinh Diem yang kerap membantai dan menyiksa biksu-biksu

Dalam pesan terakhirnya, yang disampaikan melalui sebuah surat, Thich Quang Duc berujar: “Sebelum aku menutup mata dan mendekatkan diriku kepada Buddha, dengan penuh rasa hormat aku meminta kepada Ngo Dinh Diem untuk menunjukkan sedikit rasa belas kasih kepada rakyatmu dan memberlakukan kesamaan agama untuk mempertahankan kesatuan negeri ini. Aku juga memanggil saudara-saudara dalam se-dhamma untuk melakukan pengorbanan dalam rangka melindungi Buddhisme."

Apa yang dilakukan oleh Thich Quang Duc bukanlah kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah tindakan yang telah direncanakan sebelumnya. Terbukti, sehari sebelum aksi tersebut juru bicara umat Buddha di kota itu telah menyampaikan pesan kepada koresponden-koresponden Amerika yang banyak terdapat di sana (catatan: pada waktu itu tengah berlangsung invasi Amerika Serikat ke Vietnam sehingga banyak wartawan negara adidaya tersebut yang berada di Vietnam untuk meliput jalannya perang). Isinya mengatakan bahwa akan terjadi “sesuatu yang penting” esok hari di jalan di depan Kedubes Kamboja. Namun, karena persoalan umat Buddha sudah menjadi krisis sejak beberapa bulan sebelumnya, tak banyak wartawan yang menanggapi pesan tersebut.

Meskipun aksi tersebut telah merenggut nyawa Thich Quang Duc, namun Presiden Ngo Dinh Diem, sebagai sasaran aksi protes, menanggapi dengan dingin aksi tersebut. Dia bahkan mengeluarkan pernyataan yang menyebut Thich Quang Duc dalam keadaan mabuk obat-obatan sebelum dipaksa melakukan aksi bakar diri! Komentar lebih sinis datang dari adik ipar Dinh Diem - yang saat itu dianggap sebagai Lady First karena Dinh Diem adalah bujangan. Wanita tersebut berkomentar: “clap hands at seeing another monk barbecue show" (mari bertepuk tangan untuk acara memanggang biarawan lainnya).

Namun, pada saat kejadian, dua orang reporter New York Times yaitu Malcolm Browne dan David Halberstam datang ke lokasi untuk meliput kejadian. Publikasi besar-besaran terhadap peristiwa tersebut menarik perhatian dunia internasional. Dilengkapi dengan foto Malcolm Browne yang mengabadikan momen saat tubuh Thich Quang Duc terbakar, David Halberstam antara lain menulis: "Aku mengamati lagi, tetapi sekali saja sudah cukup. Api itu datang dari manusia; tubuhnya perlahan layu dan mengerut ke atas, kepalanya menghitam dan menjadi arang. Di udara tercium bau daging manusia terbakar; seorang manusia secara mengejutkan terbakar dengan cepat. Dibelakangku, aku bisa mendengar isak para warga Vietnam yang sekarang berkumpul. Aku terlalu shock untuk menangis, terlalu bingung untuk mencatat atau mengajukan pertanyaan, dan terlalu bingung untuk berpikir … Ketika ia terbakar, ia tidak pernah bergerak sedikitpun, tidak mengucapkan suara, dilakukan dengan ketenangan luar biasa, menjadi kontras dengan ratapan orang-orang di sekelilingnya."

Simpati terhadap biksu-biksu Buddha dan tekanan terhadap rezim Ngo Dinh Diem pun berdatangan dari segala penjuru dunia, sementara Malcolm Browne dan David Halberstam mendapat Penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggi untuk bidang jurnalisme cetak di AS.




Sumber :
http://www.kaskus.co.id/thread/512f607ddb9248c203000016/rezim-diem-mendiskriminasi-kaum-buddha-biksu-thich-quang-duc-bakar-diri/

Sunday, January 24, 2016

Bocah Afrika yang Kelaparan dan Burung Bangkai


Waktu: Maret 1993
Tempat: Desa Ayod, Sudan
Fotografer: Kevin Carter

Seekor burung bangkai dengan tenang menunggu bocah perempuan Afrika di depannya yang sedang meregang nyawa karena kelaparan. Gambar terkenal ini diambil oleh jurnalis foto asal Afrika Selatan, Kevin Carter, saat dia ditugaskan untuk meliput bencana kelaparan hebat di negara Sudan. Beberapa bulan kemudian sang fotografer mencabut nyawanya sendiri karena depresi atas apa yang telah dilihatnya. 

Orangtua bocah tersebut sedang sibuk mengambil bantuan makanan dari pesawat sehingga mereka meninggalkan anaknya selama beberapa waktu. Pada saat itulah Carter datang ke lokasi, sebuah wilayah yang berdekatan dengan desa Ayod di Sudan. Dia melihat seorang bocah perempuan tak berdaya yang berusaha keras menyeret tubuhnya yang lemah ke lokasi pemberian bantuan makanan. Ketika dia sedang berhenti sebentar untuk beristirahat, tak lama kemudian datang seekor burung bangkai yang mendarat di belakang si bocah. Untuk mendapatkan fokus yang diinginkan dimana kedua obyek ini sama-sama nampak dalam foto, Carter mendekati lokasi dengan sangat berhati-hati karena takut membuat burung bangkai tersebut terbang. Dari jarak sekitar 10 meter dia mengambil foto yang kemudian menjadi fenomenal di seluruh dunia. Carter mengambil beberapa foto lainnya selama sekitar 20 menit sebelum mengusir burung tersebut.

Setahun setelahnya (1994), Kevin Carter mendapatkan penghargaan Pulitzer atas fotonya yang menggetarkan nurani ini. Di tahun yang sama fotografer dari Afrika Selatan tersebut melakukan bunuh diri.

Tanpa fakta-fakta meyakinkan yang menyelubungi kematiannya, orang awam pastilah menganggapnya sebuah sebuah hal yang mengejutkan. Padahal dari sejak tersebarluasnya untuk pertama kali foto bocah Afrika dan burung bangkai tersebut di suratkabar The Now York Times terbitan bulan Maret 1993, banyak orang yang melayangkan kritik pedas kepada Carter. Masyarakat penasaran apa yang terjadi kemudian dengan si bocah tersebut, dan apakah Carter membantunya. The Times kemudian mengeluarkan statemen bahwa si bocah berhasil selamat sampai ke lokasi bantuan makanan, tapi di luar itu tak ada yang mengetahui kabarnya. Karena hal tersebut Carter dibombardir oleh pertanyaan tentang mengapa dia tidak membantu bocah tersebut, dan hanya memanfaatkaannya untuk menjadi obyek fotonya.

Yang jelas, Carter bekerja di masa para fotografer dan wartawan dilarang untuk menyentuh korban kelaparan karena takut tertular oleh penyakit yang mereka idap. Carter sendiri mengatakan bahwa tidak kurang dari 20 orang perhari yang meninggal di lokasi pemberian bantuan makanan, dan bocah malang itupun tidak menjadi pengecualian dalam hal tersebut. Tapi di lain waktu Carter juga sering mengekspresikan penyesalannya bahwa pada saat itu dia tidak melakukan apa-apa untuk membantu bocah Afrika malang yang menjadi obyek fotonya yang paling terkenal, meskipun sebenarnya pada saat itupun tak banyak yang dia bisa lakukan.

Pada tanggal 27 Juli 1994 Kevin Carter mengendarai mobilnya ke Braamfontein, sebuah kawasan dimana kawasan tersebut biasanya digunakan untuk tempat bermain. Disana dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara mengalirkan pipa knalpot mobilnya ke jendela di sisi pengemudi. Dia lalu meninggal karena keracunan karbon monoksida. Carter meninggalkan sebuah catatan yang berisi:

"Aku sungguh, sungguh menyesal. Rasa sakit telah menimpaku hingga bahagia itu takkan ada lagi... tertekan ... tanpa telepon ... uang sewa ... uang untuk hutang ... uang!!! ... Aku dihantui oleh ingatan dari pembunuhan dan mayat dan kemarahan dan kesakitan ... kelaparan atau anak kecil yang terluka, dari orang gila bersenjata, bahkan polisi, dari eksekutor hukum mati ... Aku pergi untuk bergabung dengan Ken (rekan sekerjanya Ken Oosterbroek yang meninggal beberapa minggu sebelumnya), kalau aku seberuntung itu.."



Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kevin_Carter
http://rarehistoricalphotos.com/vulture-little-girl/

Saturday, January 23, 2016

Tragedi Kematian Omayra Sanchez


Waktu: November 1985
Tempat: Armero, Kolumbia
Fotografer: Frank Fournier

Berikut ini adalah sebuah kisah tragis tentang kematian seorang gadis belia yang menjadi korban dari bencana gempa dahsyat yang melanda wilayah Armero, Kolumbia, pada tanggal 13 November 1985.

Omayra Sanchez adalah seorang gadis cilik berusia 13 tahun yang tinggal di Armero, sebuah kota kecil di Kolumbia yang berpenduduk sekitar 31.000 orang. Sebelumnya kota tersebut bernama San Lorenzo, tapi kemudian dirubah oleh Presiden Rafael Reyes menjadi Armero pada tahun 1930 untuk mengenang José León Armero yang merupakan pahlawan kemerdekaan Kolumbia.

Pada tanggal 13 November 1985, warga kota Armero yang kecil dan tenang dikejutkan oleh letusan gunung berapi Nevado Del Ruiz. Letusan tersebut menghasilkan guncangan hebat yang meluluhlantakkan ribuan bangunan di Armero, dan masih ditambah lagi dengan muntahan lahar panas yang mengalir ke kaki gunung, membakar habis wilayah yang tertimpa oleh aliran panasnya - termasuk kota Armero.

Malam hari saat bencana terjadi, Omayra yang tinggal bersama dengan keluarganya terbangun oleh guncangan dahsyat, dan melalui siaran radio mereka mendengar bahwa lahar panas sedang mengalir menuju ke tempat mereka. Ditengah proses evakuasi menuju ke gunung terdekat, nenek Omayra terjatuh kedalam lubang saluran air. Omayra pun berhenti untuk menolongnya. Malang bagi gadis ini, setelah berhasil mengeluarkan neneknya, kakinya malah terjepit reruntuhan bangunan sehingga tidak dapat bergerak keluar.

Tim penolong yang datang tidak berhasil menariknya keluar, sementara saat itu air mulai mengalir deras dari lubang saluran air. Beberapa puing reruntuhan yang tergeser oleh air makin menghimpit Omayra. Keluarga dan beberapa penduduk lainnya hanya bisa menemani sang gadis kecil sambil menunggu datangnya tim penolong yang akan membawa peralatan yang lebih lengkap.

Tiga hari menunggu, tapi tim penolong tidak kunjung datang. Air kini telah bergerak hingga sebatas leher Omayra, dan selama itu pula - baik siang dan malam - orang-orang disekitarnya berusaha untuk menguatkannya dengan menghiburnya, mengajaknya bernyanyi, dan membantunya mengatasi ketakutannya.

Pada hari ketiga, dengan kondisi masih terjepit reruntuhan dan dalam rendaman air setinggi leher, Omayra mulai berhalusinasi. Ia berkata bahwa ia terlambat untuk berangkat ke sekolah. Tidak berapa lama kemudian ia meminta orang-orang disekitarnya untuk meninggalkannya agar ia dapat berisitirahat. Tak lama setelahnya sang gadis malang meninggal akibat gangren pada luka-lukanya dan juga hipotermia akibat terendam air selama berhari-hari.

Kru televisi yang datang untuk meliput gempa Armero juga menyiarkan liputan mengenai keadaan Omayra ke seluruh dunia. Foto yang anda saksikan diambil beberapa jam sebelum dia meninggal, dan dipublikasikan tak lama setelahnya. Reporter Cristina Echandia menyebutkan bahwa untuk seorang anak seusianya, Omayra cukup tabah dalam menghadapi keadaannya, dan bahkan hingga saat ajal menjemputnya.

Tim penolong datang terlambat akibat adanya serangan dari gerilyawan sayap kiri M-19 ke istana Mahkamah Agung Kolumbia yang berlangsung pada tanggal 6 November 1985 yang berakibat disanderanya 300 orang praktisi hukum terkemuka negara tersebut. Hal ini membuat pemerintah Kolumbia terlambat dalam mengirimkan balabantuan ke Armero karena memprioritaskan pada upaya pembebasan para sandera.

Hanya sepertiga penduduk Armero yang selamat, sementara sekitar 23.000 orang kehilangan nyawanya oleh bencana gempa bumi tersebut. Kota Armero kemudian ditutup untuk selamanya oleh pemerintah Kolumbia, sementara warga yang selamat diungsikan ke kota-kota lainnya. Armero kini hanyalah tinggal kenangan, hilang bersama dengan tragedi kematian Omayra serta ribuan orang lainnya.

Video berikut memperlihatkan rekaman saat Omayra masih hidup dan dalam keadaan terendam air hingga hampir mencapai mulutnya. Anda dapat menyaksikan ia mengucapkan salam bagi ibunya, dan meminta agar turut mendoakannya. Jutaan pemirsa diseluruh dunia menitikkan air mata menyaksikan rekaman video ini.




Sumber :
http://www.astrodigi.com/2009/11/tragedi-kematian-omayra-sanchez.html

Friday, January 16, 2015

Seorang Petani Miskin dan Anaknya yang Baru Diwisuda


Waktu: Tahun 2013
Tempat: Provinsi Nan, Thailand
Fotografer: Tidak diketahui

Tak penting kemanapun anda pergi atau di wilayah manapun anda hidup dan bernafas, anda akan selalu menemukan contoh ikatan erat orangtua dan anaknya yang berbagi cinta serta kasih sayang. Foto yang diambil di sebuah pedesaan di Thailand ini telah tersebar di jagat internet dan menghangatkan hati setiap netizen yang melihatnya. Meskipun tak banyak informasi yang tersedia tentangnya, tidak dibutuhkan seorang jenius untuk mengetahui seberapa dalam kekuatan emosional yang terkandung di dalamnya.

Berdasarkan keterangan pengantar dari Reddit dan sebuah forum Thailand, foto ini diambil tak lama setelah upacara wisuda seorang putra petani miskin dari suku Hmong yang terkenal sebagai bangsa terbelakang di Provinsi Nan, Thailand Utara. Saat ayah dan anak tersebut (yang tak diketahui namanya) berpose bersama, perbedaan "strata" antara keduanya terlihat begitu menjomplang, tapi sekaligus juga luar biasa menyentuh. Si anak, yang terlihat bangga, tanpa sungkan-sungkan berfoto bersama dengan ayah tercintanya - yang lusuh dan ekspresi kerasnya kehidupan kentara terlihat di wajahnya. Si ayah sendiri tampak sungkan karena kemungkinan takut membuat anaknya malu bila berfoto bersama dia yang hanya seorang petani miskin. Sang ayah telah kehilangan istri terkasihnya saat melahirkan anak semata wayang mereka, dan dia menghabiskan setiap hari dalam kehidupannya yang keras dan tanpa ampun untuk bekerja sekuat tenaga demi bisa membiayai anaknya mengecap pendidikan yang layak - termasuk menjual semua miliknya yang berharga. Dia telah memberikan segalanya hanya demi satu tujuan: agar anak tercintanya tidak mengalami kehidupan seperti dirinya, dan agar dia bisa berbuat lebih untuk sesamanya.

Sang anak sendiri lulus dengan nilai yang memuaskan dari Universitas Ratchpatr di Chiang Rai (Thailand Utara). Di hari kelulusannya, dia mengatakan bahwa ayahnya adalah kebanggaan terbesarnya dalam hidup. Sekarang, dengan berbekal pendidikan tinggi yang telah diraihnya, giliran dia untuk membalas jasa ayahnya yang telah memberikan segalanya untuknya.


Sumber :
http://www.viralnova.com/farmers-son-graduates/




Thursday, January 15, 2015

Eksekusi di Saigon oleh Kepala Polisi Vietnam Selatan


Waktu: Kamis, 1 Februari 1968
Tempat: Saigon, Vietnam Selatan
Fotografer: Eddie Adams dari Associated Press

Setelah Jenderal Nguyễn Ngọc Loan (Kepala Kepolisian Vietnam Selatan) mengangkat pistolnya dan menembak anggota Vietkong Nguyễn Văn Lém di kepala dengan kepala dingin, dia berjalan ke arah para wartawan dan berkata: "Orang-orang ini telah banyak membunuh rakyat kami, dan saya pikir Budha akan memaafkan tindakan saya." Peristiwa yang tidak terduga tersebut terekam oleh kamera NBC TV dan fotografer AP Eddie Adams, yang langsung menyebarkannya ke seluruh dunia dan menjadi simbol dari kebrutalan Perang Vietnam. Foto hasil jepretan Adams ini terutama menggetarkan karena diambil tepat pada saat malaikat pencabut nyawa beraksi melalui peluru yang menembus kepala si korban, dan ekspresi kesakitan terakhir dari Lém kentara sekali tergambar dari mukanya. Bila dilihat lebih jelas lagi, kita bisa mengetahui bahwa peluru menembus tengkoraknya dan tak lama kemudian darah menyembur dari lubang yang terdapat di kepalanya.

Fotografer AP Eddie Adams pernah menulis bahwa “foto adalah senjata yang paling kuat di dunia," dan perkataan ini dengan tepat sekali direpresentasikan melalui gambar eksekusi Saigon yang dibuatnya sendiri. Foto perwira polisi Vietnam yang menembak tawanannya yang terikat di kepala dalam jarak dekat ini tidak hanya membuatnya mendapatkan Pulitzer Prize di tahun 1969, tapi juga telah "meloncat" lebih jauh menjadi salah satu pendorong utama gerakan anti perang yang merebak di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan tidaklah sehitam-putih seperti yang terlihat. Apa yang tidak diungkapkan oleh foto hasil jepretan Adams tersebut adalah bahwa orang yang menjadi korban (Nguyễn Văn Lém) merupakan kapten dari "Pasukan Pembalas" Vietkong yang sebelumnya telah mengeksekusi selusin warga sipil pada hari yang sama (termasuk beberapa anggota keluarga sang jenderal polisi). Yang kemudian terjadi adalah, sang penarik pelatuk lah (Nguyễn Ngọc Loan) yang mengemuka ke permukaan sebagai penjahatnya!

Sumber Vietnam Selatan mengatakan bahwa Lém menjadi komandan dari sebuah grup pembunuh Vietkong yang di hari itu menargetkan para perwira Polisi Nasional Vietnam Selatan beserta keluarganya. Sumber yang sama mengklaim bahwa Lém juga ditangkap di sebuah lokasi kuburan massal yang berisi 12 orang - dengan tujuh diantaranya merupakan anggota keluarga perwira polisi. Fotografer Adams membenarkan keterangan dari sumber resmi Vietnam Selatan tersebut meskipun dia sendiri tidak hadir pada saat penangkapan Lém tapi hanya pada saat pengeksekusiannya oleh Loan. Setelah ditangkap, Lém dihadapkan pada sang pimpinan polisi, yang kemudian menginterogasinya sebentar sebelum menembaknya menggunakan pistol Smith & Wesson kaliber 38.
Adams mengatakan bahwa dia sangat bersimpati pada sang algojo polisi dan mengharapkan bahwa, kalaulah waktu bisa diulang kembali, dia tak akan pernah mempublikasikan foto tersebut. Memang dari sejak foto jepretan Adams menyebar, Loan menjadi "penjahat kemanusiaan" di mata masyarakat Barat, dan kehidupannya begitu terganggu sehingga dia kemudian dipaksa untuk menutup warung pizza yang dikelolanya di pengasingan di Amerika. Mengenai hal ini, Adams berkata: "Sang jenderal telah membunuh Vietkong dengan pistolnya, sementara aku telah membunuh sang jenderal dengan kameraku."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/saigon-execution-murder-vietcong-saigon-1968/



Wednesday, December 17, 2014

Pemain Biola Belia Menangis di Pemakaman Gurunya


Waktu: Bulan Oktober 2009
Tempat: Rio de Janeiro, Brazil
Fotografer: Tidak diketahui

Seorang pemain biola berusia 12 tahun asal Brazil bernama Diego Frazão Torquato menangis saat pemakaman guru musik yang sangat disayanginya. Sang guru telah mengangkatnya dari lubang kemiskinan dan pengaruh buruk dari kehidupan keras di lingkungannya melalui musik semata.

Diego Frazão Torquato - dikenal dengan nama "Violin Diego" - adalah seorang pemain biola belia dari Brazil yang merupakan bagian dari kelompok orkestra berdawai "Afroreggae" dan menjadi simbol akan harapan dalam memerangi kemiskinan serta peredaran obat-obat terlarang yang menimpa banyak remaja-remaja Brazil di sudut-sudut terkumuh Rio de Janeiro. Dari sejak masa kecilnya Diego telah didiagnosa menderita meningitis leukemia, tapi dia tak pernah kehilangan minatnya dalam bermusik, apalagi setelah mendapat bimbingan dari Evandro João da Silva, pimpinan sebuah organisasi non-komersial "Afroreggae" yang membantu mengangkat kepercayaan dirinya dan menjauhkannya dari pengaruh buruk lingkungan sekitar yang telah banyak menjerat anak-anak usia sebayanya.

Evandro João da Silva sendiri terbunuh secara tragis setelah menjadi korban dari upaya perampokan dengan kekerasan yang terjadi di jalanan Rio de Janeiro pada tanggal 18 Oktober 2009 dinihari saat sedang berjalan di sudut antara Rua do Ouvidor dan Rua do Carmo. Kasus ini mencuat ke permukaan bukan hanya karena yang menjadi korban adalah orang yang dikenal luas melalui aktivitas amalnya, tapi juga karena rekaman CCTV yang tersebar setelahnya memperlihatkan dengan jelas bahwa dua orang polisi yang datang tak lama kemudian sama sekali tak menolong Evandro - yang merintih kesakitan setelah tertembus peluru - malahan melepaskan orang yang merampoknya setelah disogok dengan sejumlah uang! Tidak hanya itu, pelayan-pelayan masyarakat tersebut kemudian menggeledah baju Evandro dan membawa barang-barang miliknya ke mobil polisi.

Dunia internasional ikut menyoroti kasus yang memalukan ini dan Le Monde menyebutnya sebagai "membuka infeksi menahun di jantung aparat kepolisian Rio de Janeiro" yang terkenal sangat korup. Pemerintah Brazil langsung melakukan investigasi besar-besaran terhadap kasus ini dan akhirnya menjebloskan Marcus de Oliveira Salles dan Denis Leonard Nogueira Bizarro, dua orang aparat yang menjadi sorotan publik, ke dalam penjara. Orang yang merampok dan membunuh Evandro juga berhasil dikenali dan dipenjarakan.

Upacara penguburan Evandro João da Silva dilaksanakan di Pemakaman São Francisco Xavier di Caju yang berada di Rio utara. Dalam acara yang diliputi oleh kesedihan teramat dalam tersebut Diego Frazão Torquato dan rekan-rekannya membawakan eulogi untuk guru tercinta mereka dalam bentuk musik sambil mengenakan kaos "Afroreggae" yang menjadi kebanggaan mereka. Saat membawakan lagu, Diego tak dapat menahan kesedihan atas kehilangan yang dirasakannya dan mulai menangis. Cuplikan fotonya kemudian dipublikasikan oleh surat kabar O Globo, yang mengatakannya sebagai "salah satu peristiwa mengesankan yang terjadi baru-baru ini".

Pada tahun 2010 surat kabar yang sama menganugerahi Diego dengan "Make a Difference Award". Sayangnya, sang bocah berbakat meninggal tak lama setelahnya, tanggal 1 April 2010 dalam usia 13 tahun, di Duque de Caxias karena penyakit leukemia yang telah lama dideritanya.


Sumber :
 https://www.facebook.com/DivaInTrainingDesigns/posts/589490801070534
http://riotimesonline.com/brazil-news/rio-politics/outrage-over-afroreggae-killing/#

Tuesday, December 16, 2014

Albert Einstein di Pantai Tahun 1939


Waktu: Bulan September 1939
Tempat: Long Island, New York, Amerika Serikat
Fotografer: Tidak diketahui

Foto ini diambil pada bulan September 1939 dan memperlihatkan ilmuwan terkenal Albert Einstein sedang bersantai di sebuah pantai di dekat rumah musim panasnya di Long Island, New York. Orang di sebelah kirinya adalah David Rothman yang merupakan teman sekaligus pemilik department store lokal. Rothman mengenang bahwa pada awal Einstein berbelanja disana terjadi peristiwa lucu ketika dia memesan, dengan aksen Jermannya yang kental, sepasang "sundahls" (sandal), yang disangka Rothman sebagai "sundial" (jam matahari)! Sang ilmuwan akhirnya berhasil mengatasi kesalahpahaman bahasa itu dan membeli sandal putihnya seharga $1.35. Setelahnya Einstein tertawa dan menyalahkan "aksen bicara saya yang mengerikan." Kedua orang ini kemudian menjadi sahabat dekat dan malah tinggal dalam satu blok yang sama bersama dua keluarga lainnya.

Pada tahun 1939 Einstein menyewa sebuah cottage di Nassau Point/Cutchogue sehingga dia bisa menambatkan perahu layarnya di Horseshoe Cove. Bagi Einstein, Long Island hanyalah berarti tempat dimana dia bisa bersantai dan beristirahat dari aktivitasnya yang padat. Para tetangganya menyebut bahwa dua aktivitas utama sang ilmuwan disana adalah berlayar dan bermain biola. Einstein, yang tidak pernah belajar berenang, menamakan perahu layar kecilnya - dengan panjang 4,5 meter - sebagai "Tinef", yang berarti "Sampah" dalam bahasa Yahudi.

Sebelum musim panas tahun 1939 tersebut berakhir dia akan menulis surat pada Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt yang memperingatkan bahwa Amerika tidak dapat hanya diam menunggu sementara Nazi Jerman kemungkinan besar sedang dalam proses membuat senjata nuklir.

Einstein sendiri menjadi legenda karena kebiasaannya yang ogah memakai kaos kaki. Dia melakukannya karena mempunyai masalah dengan kakinya di sepanjang hidupnya, dimana dia mempunyai kaki yang datar dan menderita varises. Ketika dia berimigrasi ke Swiss Einstein disuruh untuk menghadap oleh petugas militer untuk melakukan tes kesehatan. Disinilah kakinya "divonis" mempunyai alas yang datar, sering berkeringat dan mempunyai pembuluh darah varises. Karenanya dia digolongkan sebagai "Tidak Lulus A" oleh komite penguji. "A" berarti bahwa dia hanya bisa digunakan untuk "tugas-tugas membantu saja". Meskipun begitu, Angkatan Darat Swiss tidak pernah memerintahkan Einstein untuk melakukan tugas-tugas pelayanan tersebut. Einstein sendiri mempunyai alasan lain tentang kebiasaannya yang hampir tidak pernah memakai kaos kaki: "Ketika saya muda, saya menemukan bahwa jempol kaki saya yang besar selalu membuat kaos kaki saya bolong. Karenanya saya berhenti memakai kaos kaki."


Sumber :
http://rarehistoricalphotos.com/einstein-at-the-beach-1939/

Saturday, December 13, 2014

Dokter Bedah Jantung Memonitor Pasiennya Pasca Operasi Transplantasi Jantung di Polandia


Waktu: Tahun 1987
Tempat: Polandia
Fotografer: James Stanfield

Dr. Zbigniew Religa memonitor perkembangan fungsi vital dari pasiennya, melalui peralatan medis yang sudah ketinggalan zaman dan membutuhkan pengawasan terus menerus, tak lama setelah operasi transplantasi jantung yang berlangsung selama 23 jam penuh. Salah seorang asistennya, yang telah membantunya dalam dua transplantasi sebelumnya, tertidur kelelahan di pojok kanan ruang operasi.

Dr. Religa (16 Desember 1938 - 8 Maret 2009) adalah seorang dokter jantung terkemuka asal Polandia yang berambisi untuk melakukan operasi transplantasi jantung pertama di negaranya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut dia mengumpulkan para "awaknya" sendiri dan membentuk apa yang dinamakan sebagai "Katedral dan Klinik Operasi Jantung" di Zabrze. Pada tanggal 15 Agustus 1985 dia berhasil menyelesaikan operasi gagal jantung pertama di Polandia, dilanjutkan dengan operasi transplantasi jantung pertama tanggal 5 November 1985. Pasiennya mampu hidup selama dua bulan setelah operasi dan meninggal karena sepsis setelah tubuhnya tak mampu lagi menerima obat-obatan penguat kekebalan tubuh untuk menangkal infeksi pasca-operasi.

Pada tahun 1987 Dr. Religa melakukan operasi transplantasi jantungnya yang keempat dimana pasiennya mampu hidup selama tujuh tahun setelahnya. Foto setelah operasinya kemudian dimuat oleh majalah National Geographic dan ditahbiskan menjadi "Foto of the Year" di tahun itu serta termasuk ke dalam 100 foto terbaik sepanjang sejarah versi majalah tersebut.

Karena prestasi-prestasinya itulah Dr. Religa disebut sebagai pionir operasi bedah jantung di negaranya. Dia kemudian terlibat dalam banyak penelitian tentang masalah jantung, dan sempat menjadi Menteri Kesehatan Polandia periode 2005-2007. Ironisnya, sang pakar medis meninggal dunia pada tahun 2009 karena tumor serta kanker paru-paru yang diakibatkan karena terlalu banyak merokok! Sebuah film telah dibuat tentangnya pada tahun 2014 yang berjudul "Bogowie" (Tuhan-Tuhan).


Sumber :
https://www.tumblr.com/search/zbigniew+religa

Friday, December 5, 2014

Patung Liberty dalam Proses Pembuatan


Waktu: Tahun 1885
Tempat: Prancis
Fotografer: Tidak diketahui

Ketika seorang politisi Prancis memberi usulan - dalam sebuah jamuan makan malam di tahun 1865 - bahwa sebuah monumen harus dibangun sebagai penghormatan bagi peringatan 100 tahun kemerdekaan Amerika Serikat , dia mungkin tidak akan membayangkan bahwa hasilnya akan menjadi ikon internasional untuk kemerdekaan yang paling terkenal!

Édouard René de Laboulaye adalah seorang suporter gigih pihak Union (Utara) dalam Perang Saudara Amerika (1861-1865), dan sangat gembira manakala mengetahui bahwa pihak yang didukungnya mampu mengalahkan Konfederasi (Selatan) sekaligus mengakhiri perbudakan di negara tersebut. Dalam sebuah pembicaraan di rumahnya di Paris, Laboulaye mengatakan: "Bila sebuah monumen harus didirikan di Amerika Serikat sebagai peringatan untuk kemerdekaan mereka, maka menurutku adalah sebuah hal yang pantas bila dia dibangun dengan usaha bersama diantara kedua negara, Amerika dan Prancis."

Dia tidak memaksudkan mengartikan komentarnya sebagai proposal, tapi itulah yang kemudian terjadi ketika perkataannya didengar oleh salah seorang tamu yang hadir saat itu, seorang pematung bernama Frédéric Bartholdi yang setuju bahwa proyek tersebut akan dikerjakan oleh Prancis dan Amerika bersama-sama. Tak lama kemudian Bartholdi telah menyelesaikan desain sebuah patung beraliran neoklasik dari dewa kemerdekaan/kebebasan Romawi, Patung Liberty. Tapi karena situasi politik yang memanas di Prancis pada waktu itu membuat pengerjaannya baru bisa dimulai pada tahun 1870-an.

Sang pematung baru saja memulai pengerjaan bagian kepala dan lengan pemegang obor ketika - pada tanggal 3 Maret 1877 - Presiden Amerika Serikat Ulysses S. Grant akhirnya menandatangani resolusi bersama yang mengotorrisasi sang presiden untuk menerima patung tersebut manakala dia dipersembahkan oleh Prancis. Resolusi tersebut menyebutkan pula bahwa Prancis akan menyediakan patungnya sementara Amerika podium tempat berdirinya. Lokasi penyimpanan patung tersebut ditentukan di Bedloe's Island (nantinya menjadi Liberty Island) di luar Manhattan, New York.

Setelah mendapat konfirmasi dari Amerika, Bartholdi segera kembali ke Paris untuk menyelesaikan bagian kepala yang kemudian dipamerkan di Paris World Fair tahun berikutnya (1878). Pada tahun 1885 dia akhirnya dirakit dan dikirimkan ke New York. Sebuah upacara untuk menghormati penyambutannya digelar pada tanggal 28 Oktober 1886 dimana hasil kerja keras Bartholdi (serta Gustave Eiffel, perancang Menara Eiffel yang ikut membantunya) dipamerkan dalam sebuah parade yang ditonton oleh ratusan ribu orang Amerika.



Sumber :
http://www.dailymail.co.uk/news/article-2163131/Bon-voyage-Unearthed-photos-Statue-Liberty-built-Paris-dedicated-American-people.html